
Setelah memastikan Caitlyn pergi dari rumah, Ariana baru membuka pintu kamar Chloe dan Wayne. Sambil menangis histeris Wayne berlari menuju kamar sang kakak dan memeluknya erat.
"Nenek jahat!" teriak Chloe yang turut terisak. "Kami ingin ibu! Kami ingin pulang bersama ibu!" sambungnya keras.
"Diam! Kalian ini masih kecil, tahu apa soal Nenek dan ibu kalian? Orang yang pantas kalian anggap jahat itu ya ibu kalian!" bentak Ariana.
Chloe sontak menggelengkan kepala. "Tidak! Nenek lah yang jahat! Nenek yang selalu menyakiti Ibu, dan Nenek juga lah yang sudah mengusir kami keluar setelah ayah meninggal."
Ariana menatap sinis kedua cucunya. "Dasar bocah-bocah tidak tahu diatur. Tutup mulut kalian dan tetaplah di sini!"
Setelah berkata demikian, Ariana menyuruh kedua pengasuh mereka untuk mengunci kamar Chloe dan tidak membiarkan seorang pun keluar dari sana.
Tangis Wayne semakin keras. Berkali-kali dia memanggil-manggil ibunya.
Chloe berusaha menenangkan Wayne sekaligus membujuknya untuk tidak menangis lagi. Bahkan, gadis kecil itu terpaksa membohongi sang adik, agar berhenti menangis.
"Dengar aku, Wayne! Diam dan dengarkan aku! Papa akan membawa kita pulang, jadi kau harus bisa menahan air matamu, oke? Berhentilah menangis. Ingat, ibu tidak suka kita tumbuh menjadi anak cengeng!"
Wayne mulai memelankan suara tangisannya. "Tapi, Chloe juga menangis," ujar Wayne polos, sembari menghapus air mata sang kakak.
"Sekarang tidak. Kau lihat, kan?"
Wayne mengangguk.
"Bertahanlah." Chloe menghapus jejak-jejak air maya Wayne. Dia juga memapah adik kecilnya tersebut ke atas ranjang dan kembali memeluk tubuh itu.
__ADS_1
Chloe sama sekali tidak memerdulikan rasa lapar yang mulai menyiksanya. Pikiran gadis itu kini hanya soal ketenangan sang adik saja.
...**********...
Sean mengerutkan keningnya dalam-dalam, tatkala mendapati raut tak enak dari seluruh asisten rumah tangga, setibanya di rumah. Beberapa bahkan terlihat hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak memiliki keberanian.
Hal tersebut tentu saja memancing rasa penasaran Sean. "Ada apa ini?" tanya pria itu tanpa basa-basi.
Mendapat pertanyaan demikian dari sang majikan, mereka saling bertukar pandangan sejenak. Sampai pada akhirnya salah satu di antara mereka maju menghampiri Sean. Asisten tersebut tampaknya tak peduli pada perintah Ariana untuk menutup mulut rapat-rapat.
"Tuan, tadi siang Nona kecil dan Tuan kecil dikurung di kamar oleh Nyonya Ariana," ujar sang asisten rumah tangga memulai perkataannya.
Sean terkejut. "Apa? Memang, apa yang terjadi?" tanya pria itu. Garis-garis wajahnya terlihat mengeras menahan emosi.
Asisten rumah tangga tersebut bergeming. Kepalanya tertunduk sejenak. Dengan suara kecil dan sedikit terbata-bata, dia pun memberitahu Sean soal kedatangan Caitlyn, dan perlakuan Ariana pada wanita itu.
Beberapa saat kemudian, suara hantaman terdengar dari lantai dua, disusul dengan suara teriakan sang nyonya rumah. Beberapa asisten rumah tangga bergegas lari menuju ke kamar Chloe dan Wayne untuk berjaga-jaga, sekaligus melindungi mereka.
"APA-APAAN KAU, SEAN!" teriak Ariana. Wajahnya tampak syok melihat pintu kamarnya yang kini rusak parah. Belum lagi darah yang mengalir dari kepalan tangan Sean.
"Apa yang sudah Mama lakukan pada istriku?" ucap Sean dingin. Napasnya terdengar memburu, seolah tengah menahan diri untuk tidak mencaabbik-caabbik tubuh wanita yang telah melahirkannya itu.
Ariana berusaha tak gentar akan aura menyeramkan yang keluar dari tubuh Sean. "Mama hanya menyuruhnya untuk pergi dari rumah ini, karena dia tak berhak menginjakkan kakinya di sini." Jawab wanita itu santai.
Sean merapatkan gigi-giginya. "Lihat apa yang sudah Mama lakukan pada Chloe dan Wayne. Biar bagaimana pun Caitlyn adalah ibu dari Chloe dan Wayne, dan sampai detik ini dia juga masih menjadi menantu Mama."
__ADS_1
Ariana mendecih. "Cih, jangan bercanda Sean. Sampai mati pun Mama tidak akan pernah menganggap gadis kampungan itu bagian dari keluarga ini."
Mendengar jawaban Ariana, Sean naik pitam. Dia berjalan mendekati sang ibu sambil menatapnya bengis.
"Mau apa kau, Sean? Aku ibumu!" seru Ariana ketakutan. Matanya melirik tangan kanan Sean yang masih terkepap dan berdarrah.
Sean tidak menjawab. Dia terus melangkah hingga Ariana terjebak di dinding kamarnya.
"S—sean!" teriak Ariana ketakutan. Tubuhnya bahkan sudah gemetaran hebat.
Saat itu lah, Sean berbisik sinis di telinga sang ibu. "Penyesalan seumur hidupku, adalah kembali padamu."
Setelah berkata demikian, Sean bergegas pergi dari sana menuju kamar Chloe.
Chloe dan Wayne terlihat masih tertidur, saat Sean tiba. Perlahan, dia membangunkan mereka berdua.
"Papa!" pekik Chloe sembari memeluk erat leher sang ayah. Wayne pun turut demikian.
"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Sean khawatir.
"Aku lapar, Pa," jawab Wayne. "Aku juga," kata Chloe sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri.
Sean menatap keduanya dengan perasaan bersalah. Andai saja dia bisa lebih tegas melawan sang ibu, mungkin istri dan anak-anaknya tidak akan mengalami kejadian buruk seperti ini.
"Nanti kita akan makan di luar. Sekarang ganti pakaian kalian dulu!" titah Sean.
__ADS_1
Chloe dan Wayne serempak menganggukkan kepala.