
Proses pemakaman Jacob berjalan dengan lancar. Pria itu disemayamkan di rumah duka selama tiga hari terlebih dahulu, sebelum akhirnya dimakamkan.
Kehebohan sempat terjadi di rumah duka, ketika seluruh keluarga besar, kerabat, mau pun rekan-rekan kerja yang hadir melayat mendapati sosok Sean (sebagai Owen) di sana.
Sean dan Ariana memang sepakat untuk tetap menggunakan identitas Owen, demi menutupi peristiwa yang sebenarnya. Biar bagaimana pun juga, nama baik keluarga mereka dipertaruhkan.
Sehari setelah pemakaman sang suami, Ariana langsung meminta Sean untuk menggantikan posisi ayahnya di kantor.
Sean tentu saja menolak. Dia bersikeras akan pulang ke Inggris, karena bagaimana pun hidupnya sekarang berada di sana. Terlebih, Sean kini memiliki Caitlyn.
"Kau tidak bisa kembali Sean! Tak ada penerus keluarga Edmund yang pantas selain dirimu!" tegas Ariana. "Lagi pula, Mama tidak akan membiarkan kau kembali pada wanita pembawa siaal itu!" sambungnya.
"Ma!" sentak Sean.
"Oke, kalau begitu Mama akan memberi pilihan padamu, Sean. Kau tetap di sini sebagai Owen, atau kembali pada Caitlyn sebagai Sean?" ancam Ariana.
Owen menggeretakkan gigi-giginya. Makam sang ayah belum juga kering, tetapi Ariana sudah kembali mengajaknya ribut.
"Mama tak bisa mengancamku!" desis Sean marah.
"Tentu saja bisa! Kau sepertinya tidak takut dengan ancaman Mama, Sean?" Sean tersenyum sinis. "Baik, kita lihat seperti apa reaksinya setelah tahu, bahwa kau bukanlah Owen, dan suami yang dulu dinikahinya bukanlah dirimu. Ingat Sean, wanita itu lah penyebab kematian ayahmu. Jadi, Mama tidak akan pernah rela melihat dia kembali ke keluarga ini!" seru Ariana.
Wajah Sean merah padam menahan emosi, tetapi pria itu tak mampu mengeluarkan suaranya.
Sean tidak bisa menampik perasaan takutnya, bila Ariana benar-benar akan membocorkan segalanya pada Caitlyn.
__ADS_1
Sean tak berani membayangkan betapa kecewanya Caitlyn, jika mengetahui bahwa selama ini dia hidup di bawah tipu muslihat sang adik kembar. Belum lagi, Caitlyn butuh waktu untuk memulihkan diri dari keterpurukannya di masa lalu. Jadi, sudah sepantasnya dia dapat menikmati hidup bahagia seperti sekarang.
Sean bergerak gelisah. Apa yang harus dia lakukan? Menuruti kemauan sang ibu, atau tetap bersikeras kembali pada Caitlyn?
Jika Sean terpaksa menurut, maka Caitlyn hanya akan kehilangan dirinya, tetapi bisa tetap hidup tanpa menanggung beban pikiran. Namun, bila Sean bersikeras ingin kembali, maka dia harus menanggung segala resiko, termasuk kehilangan cinta dari Caitlyn.
Dua-duanya merupakan pilihan yang sulit bagi Sean.
"Brenggseek!" umpat pria itu.
...**********...
Sudah satu minggu kondisi kesehatan Caitlyn menurun. Hal itu terjadi setelah lebih dari dua minggu, dia kehilangan kontak dengan suami dan anak-anaknya.
Ketika Caitlyn memutuskan untuk pergi ke Inggris, tiba satu buah pesan singkat dari nomor asing datang ke ponselnya.
Caitlyn terbelalak, sebab pesan singkat tersebut ternyata merupakan kiriman dari Chloe. Gadis kecil itu baru saja memberi kabar soal kematian Jacob, sekaligus meminta sang ibu untuk menjemput mereka.
Sejak kematian sang kakek, Ariana memang melarang Chloe dan Wayne menghubungi Caitlyn lagi. Kedua pengasuh barunya selalu saja mengawasi tiap gerak gerik gadis kecil tersebut. Beruntung, di satu kesempatan, Chloe bisa mengirimkan pesan pada Caitlyn.
Caitlyn tidak menyia-nyiakan kesempatan. Wanita itu langsung memesan tiket pesawat dan terbang ke New York saat itu juga.
Akan tetapi, alih-alih mendapatkan sambutan manis dari suami dan kedua anaknya setiba di sana, Caitlyn malah mendapatkan tamparan keras dari Ariana.
Ariana merasa leluasa berbuat keji pada Caitlyn, sebab Sean sedang berada di kantor saat ini. Sementara Chloe dan Wayne dikurung oleh pengasuh mereka di kamar masing-masing, atas perintah Ariana.
__ADS_1
"Karena kau lah, Suamiku meninggal. Jadi, untuk apa kau datang kemari lagi, wanita siaal tak tahu malu!" bentak Ariana.
"Memangnya dosa apa yang telah kulakukan Ma?Mengapa aku tidak diperkenankan menemui Papa untuk terakhir kali? Lalu, mengapa Mama melarang Owen dan anak-anak untuk menghubungiku? Aku ingin menemui dan menjemput mereka pulang, Ma." Tanpa menghiraukan rasa sakit akibat tamparan sang ibu mertua, Caitlyn membuka suaranya.
Mendengar hal tersebut, Ariana tertawa sinis. "Renungkan sendiri kesalahanmu, yang jelas mulai saat ini, pergilah dari hidup kami! Aku tidak akan membiarkan kau menyentuh anak dan cucu-cucuku lagi!"
Caitlyn terbelalak. "Dulu Mama bahkan tak pernah benar-benar menganggap mereka cucu. Lalu, mengapa sekarang Mama bersikeras memisahkan kami?"
Ariana tidak menjawab. Dia hanya terus berteriak menyuruh Caitlyn untuk pergi dari sana.
Caitlyn tetap menolak keras. Sebagai seorang ibu yang sudah berjuang melahirkan mereka, Caitlyn tentu tidak rela dipisahkan. Wanita itu bahkan mencoba bersimpuh di kaki Ariana demi meminta kembali anak-anaknya.
"Bu! Ibu!"
Tangisnya pecah mendengar teriakan Chloe dan Wayne yang memanggil dirinya, sekaligus meminta dibukakan pintu.
Sudah satu bulan lebih Caitlyn tidak bertemu dengan anak-anaknya, kini dia hanya bisa mendengar teriakan mereka yang menyayat hati.
Ariana dengan tatapan jijik mendorong Caitlyn hingga terjerembab di lantai.
"Pergi dari rumahku, wanita siaal!" bentak Ariana. Dia pun memerintahkan para penjaga untuk menyeret Caitlyn keluar. Ariana tak ingin Caitlyn sampai berpapasan dengan sang putra, jika lebih lama berada di sini.
"Chloe! Wayne!"
Mendengar teriakan Caitlyn, Chloe semakin keras menggedor-gedor pintu kamarnya. Gadis itu bahkan tidak peduli pada memar yang mulai timbul di kedua tangannya. Namun, semua usaha Chloe sia-sia. Pintu tak juga terbuka, dan suara sang ibu kini menghilang tak lagi terdengar.
__ADS_1