
"Mr. Owen, pulang cepat lagi?" Simon, rekan kerja sekaligus dosen senior, menyapa Owen yang sedang berjalan menyusuri koridor kampus menuju ruangannya.
Owen tersenyum. Pria itu menyapa Simon singkat, sebelum kemudian menjawab pertanyaan pria itu. "Ya."
"Apa ada hal yang menarik? Pasalnya, sudah seminggu terakhir ini kau pulang tepat waktu. Tak hanya itu saja, kau bahkan menolak tawaran berkumpul bersama," ujar Simon.
Owen membuka pintu ruang dosen dan mempersilakan Simon untuk masuk terlebih dahulu. Sejak awal Owen bergabung di kampus sebagai dosen magang, sang ayah angkat sebenarnya sudah mengistimewakan pria itu dengan memberikan ruangan khusus untuk dirinya sendiri. Namun, Owen jarang menggunakannya. Dia lebih senang berbaur bersama rekan-rekan yang lain.
"Well, aku memang punya hal menarik di rumah," jawab Owen saat dirasa sudah aman dari hiruk pikuk orang-orang kampus. Sebab, ruangan ini masih terlihat sepi.
Mendapati jawaban Owen, ditambah raut wajahnya yang sumringah, Simon sontak bersemangat. Pria berperawakan brewok itu mulai mendekati Owen untuk menanyakan lebih lanjut.
"Jadi, apa hal menarik itu?" tanya pria berusia 45 tahun itu dengan tatapan menggoda.
Owen menoleh ke arah Simon dan mengangkat bahunya. "Rahasia." Jawabnya singkat, yang langsung memancing keluhan sang rekan kerja.
"Oh, ayolah! Bocorkan sedikit, agar aku bisa ikut merasakan euforia itu sebagai rekan kerjamu!" desak Simon frustrasi. Pria itu benar-benar penasaran akan maksud dari perkataan Owen.
Owen terdiam sejenak. Dia tampak menimbang-nimbang desakan Simon. Owen sebenarnya paham benar, Simon bukan orang yang suka mengurusi hidup orang lain, apa lagi sampai membocorkannya ke publik. Oleh sebab itu, dia merasa lebih nyaman berbincang sedikit mendalam dengan Simon.
"Akhir bulan ini aku akan segera menikah," jawab Owen tanpa beban.
"APA?"
Owen terkejut bukan main mendengar teriakan seseorang. Pasalnya, teriakan tersebut bukan berasal dari mulut Simon, melainkan dari dua orang mahasiswa yang baru saja masuk ke dalam ruangan untuk menyerahkan tugas.
"Mr. Owen, Anda benar-benar akan menikah?"
"Aku tidak terima! Siapa wanita beruntung yang telah mematahkan hati kami?"
Owen tampak kebingungan, saat dua mahasiswi tersebut mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Matanya sontak menoleh ke arah Simon untuk meminta bantuan.
__ADS_1
"Hei, hei, girls, jangan mendesaknya. Biarkan dosen idola kita berbahagia, oke? Memangnya kalian mau, beliau hidup melajang sampai tua?" kata Simon yang secara tidak langsung justru membenarkan pernyataan Owen tadi.
Kedua mahasiswi itu tampak lesu. Mereka membenarkan perkataan Simon, dan langsung mengucapkan selamat pada Owen.
Owen mendengkus lalu tersenyum simpul. Langkah Simon benar, seharusnya dia tak perlu menyembunyikan kabar bahagia ini.
"Terima kasih," ucap Owen tulus. Sepertinya, dia harus bersiap dengan kehebohan esok hari di kampus.
...**********...
Owen tiba di rumah pukul empat sore. Begitu turun dari mobil, pria itu mendapati Chloe dan Wayne sedang bertengkar di taman. Dua orang asisten rumah tangga yang bertugas menjaga mereka, terlihat berusaha mendamaikan keduanya.
"Ada apa ini?" tanya Owen saat tiba di hadapan mereka.
"Uncle!" teriak Chloe sambil berlari memeluk kakinya. Wayne tidak mau kalah, bocah kecil itu turut memeluk kaki Owen yang lain. Kedua mata mereka terlihat sembab.
"Mereka saling merebut kupu-kupu yang kami tangkap Tuan. Sayangnya, kupu-kupu tersebut malah pergi menjauh." Salah seorang asisten rumah tangga yang menjaga Wayne akhirnya memberikan jawaban.
Chloe dan Wayne saling berpandangan terlebih dahulu, sebelum kemudian mengangguk pada Owen.
"Kalau begitu, kalian harus berbaikan terlebih dahulu. Bukankah Ibu kalian pernah mengajarkan untuk tidak saling menyakiti satu sama lain?"
Chloe terdiam. Gadis itu tidak berusaha membela diri karena sadar, bahwa apa yang dilakukannya tidaklah benar. Sebagai seorang kakak, seharusnya dia lebih mengalah.
Alhasil, Chloe meminta maaf terlebih dahulu pada Wayne. Wayne pun turut meminta maaf. Meski usia keduanya masih sangat belia, tampaknya Caitlyn berhasil mendidik mereka menjadi anak yang baik.
Owen tersenyum. Tanpa pikir panjang, Owen pun menggendong keduanya menuju taman belakang.
Di sana mereka bisa melihat sebuah rumah kaca berukuran cukup besar. Owen berjalan menuju tempat itu bersama Chloe dan Wayne. Sementara kedua asisten tersebut mengikutinya dari belakang.
Mata Chloe dan Wayne sontak berbinar-binar mengetahui ada banyak tanaman warnq-warni di sana. Tak hanya itu saja, di hampir setiap sudut rumah kaca tersebut terdapat banyak kupu-kupu dari berbagai ukuran. Owen lantas menurunkan mereka dan membiarkan kedua anak tersebut berlarian ke sana kemari.
__ADS_1
Owen tertawa kecil.
"Kau sudah pulang?" Caitlyn tiba-tiba datang menyusul mereka. Rupanya dia turut mengikuti Owen, saat hendak menyusul kedua anaknya.
Owen menoleh ke arah Caitlyn. "Mereka lucu sekali," ucap pria itu.
Caitlyn tersenyum. "Selama tinggal di sini, aku baru tahu ada tempat seindah ini," ujarnya kemudian.
Owen menghela napas, lalu memandangi setiap jengkal tempat tersebut. "Ini adalah rumah kaca milik almarhum ibu angkatku. Beliau lah yang merawat semua tanaman di sini dengan tangannya sendiri. Tempat ini juga merupakan salah satu tempat terfavoritku di rumah. Namun, setelah beliau meninggal, aku tidak pernah berani menginjakkan kaki ke sini lagi." Ada kesedihan yang terlihat di raut wajah Owen saat mengatakannya.
Caitlyn menyentuh lengan Owen lembut. "Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Owen tersentak. "Ahh, maaf, aku jadi aneh begini. Memalukan sekali." Tawanya terdengar dipaksakan.
"Tidak ada yang aneh dengan seorang anak yang sangat mencintai ibunya," ucap Caitlyn tersenyum.
"Kau benar. Namun, rasanya cukup aneh karena aku tidak merasakan hal yang sama dengan ibu kandungku," ujar Owen.
Caitlyn terdiam. Hubungan keluarga Edmund memang kurang harmonis. Sean dan Owen jarang sekali mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua. Yang bisa mereka berikan hanya peraturan-peraturan ketat yang harus dituruti.
"Kau berhak menentukan perasaanmu." Hanya itulah yang bisa Caitlyn katakan pada Owen.
Demi menghilangkan suasana yang mulai terasa tidak nyaman, wanita itu pun menyuruh Owen untuk masuk ke dalam rumah.
"Kemarikan tasmu," pinta Caitlyn, saat keduanya berjalan menjauhi rumah kaca dan membiarkan kedua putra-putrinya bermain di sana.
Awalnya Owen tampak bingung, tetapi sedetik kemudian pria itu akhirnya dapat memahami maksud Caitlyn.
Sembari memasang wajah tersenyum, Owen menyerahkan tasnya untuk dibawa Caitlyn. Rupanya, wanita itu sedang berusaha membiasakan diri menjadi seorang istri.
"Terima kasih, calon istriku," ucap Owen tulus.
__ADS_1
Caitlyn salah tingkah. Namun, seolah tidak terpengaruh dengan kata-kata Owen barusan, dia pun menganggukkan kepalanya.