Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
23. Fakta Mengejutkan.


__ADS_3

Caitlyn tak henti-hentinya melebarkan senyum sumringah, ketika akhirnya Owen, Chloe, dan Wayne menghubungi wanita itu melalui sambungan video call.


Owen memang baru bisa menghubungi dirinya dua hari kemudian, karena fokus menemani Jacob terlebih dulu. Berkat kehadirannya jugalah, sang ayah bersedia melakukan pemeriksaan ke rumah sakit lagi.


Walau pemulihan mustahil dapat dilakukan, setidaknya mereka menolak menyerah begitu saja.


Caitlyn sama sekali tidak keberatan. Dia malah senang mendengar cerita Owen, perihal hubungannya bersama Ariana dan Jacob kini sudah membaik. Pria itu memang sengaja tidak menceritakan bagian penghinaan Ariana, demi menjaga perasaan sang istri tercinta.


"Papa berkali-kali menanyakan keberadaanmu," kata Owen memberitahu.


"Kami memang tak banyak berbincang saat bertemu kemarin," ujar Caitlyn.


Keduanya pun mengobrol selama beberapa saat, sebelum kemudian membiarkan Chloe dan Wayne berbincang dengan sang ibu.


Caitlyn begitu sabar mendengarkan setiap celotehan yang keluar dari mulut kedua putra-putrinya tersebut. Terutama Wayne, yang ternyata menemukan kesenangan baru di sana, yaitu bermain bersama anjing James.


James memang sengaja membawa anjing peliharaannya ke rumah keluarga Edmund untuk menghibur kedua anak tersebut.


"Bu, setelah pulang nanti, bolehkah kita memelihara seekor anjing saja?" pinta Wayne dengan tatapan memohon.


Caitlyn berpura-pura menimbang-nimbang permintaan Wayne. "Hmm, bagaimana ya?"


"Please, Papa sudah setuju. Papa janji akan membelikan seekor anjing besar untukku," sambung Wayne.


Caitlyn menoleh ke arah Owen. Wanita itu berpura-pura memarahi sang suami, yang justru mengundang gelak tawa pria itu.


"Baiklah. Akan tetapi, Wayne harus berjanji untuk merawat anjing tersebut. Memelihara hewan, berarti kau harus menanggung tanggung jawab juga. Bisa?" tanya Caitlyn.


Wayne mengangguk antusias. Chloe pun turut senang dan berjanji akan membantu Wayne merawat anjing mereka kelak.


"Kalau begitu, minggu depan kita akan mencari anjing bersama ya, Bu?" ujar Chloe senang.


Mendengar hal tersebut, Caitlyn mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Jadi, kalian akan pulang minggu depan?" tanyanya.


Owen mengangguk. "Kondisi Papa sudah mulai membaik, dan aku juga sudah meminta izin untuk pulang dulu. Lalu, kita akan kembali ke sana, setelah aku menyelesaikan urusan kampus," jawab pria itu.

__ADS_1


"Kita?" tanya Caitlyn sekali lagi.


"Ya, kita. Kau juga ikut ke sini." Owen menegaskan perkataannya.


Caitlyn terdiam. Terbersit keraguan dalam benaknya. "Sepertinya itu bukan hal yang bagus," ucap wanita itu.


"Mengapa? Kau tak perlu khawatir. Ada aku dan anak-anak." Owen berusaha menghilangkan keraguan dalam diri Caitlyn.


Caitlyn tersenyum tipis. Dia tak ingin membahas hal ini dulu. Jadi, wanita itu sengaja mengalihkan pembicaraannya dengan menanyakan berbagai macam pertanyaan random.


Tanpa terasa obrolan pun berakhir. Caitlyn terpaksa memutus sambungan video call terlebih dahulu, karena waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, sementara di tempat sang suami masih pukul delapan malam.


Dipeluknya ponsel tersebut erat-erat. Dalam hati, Caitlyn harus bersabar menunggu hingga minggu depan, agar bisa bertemu dengan mereka bertiga.


...**********...


"Mama baru tahu, kau senang berkebun, Owen?" Ariana datang menghampiri sang putra yang sedang asyik menata beberapa tanaman hias miliknya.


"Tanaman bisa membuat pikiran kita rileks, Ma," jawab Owen.


Mendengar jawaban tersebut, Ariana sontak tertawa kecil. "Kini, kau terdengar seperti kakakmu saja. Dia juga mengatakan hal yang sama, bila ada seseorang yang bertanya."


"Aku akan mandi dulu. Setelah itu, kita akan makan siang bersama. Aku akan membuatkan makanan yang enak untuk Mama," ucap Owen sembari tersenyum simpul.


Airana menganggukkan kepala. Matanya tak lepas memandangi sosok sang putra yang kini sudah menghilang menaiki tangga. Jujur saja, hingga detik ini, Arian merasa kepulangan Owen ke rumah bagaikan mimpi belaka.


Semua kerinduan dan rasa sakit yang telah lama terpendam untuk Owen, kini terkikis sudah. Dalam hati, Ariana benar-benar bersyukur, Owen dapat hidup dengan baik meski tidak bersama mereka.


Walau demikian, beberapa perubahan aneh terlihat samar di diri pria itu. Sebagai seorang ibu, Ariana tentu tahu betul bagaimana seluk beluk kedua putra kembarnya. Entah itu sifat, hobi, mau pun kebiasaan mereka satu sama lain.


Jadi, meski telah bertahun-tahun terpisah, Ariana tidak akan mungkin lupa dengan Owen, sang putra bungsu yang penurut, tapi pandai membalas perkataannya. Lain dengan Sean yang memiliki watak pendiam dan lembut, dan tak pernah berani membalas kemarahannya. Namun, kendati demikian, Sean memiliki hati yang cukup keras. Alih-alih melawan dengan perbuatannya, pria itu akan lebih memilih langsung bertindak.


Itulah mengapa, dia bisa menjalin hubungan dengan Caitlyn, dan bahkan menikahi gadis itu.


Meski terlahir kembar, kesenangan dan kebiasaan keduanya pun berbeda jauh. Sean lebih senang merawat tanaman dan berkebun seperti dirinya, sementara Owen lebih senang menghabiskan waktu dengan berbagai macam perkakas milik sang ayah.

__ADS_1


Entah mengapa, melihat Owen, Ariana jadi merasa seperti melihat kedua putranya kembali ke rumah.


"Ma," panggil Owen. Pria itu menuruni tangga bersama Chloe dan Wayne.


Ariana terkesiap. Wanita itu segera mengambil Wayne dari gendongan Owen.


"Mama baik-baik saja?" tanya Owen khawatir.


Ariana menggeleng. "Mama hanya sedang membayangkan kau dan Sean, Nak," jawabnya singkat.


Owen tersenyum tipis. "Baiklah. Sekarang Mama tunggu di sini bersama anak-anak, dan biarkan aku memasak," ujar Owen.


"Papa sungguh pandai memasak, Nek. Pandai seperti Ayah!" seru Chloe dengan mata berbinar-binar.


Ariana tertawa kecil. Dia hampir lupa, bahwa ada satu hal sama yang terdapat di diri mereka berdua. Yaitu pandai meramu masakan.


Setelah kira-kira lima menit berlalu, Ariana yang penasaran pun akhirnya memilih untuk mendatangi dapur, guna melihat proses memasak yang dilakukan Owen.


Akan tetapi, pemandangan ganjil lagi-lagi Ariana dapatkan, tatkala Owen tengah sibuk menyiapkan bahan-bahan makanan.


Pasalnya, Owen dengan lincah memotong-motong sayur, daging, bumbu dapur menggunakan kedua tangannya secara bergantian. Padahal jelas-jelas sang putra merupakan pengguna tangan kanan.


Satu-satunya orang yang Ariana hafal memiliki kemampuan ambidextrous (kemampuan seseorang untuk menggunakan kedua tangan dengan sama-sama baik) adalah ... Sean.


Melihat kedatangan sang ibu, Owen pun tersenyum. "Ma, kenapa ke sini? Tunggu saja di depan, aku akan memasak dengan cepat," pintanya. Namun, Ariana tidak mengindahkan perkataan Owen.


Wanita itu malah tampak mematung, sembari menatap sesuatu yang ada pada dirinya dengan raut wajah terkejut.


Owen yang penasaran sontak mengikuti arah pandang Ariana.


Disaat itulah, Owen akhirnya menyadari, bahwa Ariana ternyata sedang menatap pisau dapur yang tergenggam di tangan kirinya.


Owen seketika meletakkan pisau tersebut di atas meja. Sementara Ariana kini mengalihkan pandangannya pada sang putra.


"Sean?" Sedetik setelah Ariana menyebutkan nama sang anak sulung yang telah tiada, air mata sontak membanjiri pipi wanita itu.

__ADS_1


Owen bungkam. Senyum tipis kemudian mengembang di wajah tampannya.


Dia tahu benar, naluri seorang ibu tak pernah bisa dibohongi.


__ADS_2