Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
31. Dua Kabar Bahagia.


__ADS_3

"Nyonya Caitlyn!"


Laura bergegas menghampiri Caitlyn yang baru saja tersadar dari pingsannya. Wanita itu tampak kebingungan, tatkala mendapati dirinya berada di bilik UGD rumah sakit.


"Kenapa aku bisa ada di sini, Laura?" tanya Caitlyn keheranan. "Bukankah aku baru saja sampai di London Heathrow?" sambung wanita itu.


"Anda ditemukan pingsan, sesaat turun dari pesawat." Jawab Laura.


Caitlyn tersentak. "Begitu rupanya," gumam wanita itu.


"Kalau begitu, kita bisa pulang sekarang. Aku sudah baik-baik saja," ucap Caitlyn sembari bangkit dari ranjang. Namun, dengan sigap Laura langsung melarang wanita itu.


"Anda harus beristirahat lebih lama Nyonya," pinta Laura. Nada bicaranya terdengar aneh.


"Kenapa?" tanya Caitlyn.


Mendapat pertanyaan demikian, Laura terlihat sedikit bingung. Dia seolah hendak menjawab, tetapi tak tahu harus berkata apa. Beruntung seorang dokter jaga tiba-tiba masuk ke dalam bilik Caitlyn.


"Pagi, Nyonya Caitlyn," sapa dokter tersebut.


"Pagi, Dok," jawab Caitlyn sembaru menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.


"Apa yang Anda rasakan saat ini?" tanya sang dokter.


"Tidak ada, Dok. Saya memang tadi sempat pusing, tapi kini sudah tidak lagi." Caitlyn menegaskan jawabannya, agar bisa diperbolehkan pulang.


Dokter bernama Frans tersebut menganggukkan kepala. "Wajar saja, Anda baru saja melakukan perjalanan pulang pergi menggunakan pesawat dengan jarak cukup jauh. Mulai kedepannya, saya berharap Anda bisa sedikit berhati-hati. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan Anda, bila ingin melakukan perjalanan jauh."


Mendengar kalimat terakhir dokter jaga tersebut, Caitlyn terbelalak lebar. "D—dokter kandungan?" tanyanya dengan raut tak percaya.


Dokter Frans menatap Caitlyn heran. "Ahh, ternyata Anda belum tahu ya?" Dokter itu lalu membaca file milik Caitlyn. "Hasil pemeriksaan menunjukkan Anda positif hamil. Selamat Nyonya!" Senyum ramah tertera di wajah sang dokter.

__ADS_1


Jantung Caitlyn sontak berdetak kencang. Satu sisi dia merasa bahagia mendengar kabar tersebut, tetapi di sisi lain, Caitlyn merasa takut dan sedih, mengingat pertengkaran hebat yang baru saja dia alami dengan Ariana, ibu mertuanya.


"Kalau begitu, saya akan membuatkan janji dengan dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sementara itu, Anda bisa beristirahat lebih lama di sini."


Caitlyn hanya bisa menganggukkan kepala. Tangannya refleks mengelus perutnya yang masih rata.


Setelah dokter jaga tersebut pergi, dia pun memanggil Laura yang sejak tadi memang berada di sana.


"Ada apa Nyonya?" tanya Laura.


"Tolong, jangan katakan soal ini pada siapa pun dulu," pinta wanita itu padanya.


Laura menganggukkan kepalanya patuh. "Baik, Nyonya."


...**********...


"Selamat Nyonya, ada dua janin yang tumbuh di rahim Anda!" ujar Dokter Isabella, dokter kandungan yang kini tengah memeriksa Caitlyn. "Jika dihitung dari hari pertama haid terakhir, usia kehamilan Anda saat ini sudah memasuki minggu ketujuh."


Dokter Isabella pun berpesan pada Caitlyn untuk menambah asupan makannya, sebab, berat bedan mereka kurang dari yang seharusnya. Itulah mengapa perut Caitlyn sama sekali tidak terlihat menonjol, meski tengah hamil kembar.


"Karena ini bukan kehamilan pertama Anda, jadi, mungkin tidak akan terlalu sulit lagi bagi Anda. Hanya saja, karena kehamilan ini merupakan kehamilan kembar, jadi harus sedikit lebih berhati-hati."


Caitlyn menganggukkan kepalanya. "Kapan saya boleh pulang, Dok?" tanya wanita itu kemudian.


"Anda sudah bisa pulang sekarang. Beristirahatlah di rumah selama tiga sampai lima hari, sebelum melanjutkan aktivitas seperti biasa."


Caitlyn pun dipersilakan untuk bangun. Salah seorang perawat membantu membersihkan gel di perut Caitlyn terlebih dahulu.


Setelah menerima resep, Caitlyn pun keluar dari ruangan Dokter Isabella.


Laura yang menunggu di luar bergegas menghampiri wanita itu.

__ADS_1


"Biar saya saja yang menebus obatnya, Nyonya. Anda bisa duduk di kursi tunggu."


"Terima kasih, Laura," ucap Caitlyn lembut. Dalam hati dia merasa tak enak hati, karena terus meminta tolong pada Laura di luar jam kerja.


"Sama-sama, Nyonya," jawab Laura.


Selagi menunggu Laura, Caitlyn duduk di kursi tunggu sambil terus mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang.


Seharusnya ini merupakan kabar membahagiakan bagi keluarga mereka. Terlebih pada Chloe, yang sejak dulu menginginkan adik kembar.


Membayangkan teriakan senang Chloe, membuat Caitlyn tertawa kecil. Bersamaan dengan itu, setetes air mata mengalir membasahi pipinya.


...**********...


Caitlyn dan Laura baru saja tiba di rumah, ketika tiba-tiba suara dua orang anak kecil yang paling dirindukannya terdengar.


"Ibu!"


"Bu!"


Caitlyn terbelalak. Di sana, tepat di ambang pintu rumah, berdiri sosok Chloe, Wayne, dan Owen. Mereka berlari menyambut kedatangan Caitlyn.


"Chloe, Wayne? Oh my God!" teriak Caitlyn. Sambil berlinangan air mata dia memeluk tubuh kedua putra-putrinya seerat mungkin.


Tak hanya itu saja, dia juga memegang seluruh wajah mereka guna memastikan bahwa hal ini merupakan kenyataan.


"Kami rindu Ibu!" seru Chloe terisak.


"Ibu juga rindu, Sayang. Ibu juga rindu!" sahut Caitlyn. Dia kembali memeluk kedua anaknya cukup lama, sebelum kemudian beralih pada Owen.


"Aku merindukanmu," ucap Owen di sela-sela pelukan hangat mereka.

__ADS_1


"Aku juga. Aku merindukanmu juga," jawab Caitlyn. Air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi wanita itu.


__ADS_2