Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
12. Saling Terbuka.


__ADS_3

"Aku senang melihat anak-anak semakin bersemangat setiap hari," ujar Owen, tatkala Caitlyn kembali setelah mengantar mereka sampai ke depan rumah. Pria itu mulai menyandarkan diri di ranjang sambil menonton siaran berita di televisi.


"Ya, mereka memang sangat bersemangat. Terlebih setelah memiliki banyak teman baru di sekolah," kata Caitlyn.


Owen kemudian menepuk sisi kanannya yang kosong, dan meminta Caitlyn untuk menemaninya di sana. "Kau tidak keberatan, kan?"


Caitlyn tersenyum. "Tentu tidak." Jawab wanita itu lembut. Dia pun mulai bersandar pada pundak Owen. Owen refleks merangkul pundaknya.


Tak ada yang berbicara lagi, keduanya saling berdiam diri menikmati acara televisi yang mulai berganti.


Caitlyn berdeham, mencoba meminimalisir jantungnya yang mulai bergejolak. Dalam hati, dia mengingat kembali permintaannya pada Owen soal mengajari, dan Owen, meski tanpa kata-kata, secara tidak langsung memberikan Caitlyn akses untuk menggapai hal itu.


Caitlyn tahu, Owen membiarkan dirinya untuk mengambil langkah sendiri.


Alhasil, sebuah kecupan manis tiba-tiba mendarat di pipi Owen. Kecupan yang benar-benar Caitlyn lakukan dengan tulus, tanpa melihat diri Owen sebagai Sean.


Owen tentu saja terkejut. Pria itu mengalihkan pandangannya dari televisi ke arah Caitlyn.


Caitlyn tertunduk malu. "Ma—maaf, bila kau tak su—"


"Hanya di pipi saja?" tanya Owen.


Caitlyn refleks mendongakkan kepalanya, begitu mendengar pertanyaan Owen yang terkesan sedang menggoda.


Caitlyn tak ingin lagi membuat Owen merasa kecewa. Dia mengangkat kepalanya dan mendekatkan diri pada wajah sang suami. Namun, saat jarak di antara mereka semakin menipis, Owen tiba-tiba bersuara.


"Jangan lakukan, bila kau masih melihat diriku sebagai orang lain." Seolah sedang menegaskan, Owen bahkan tak sudi menyebut nama mendiang kembarannya.


Caitlyn menggelengkan kepalanya. "Aku melihatmu sebagai Owen, suamiku yang sekarang," ucap wanita itu lembut.


Jantung Owen seketika berdegup keras, saat Caitlyn memberanikan diri menempelkan bibir mereka. Pria itu terbuai, tetapi berusaha tidak memberikan reaksi berlebihan. Namun, begitu Caitlyn hendak menjauhkan diri, Owen refleks memegang leher sang istri dan memagutnya mesra.


Kali ini Caitlyn yang terkejut. Tanpa sengaja dia menekan perut Owen, hingga pria itu mengaduh kesakitan.


Ciiuuman mereka pun terlepas. Caitlyn yang panik meminta maaf pada Owen karena telah melukainya.


Bukannya marah, Owen justru tertawa sambil meringis. "Kau sepertinya pandai menghancurkan suasana. Bolehkan kita melanjutkan yang tadi?" katanya dengan nada jenaka.


Wajah Caitlyn sontak merah padam. Dia turut menimpali tawa sang suami, sebelum kemudian mengambilkan obat untuknya.


...**********...

__ADS_1


"Mr. Owen, syukurlah kau sudah kembali sehat!" Simon, sang rekan kerja, menepuk pundak Owen yang baru saja tiba di kampus.


"Pagi, Mr. Simon," sapa Owen ramah.


Simon mengerutkan keningnya, melihat Owen sedikit bersemangat. "Kau tampak berbeda hari ini. Ada apa?" tanya pria itu penasaran.


"Kau selalu ingin tahu," ujar Owen jenaka.


"Ow, kau tidak asyik sekali, Owen. Katakan, apa yang membuatmu begitu senang!" desak Simon.


Owen mengangkat bahunya tinggi-tinggi, lalu berjalan cepat meninggalkan pria itu.


Suasana hati Owen memang sedang baik, karena selain kesehatannya telah pulih, hubungannya dengan sang istri juga semakin membaik. Mereka belum melakukan hal yang lebih jauh dari itu, tetapi tidak masalah bagi Owen. Tak perlu terburu-buru.


"Mr. Owen!" Seorang gadis muda bersurai keemasan, terlihat berlari menghampiri Owen dengan tergopoh-gopoh.


"Luna, ada apa?" tanya Owen. Luna adalah salah seorang mahasiswinya.


"Saya ditugaskan mengisi seminar minggu ini. Bisakah Anda membantu saya memperbaiki presentasi saya?" tanya Luna dengan tatapan memohon. Gadis itu memang merupakan mahasiswi terpintar di kampus. Oleh sebab itu, banyak dosen yang mengenal dan dekat dengannya, termasuk Owen.


Meski Owen bukan guru Sastra, tetapi pria itu senang membantu tugas para mahasiswa di luar kampus, tidak terkecuali dengan Luna.


"Sepertinya saya tidak bisa melakukannya lagi, Lun. Sekarang, saya harus cepat pulang," tolak Owen halus.


Sorot mata Luna berubah. Gadis itu melirik Simon yang kini berdiri di sebelah Owen, seolah sedang meminta bantuan sang dosen. Namun, Simon bergeming. Pria itu memilih menjadi penonton saja.


Simon sebenarnya tahu, Luna juga menaruh perhatian lebih pada Owen. Dia bisa melihat hal tersebut dari matanya. Oleh sebab itu, Luna sempat tidak datang ke kampus selama hampir satu minggu, saat hari pernikahan Owen. Mungkin sedang meratapi nasibnya.


"Oh, begitu. Baiklah, aku tidak akan memaksa. Terima kasih, Mr. Owen." Tanpa berbasa-basi lagi, Luna memilih pergi meninggalkan pria itu dengan perasaan kecewa.


"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Owen pada Simon.


Simon mengangkat bahunya. "Tergantung kau melihatnya dari sisi profesionalisme sebagai dosen, atau tidak."


Owen mengembuskan napas.


...**********...


Owen dan Caitlyn baru saja keluar dari kamar Wayne. Kedua anak manis itu kini sudah memiliki kamar masing-masing.


"Wayne benar tidak apa-apa, kan?" tanya Owen sekali lagi dengan wajah cemas. Sesekali dia menoleh ke arah pintu kamar sang putra.

__ADS_1


Caitlyn tersenyum. "Tidak apa-apa. Tiga hari lagi aku akan kembali ke klinik," jawab wanita itu menenangkan. Dalam hati, Caitlyn merasa terharu dengan sikap Owen yang begitu mengkhawatirkan kecelakaan putranya itu.


Siang tadi, setelah bangun tidur siang, tanpa sengaja Wayne jatuh di halaman rumah, hingga menyebabkan lutut dan kepalanya cidera.


Beruntung, tak ada luka dalam yang parah selain memar. Kepala Wayne hanya perlu rajin-rajin dikompres dan diolesi salep pemberian dokter.


"Aku ikut!" seru Owen.


Caitlyn mengangguk. Keduanya pun masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Namun, saat Caitlyn duduk di depan meja rias untuk membersihkan wajahnya, Owen memanggil.


"Ada apa?" tanya Caitlyn.


Owen terdiam sejenak, sebelum kembali membuka suara. "Rasa-rasanya, kita tak pernah saling menumpahkan cerita satu sama lain. Bukankah sebagai pasangan, seharusnya kita saling berbicara?" tanya pria itu.


Caitlyn bergeming. Dalam hati dia membenarkan perkataan sang suami. Hubungan mereka memang sudah berjalan dengan baik, tapi tidak dengan komunikasi lain di luar itu.


Caitlyn merasa selama ini pembicaraan mereka hanya seputar itu-itu saja. Apa lagi kalau bukan rumah tangga?


"Kau benar! Sepertinya kita harus mengembangkan topik lain di luar yang biasanya kita bahas," ucap Caitlyn.


Owen berdiri dan duduk di sebelah Caitlyn, dan merangkul pinggangnya. "Kalau begitu, bolehkah aku yang memulainya?"


Caitlyn mencium pipi Owen dan mengangguk.


Owen tersenyum sumringah. Pria itu lalu bercerita soal Luna dan seminarnya tanpa ditutup-tutupi. Dia bahkan dengan gamblang mengatakan, bahwa Luna memang siswi terdekatnya.


Setelah mendengar semua penjelasan Owen, Caitlyn tertawa kecil.


Owen sontak mengerutkan keningnya. "Mengapa tertawa?" tanya pria itu.


"Kau ini lucu sekali. Aku yakin, Luna adalah gadia baik, karena selama ini memang dia hanya mendekatimu untuk bantuan semata, kan?"


Owen refleks mengangguk.


"Kalau begitu, lakukan seperti biasanya. Aku tak ingin menjadi istri posesif. Kau bebas beraktivitas seperti dulu, asal tahu batasan," ujar Caitlyn menasihati.


Owen tersenyum simpul dan berterima kasih. Pria itu dengan lembut mengangkat tubuh Caitlyn ke pangkuannya.


"Aku mencintaimu, Caitlyn," ucap pria itu tulus.


Caitlyn tersenyum lembut. "Aku tahu."

__ADS_1


__ADS_2