Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 10. Kau Anggap Aku Apa, Mas?


__ADS_3

Aku tidak begitu jelas mendengar ucapan mereka, tapi yang pasti ... ibu dan Nela begitu antusias dan nampak senang. Wanita cantik itu, tidak menolak ketika di perkenalkan dengan mas Azam. Padahal, pria yang telah menikahiku lebih dari enam tahun itu jelas sekali sedang dalam keadaan tidak sempurna. Memang, kuakui ... pria yang kini hanya bisa berada di atas kursi rodanya itu memiliki wajah yang sangat tampan. Kharismanya mampu membuat wanita manapun klepek-klepek.


Jadi, meskipun mas Azam memiliki keterbatasan gerak saat ini. Pesona memikat suami ku itu sama sekali tidak memudar. Hal itulah yang membuat diri ini merasa kehilangan dirinya. Sentuhannya dan pelukan hangat itu tak lagi ku rasakan pada tubuhku. Padahal, dokter mengatakan jika kelumpuhan sementara mas Azam tidaklah berefek pada alat vital dan juga reproduksinya. Selama ini juga, mas Azam selalu bergairah melihat tubuhku. Tapi, akhir-akhir ini, entah apa yang berkembang didalam pikirannya.


Mas Azam menjadi pribadi yang tiba-tiba memiliki sikap dingin dan cuek. Mulanya semua kukira lantaran kecelakaan itu yang telah sebagian merenggut kepercayaan dirinya. Tapi, pandangan serta penilaian ku serta merta berubah saat ini. Dimana, mas Azam memasang senyum sambil menyodorkan tangannya yang langsung di raih oleh wanita itu.


"Keterlaluan!" Aku menggeram, dengan kedua tangan mengepal di samping tubuhku. Kedua kaki lantas bergerak hendak melangkah ke teras dimana mas Azam berada. Tapi ...


"Maa ... Maa ... aaa ...!" Lulu, balita yang baru genap berusia satu tahun itu, sudah lebih dulu menangis memanggil namaku. Meskipun belum fasih, akan tetapi seorang ibu sepertiku pasti faham jika itu adalah ucapannya untuk menarik lagi perhatian ku padanya.


"Iya sayang, Mama kesitu ...!" jawabku, dengan berat kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Meskipun, kepalaku masih sesekali menengok ke arah luar melalui jendela. Awas saja kau, Mas. Kenapa mau saja diajak berkenalan sampai berjabat tangan segala. Aku tanpa sadar mengancam dalam hati. Sebab, naluriku merasa, jika perempuan itu bukanlah wanita baik-baik. Terlihat dari tatapannya kala memandang ke arah suamiku.


"Kenapa, Lulu sayang," tanya ku pada putri kecil yang kini duduk di atas baby chair. Benda itu bekas anak pertamaku, Heru. Masih cukup bagus, di karenakan selalu mendapat perawatan apik dan di simpan di tempat yang rapi.


Rengekannya sontak berhenti seketika, di saat aku kembali berada dekat di sisinya. Ku lihat, Lulu kembali mencoba memasukkan makanannya dengan sendok ke dalam mulut mungilnya itu. "Masyaallah! Anak, Mama pintar sekali!"puji ku padanya seraya bertepuk tangan.

__ADS_1


" Kakak juga pintel. Nih, matanannya abis semua," ucap Heru melapor.Tentu saja hal itu membuatku tertawa dan langsung mengusap ujung kepala serta menciumi pipi gembulnya.


"Iya, Kakak juga pinter. Semua anak Mama pinter dan Sholih, insyaallah!" ucapku penuh harap. Setiap kali kedua anakku melakukan hal yang baik, aku pasti akan memuji dan mencium mereka. Sebagai motivasi agar mereka semakin mengerti bahwa aku adalah orang tua yang akan selalu mendukung juga menghargai sekecil apapun perbuatan mereka.


Selepas, magrib mas Azam baru masuk ke dalam rumah. Entah darimana saja suamiku itu. Biasanya, ia akan solat di ruang tamu mengajak Heru. "Mas, tadi solat dimana?" tanyaku sambil melipat cucian. Sementara, Heru dan Lulu bermain di atas kasur lantai depan televisi. Heru mengeluarkan beberapa mainan Lego konstruksinya. Sesekali aku memperhatikan keduanya dan ada saja hal yang membuatku tersenyum atau sekedar menarik napas.


"Belum solat, tadi abis dari tokonya Nela," ucap suamiku itu datar dan tanpa rasa bersalah. Tidak biasanya ia begini.


"Astagfirullah! Biasanya, Mas langsung sholat pas denger adzan. Tapi kok--"


"Iya, ini juga mau solat!" bentak mas Azam padaku. Fix ini pasti kemasukan setan. Lantaran sudah magrib tapi masih ada diluar rumah. Aku, lagi-lagi hanya bisa mengucap istighfar dalam hati.


Selepas, mas Azam solat ... aku berniat menghampirinya. Terdapat teh manis hangat dan juga beberapa potong roti bakar di atas nampan yang ku bawa. Lalu, ku letakkan perlahan di atas meja. Saat ini, mas Azam sedang menonton pertandingan sepak bola di salah satu stasiun televisi.


"Di minum, Mas. Adek, sudah buat teh manis sama roti bakar." Ku coba menawarkan dengan sebisa mungkin tetap menggunakan intonasi suara yang lembut dan terkesan sopan.

__ADS_1


Bukanya menjawab, mas Azam justru melemparkan pandangan penuh curiga kepada ku. Pria yang memiliki alis mata tebal dan hitam itu, tak berkata sepatah pun. Kembali, memfokuskan tatapannya ke layar televisi.


"Mas, kamu kenapa? Apa ada yang salah atau tindakan ku yang kurang benar di matamu? Katakan saja. Apapun itu lebih baik, ketimbang Mas mendiamkan Adek seperti ini," ucapku tegas. Bahkan kupandangi wajahnya lekat dan dekat. Kebetulan hari sudah lewat isya, sehingga kedua putra-putriku telah kembali terbuai ke alam mimpi mereka.


"Kamu itu yang kenapa? Baru jualan gitu aja, sudah hilang tatanan kesopanan kamu pada keluargaku!" hardik mas Azam sembari menatapku lekat. Seketika saja aku merasa tertampar meskipun mas Azam hanya menghardik ku lewat ucapan. Aku terkesiap lantaran kaget terhadap sikapnya. Mencoba tidak terpancing emosi, dengan ku tarik napas dalam sembari mengucapkan istighfar.


" Maaf, Mas. Hilang tata kesopanan bagaimana, maksudnya? Adek benar-benar tidak faham," tanya ku meminta penjelasan pada suami ku ini.


"Ibu cerita, kamu sekarang kalau pergi dan pulang tanpa salam dan juga tidak pamitan? Melewati begitu saja tanpa tegur dan sapa. Apa itu bukan berarti hilang tata kesopanan!" cecar mas Azam menohok, tanpa bertanya lebih dulu secara baik-baik padaku.


"Lalu, Mas percaya begitu saja, pada cerita barusan? Apa, Mas tidak ingin mendengar cerita menurut versiku, istrimu sendiri?" cecarku berusaha membalik keadaan. Sebab, aku tidak mau di salahkan begitu saja.


"Tentu saja, Mas percaya. Mereka keluarga ku!" tegas mas Azam lagi dengan rahang yang semakin mengeras. Seakan saat ini, bukan tengah berbicara dengan wanita yang telah melahirkan anak-anaknya. Hati ini bagaikan di remas mendapatkan perlakuan begini di saat, lelah dan penat mendera raga.


Sebenarnya aku hanya ingin beristirahat, akan tetapi justru suamiku ini mengajak berdebat.

__ADS_1


"Lalu, Adek ini ... kau anggap, aku apa, Mas?"


...Bersambung ...


__ADS_2