
"Keterlaluan, Mas. Ibu gak bisa mengatur rumah tangga kita seperti ini!" tolakku dengan tegas. Bahkan, aku sampai melepas sumber makanan Lulu dari mulut bayi perempuanku itu dengan cepat. Hingga aku sendiri yang akhirnya meringis merasakan perih pada ujung dadaku itu. Ku lihat mas Azam sempat melirik sekilas, ku sadari jakunnya turun naik. Segera, ku rapikan pakaian atasku. Bagus saja, Lulu tidak menangis.
"Menurut dan bertahan. Atau, kau mau Ibu memerintahkanku agar memulangkan mu!" seru mas Azam tak kalah tegas dengan nada bicaranya yang cukup tinggi.
Aku pun tersentak, hingga dadaku terasa sesak. Ku remas sebelah dadaku dengan air mata yang telah turun deras membasahi pipi. Sungguh, hati ini rasanya sakit sekali. Istri mana yang hatinya tidak terluka dan perih kala mendapat sebuah keputusan dari keluarga suaminya perkara rumah tangganya sendiri.
Memang, pada saat ini mas Azam, ku akui sedang membutuhkan uang yang tidak sedikit. Akan tetapi, bukan dengan cara menerima tawaran dari orang lain yang niatnya memang mengincar keutuhan rumah tanggaku. Sudah kuduga, jika niat Jelita sejak awal tidaklah tulus dalam membantu keluarga suamiku ini.
"Mana bisa, Mas. Coba kamu rasakan posisiku, sebagai istri. Wanita mana yang akan rela begitu saja, membiarkan ada wanita lain yang masuk secara terang-terangan kedalam rumah tangganya!" pekikku tertahan, sebab aku tak ingin kedua anakku tau juga kedua orang tuanya tengah bertengkar.
"Aku tau, Lika. Mas sadar dan mengerti, jika ini memang tidaklah mudah untukmu. Tapi, kau lihat lah niat dan maksud dari semua ini. Aku juga terpaksa melakukannya, lantaran sesuatu hal. Bukankah sesama itu harus saling membantu. Jelita membantu aku dan juga keluargaku, lalu aku dan kami membantunya. Memberi status yang jelas padanya di lingkungan ini. Kau juga tau kan alasannya. Jelita adalah janda kaya yang hidup sebatang kara. Tak sedikit laki-laki mengincar dirinya hanya lantaran harta peninggalan suaminya semata. Dia butuh perlindungan dan sebuah status. Hanya itu!" jelas suamiku panjang lebar. Tapi, tetap saja aku tidak bisa menerimanya. Entah kenapa, bagiku alasan itu seakan mengada-ada, saja.
"Mas, kalau memang dia membutuhkan status dan rasa aman. Kenapa harus memilihmu, yang jelas-jelas telah memiliki seorang istri? Kenapa tidak mencari laki-laki lain saja, pasti di luar sana banyak laki-laki yang mau dibayar untuk sebatas nikah kontrak." Kataku, masih dengan emosi yang ku tahan dalam dada. Aku masih bisa mengendalikan nada suaraku sehingga tidak terlalu kencang. Meskipun, ujungnya dadaku ini serasa mau meledak.
"Haih, Lika. Dia kan kaya raya. Mana bisa memilih orang lain seenaknya. Bagaimana kalau orang itu berniat jahat dan hanya ingin memanfaatkannya. Sedangkan keluarga ku, kau tau kan, Dek. Kami ini keluarga baik-baik dan terhormat di kampung ini. Kami cukup terpandang. Sebab itu, Jelita merasa lebih percaya untuk menyerahkan keselamatan dirinya. Berpikirlah lebih luas, jangan hanya mengandalkan perasaan mu saja. Coba berpikir menggunakan otak dan logika," sarkas mas Azam yang telah memutar kursi rodanya hendak keluar kamar.
"Mas!" panggilku berharap ia tidak jadi meninggalkan ku di kamar ini. Masih banyak yang harus kita bicarakan. Setidaknya, ia mencoba lah untuk merayuku dengan permohonan misalnya. Bukan dengan cara arogan dan diktator seperti tadi. Hatiku ini terbuat dari segumpal darah dan daging, bukan dari besi maupun batu.
__ADS_1
"Pembicaraan kita cukup sampai di sini. Jika kau memang menginginkan kesembuhanku ... maka tidak akan ada lagi penolakan apapun keluar dari mulutmu!" ujar Mas Azam tanpa menoleh sedikit pun padaku.
"Iya, Mas, Adek tau ... tapi --"
"Jika kau tidak sanggup, aku ijinkan kau kembali pada bapakmu saat hari itu tiba." potong mas Azam. Setelah ia mengatakan ucapan terakhirnya, suamiku itu berlalu dengan kursi rodanya. Meninggalkan ku di dalam kamar bersama Lulu yang asik main sendiri di atas tempat tidur.
Jika aku kembali, tentunya hanya akan memberi kekecewaan pada bapak. Aku, hanya akan mencoreng wajahnya dengan lumpur kegagalan berumah tangga. Aku tidak ingin membuat bapak sedih dan merasa tertekan lagi dengan keadaanku. Sebisa mungkin, aku harus menguatkan diri ini. "Pak, apa Lika akan kuat bertahan dan berdiri tegak ketika ada badai menerpa rumah tangga ini. Apa, Lika bisa bertahan, Pak. Tapi, sampai kapan? Hati ini sangat sakit. Mereka semua, satupun tidak ada yang memikirkan perasaan, Lika." Aku hanya bisa meracau sendirian, lalu menangis sampai larut malam. Bahkan, aku sampai lupa jika sedari siang belum makan.
"Maafin, mama ya sayang. Susunya dikit ya? Pantas aja dari tadi kamu nangis terus. Belum puas ya sayang nyusunya? Ya udah, mama mau makan dulu ya," ucapku pada Lulu, kuharap nanti setelah makan ... volume ASI-ku lebih banyak. Meksipun anak perempuan dan sudah makan MP-ASI, tapi Lulu tetap saja kuat ketika menghisap sumber makanannya itu.
Aku loh yang hendak di duakan.
Berusaha abai terhadap masalah yang tengah merundung ku. Lebih baik ku buka saja ponsel yang sudah terisi daya penuh ini. Entah kenapa aku justru menemukan feel untuk membuat cerita sedih. Aku akan fokus terhadap pekerjaan diam-diam ku ini. Aku yakin, jika suatu hari nanti aku pasti akan berhasil menjadi orang yang sukses dengan kemampuannya sendiri.
Hati yang sedih sedikit terobati ketika ku sebuah notif yang berisikan nominal uang. Alhamdulillah, setidaknya karir yang ku bangun perlahan ini telah mulai membuahkan hasil nyata. Mas Azam dan juga keluarganya telah menganggap ku remah yang pantas diinjak dan di pandang hina. Suatu saat, akan ku buktikan pada kalian, jika di bodoh yang miskin ini, dapat mengangkat derajatnya sendiri. Tunggu saja! Aku akan mati-matian mempertahankan apa yang menjadi milikku.
Waktu berlalu.
__ADS_1
Mas Azam sudah mulai menjalani pengobatan di rumah sakit pusat kota. Aku tak pernah sekalipun di ajak atau sekedar di perbolehkan untuk ikut melihat terapi suamiku sendiri. Alasannya sih memang masuk akal. Aku lebih baik di rumah dan mengurus kedua anakku. Apalagi, Heru sudah kembali bersekolah di Pendidikan Anak Usia Dini.
Membuatku sedikit sibuk, dan pasrah saja menyerahkan seluruh urusan pengobatan mas Azam pada Jelita dan juga Nela. Ya, mereka acap kali pergi bertiga menggunakan kendaraan milik janda modus itu. Kepergian, Mas Azam yang selalu lama ketika menjalani terapi membuatku memiliki waktu banyak untuk menulis dan sedikit merawat diri.
Aku juga mulai berdandan lagi. Hasil jualan online ku akhirnya bisa membuatku membeli beberapa potong pakaian ganti untuk kukenakan sehari-hari.
Pada suatu sore, kala aku menunggu kepulangan mas Azam di teras, sekalian menemani main Heru dan juga Lulu. Ibu mertuaku berkata ...
"Tumben dandan? Kamu mau bersaing sama Jelita? Ya ampun, jauh, Lika ... jauh!"
"Dia itu seksi dan modis! Juga berduit!"
Jeggerrr!
Celetukan dari Ibu membuat ku serasa di sambar oleh petir.
...Bersambung ...
__ADS_1