
"Maaf, Mas!" Aku reflek mendorong bahu mas Azam. Ketika pria tampan nan gagah yang masih berstatus suamiku ini memajukan wajahnya dengan tatapan sendu. Bahkan dapat ku rasakan jika napasnya menderu penuh napsu.
"Kamu kenapa sih? Sudah lama lho, Mas tidak meminta hak. Jadi kamu itu gak bisa nolak gitu aja. Kamu faham kan dosa menolak suami," cecar mas Azam yang membuatku ingin terbahak-bahak. Sebegitu napsunya dia padaku malam ini. Tapi, sayang caranya tidak ada lembutnya sama sekali. Mas Azam mengutarakan maksudnya dengan kalimat kasar dan sorot mata yang tajam.
Hilang sudah kehangatan dan kelembutannya dulu. Kini, aku bagaikan melihat orang asing di hadapan ku. Bahkan rasanya raga ku ini merinding ketika di sentuh olehnya. Entah, menguap kemana rasa rinduku.
"Mas, bukannya, Adek mau menolak, tapi--," sengaja aku tidak meneruskan ucapanku. Sembari menelisik apa yang akan mas Azam lakukan setelah ini. Hatiku sepertinya senang mengerjainya. Kapan lagi kan?
"Lalu, apa!" Kali ini mas Azam sukses mendorongku hingga merapat ke dinding. Tatapan matanya yang lapar, memindai ke seluruh wajah ku. Dia pasti kaget dan terpesona, karena kulit wajah istrinya ini mulai glowing.
Wajah kami sudah sangat dekat, hingga deru napasnya mengusap hangat kulit wajahku. Seingatku, lama sekali kami tidak seintim ini. Kalau menuruti napsu hati, ingin sekali aku memeluk raganya yang tegap. Meskipun, mas Azam lama di atas kursi roda ... tapi entah kenapa otot di tubuhnya tidak berubah.
Aku hampir terbawa suasana ketika jemari mas Azam mulai bermain menyusuri tulang pipi hingga ke rahang ku. Mati-matian ku tahan getaran yang menyengat hingga ke pusat tubuhku. Memang, ragaku ini sangat mudah sekali terpicu ketika mendapat sentuhan lembut dari mas Azam seperti ini. Anehnya, desiran itu tak lagi ada di hatiku. Justru detak jantungku berdebar cepat lantaran takut.
__ADS_1
Takut, jika malam ini aku tak mempu menolaknya. Takut, jika suamiku ini sudah tidak bersih dan suci lagi. Bayangan dalam pikiran dan juga perasaan di hatiku mengatakan. Bahwa mas Azam dan Jelita mungkin saja telah melakukan zina ketika mereka berada hanya berdua di luar sana.
Apakah, aku salah jika memiliki tuduhan seperti itu pada suamiku sendiri?
Aku tidak ingin, jika sekarang mas Azam memasuki diriku dalam keadaannya yang bernoda. Seketika aku jijik dan benci kala memikirkan ini. Reflek, aku mendorong dada mas Azam kuat. Entah sejak kapan dia sudah menciumi ceruk leherku hingga memberi tanda si sana.
"Kamu ini kenapa sih, Lika! Kamu kan yang menginginkan ini semua? Karena itu kamu memanggil Mas lalu berdandan seperti ini!" cecar , Mas Azam nampak marah. Sorot matanya berkilat merah. Jelas sekali jika pada saat ini dirinya tengah menahan sesuatu yang bergejolak.
Apakah ini, tandanya mereka belum melakukannya di luar sana. Buktinya, Mas Azam begitu tersiksa kala kutahan keinginannya ini.
"Mas. Memang, aku yang memanggilmu. Tapi sekedar untuk bicara. Tak ada niat sedikitpun dan maksud untuk menggoda. Jika dengan berpenampilan seperti ini saja, Mas bisa mendefinisikan sebagai godaan ... lalu bagaimana dengan Jelita? Setiap hari, setiap dia menemui mu, setiap kali jalan bersamamu mengajakmu terapi, dia selalu berpakaian yang lebih terbuka dari apa yang ku kenakan malam ini. Bahkan dia juga berdandan full make up dan juga full wangi. Lantas, kenapa, Mas tidak menganggapnya sedang menggoda?" cecarku menohok langsung ke jantungnya.
Terbukti, suami ku ini langsung gelagapan. Terkesiap sambil mencari jawaban ku rasa. Memangnya, kau pikir aku ini bodoh, Mas. Aku ini wanita, aku tau gelagat Jelita itu tidaklah benar. Tapi, kamu selalu membela serta melindunginya. Entah kau yang buta atau memang telah tertipu wajah sok polos janda itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Lika! Kenapa kamu selalu mengkaitkan masalah dan hubungan kita dengan, Jelita?" Mas Azam berteriak padaku bahkan mencekal lenganku dengan kencang. Aku takut, jika nanti Lulu dan Heru terbangun.
Apa aku beri saja jatah mas Azam malam ini? Agar dirinya lekas pergi?
Tapi---
"Mas kita mau kemana?" Aku meronta ketika mas Azam membawaku ke ruang tamu rumah ibu, kalau masuk ke dalam salah satu kamar. Ku rasa ini yang menjadi tempat tidurnya selama ini. Semenjak mas Azam menjalani terapi.
"Layani aku di sini saja, kalau di rumah kita ... nanti pasti terganggu. Lagipula, Mas sudah mampu membuatmu mendesah kencang sekarang," ucapnya seraya menindih tubuh ku, diatas kasurnya. Pintu kamar telah ia tutup rapat. Bahkan, kaus atasannya telah di lempar entah kemana.
Ah, Mas kau membuatku di lema.
Aku membuang muka karena tiba-tiba semburat merah itu menguar di kedua pipi chubby ku. Rasanya wajahku ini sudah kesemutan di pandangi sedemikian rupa olehnya.
__ADS_1
Tiba-tiba, tatapan ku menangkap sesuatu di sebelah pojok kasur.
Apaan tuh ... apaan tuh!