
...Terkadang kau tak peka, jika hati ini masih luka. Semudah itu kau balik kata. Jika aku yang mulai semua....
...Wanita butuh bahumu tuh letak gundahnya. Dia butuh telinga mu dengar kesahnya. Cukup diam dan terima, cerita dari bibirnya....
...Cukup diam....
...Maka kau akan dapat senyum penuh cinta darinya....
_______
Sudah beberapa hari Jelita menjaga ibu mertuaku di rumah sakit. Sejak saat itu juga Nela fokus berjualan lagi sambil sesekali menghubungi ayah. Akhirnya, pak Dahlan pulang juga. Hari, ini wajahnya sama sekali tidak nampak kelelahan atau seperti baru tertimpa musibah. Justru wajah ayah mertuaku itu sangat berseri-seri.
Tidak mau berburuk sangka atau berpikiran yang bukan-bukan. Aku memilih untuk diam tanpa berkomentar. Meskipun, ketika merapikan isi warung ibu, ku dengar mas Azam berdebat kecil dengan ayah. Mereka berdua langsung pindah lokasi ketika melihat keberadaan ku.
Ya, pergi sana.
__ADS_1
Aku juga tidak mau tau masalah kalian.
Toh, kalian juga tidak mau membawaku berembuk. Tak apa, tidak akan ku pusingkan. Sebab, aku sudah cukup bingung memikirkan kesehatan bapak. Ingin menengok, tapi di larang oleh mas Azam. Katanya, sudah ada dua orang yang menjaga bapak di rumah. Ya memang ada Setyo dan Mbak Lidya. Tapi, aku juga mau menengok bapak. Meskipun hanya sekedar tau keadaannya.
Lagi-lagi, mas Azam bilang tidak perlu. Cukup gunakan saja tekhnologi komunikasi yang semakin canggih ini. Akhirnya aku hanya menghubungi bapak, lewat Vidio call. Membiarkan kedua anakku ikut berteriak girang memanggil eyangnya. Ku lihat wajah bapak sudah lebih segar dibanding beberapa hari yang lalu.
Aku juga tenang, Mbak Lidya mau menginap beberapa hari. Sedangkan aku, harus rela dan mencoba menurut apa kata mas Azam. Memang keadaannya saat ini lebih membutuhkan ku ketimbang bapak. Alhamdulillah kekhawatiran ku telah terkikis setelah ku dengar suara dan melihat raut wajahnya. Bapak juga telah memberikan ridho padaku sebab mendahului kepentingan suami di atas segalanya.
Bapak, kau sangat pengertian. Tidak pernah menuntut apapun semenjak anakmu ini menikah. Meskipun, diri ini jarang ada waktu untuk sekedar menengoknya. Apalagi, memberi jatah bulanan. Mungkin, hanya setahun sekali setiap lebaran aku baru bisa memberi untuk bapak. Mau bagaimana lagi, aku tidak memiliki penghasilan sendiri. Sehingga, jika ingin memberi pada keluarga ku harus atas ijin mas Azam lebih dulu.
Sebab itulah, banyak anggaran keluarga yang masih ditanggung oleh mas Azam. Sementara, hasil usaha ayah tidak jelas lari kemana. Ibu dan Mas Azam selama ini diam saja. Karena itu aku pun tidak mau berkomentar banyak. Meskipun, beberapa kali melihat bukti yang mampu membuka kedok ayah mertua. Aku tetap diam saja.
______
Hari ini, ibu pulang. Meskipun masih harus dipapah tapi wajahnya sudah kembali seperti semula. Ibu masuk kedalam rumah bergandengan dengan Jelita. Ku lihat pada air muka janda genit itu, jika terdapat sesuatu niat yang mungkin akan menganggu keutuhan rumah tanggaku.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ibu gimana kabarnya?" tanya ku seraya mendekat maju untuk dapat meraih dan mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah, dong baik. Malah baik banget. Secara yang ngerawat ibu itu non Jelita," jawab ibu sambil terus mengelus bahu Jelita yang kini tengah tersenyum malu-malu. Haihh, drama queen.
Tapi tak ayal ku sematkan juga senyum serta ucapan terimakasih. Di luar apapun niat wanita itu, setidaknya biarlah Allah yang menunjukkannya perlahan.
"Terimakasih ya, Mbak. Sudah mau membantu kami menjaga ibu," ucapku sambil menjabat tangannya. Tapi, Jelita tidak berniat menyambut uluran tangan ku. Ia justru menatap ke arah ibu dan berkata ...
"Aku sudah, menganggap Ibu Mirna adalah ibuku sendiri. Aku kan, tinggal sebatang kara. Jadi, aku merasa memiliki keluarga sekarang," ucapnya begitu manis dengan senyum penuh kepalsuan. Ah, apakah hanya aku yang dapat melihat terdapat rencana licik tersimpan di benak Jelita?
Malamnya, tepat setelah kami semua, termasuk Jelita, selesai makan malam bersama. Ibu berniat untuk mengungkapkan sesuatu.
Ibu yang sempat marah sama ayah, telah kembali naik dan luluh berkat jurus rayuan ampuh dari ayah mertuaku itu. Ibu memang gampang kena rayuan gombal ayah. Padahal selama sepekan lebih ayah tidak pulang kerumah. Seandainya mas Azam sehat mungkin sudah di susul. Ayah, memang pandai memanfaatkan kesempatan yang ada.
"Zam, Ibu sudah memutuskan untuk menerima tawaran dari Jelita. Kamu, mulai lusa akan dibawa untuk pengobatan di rumah sakit pusat. Selain, untuk pengobatan ... Jelita, juga akan menebus mobil kita yang kena tipu. Keputusan ini sudah final dan tidak ada satupun yang dapat menggugatnya termasuk kamu, Lika!"
__ADS_1
...Bersambung...