
[ Kak, kapan Heru dan Lulu mau di jemput. Bapak asmanya kumat, sebab kelelahan. Anak-anakmu sangat aktif, Kak. Sementara aku kerja selalu pulang selepas magrib. ]
Begitulah, pesan yang kala itu di kirim oleh Setyo adik ku. Usianya baru dua puluh tahun, dan ia bekerja di bengkel motor. Terpaksa aku menitipkan kedua anakku karena harus bergantian menjaga ibu. Melihat pesan dari, Setyo, hatiku merasa amat bersalah. Bapakku, memang tidak bisa kelelahan. Beliau memiliki riwayat penyakit asma. Mau tak mau, aku pulang dari rumah sakit langsung menjemput kedua anakku.
Jarak yang lumayan jauh, sekitar lima puluh kilo meter. Membuatku memilih untuk naik turun angkot saja. Aku tidak berani membonceng kedua anakku menggunakan motor dengan jarak sejauh itu. Kuparkirkan motor di salah satu pusat perbelanjaan. Menitipkannya pada tukang parkir di sana. Setidaknya aku bisa mengendarainya untuk menuju rumah kedua mertuaku.
Selama, Ibu di rawat, ayah sering tidak ada dirumah. Katanya mengurus kehilangan mobilnya. Mengejar terus oknum yang berusaha menipunya.
Beberapa kali, orang berseragam angkatan datang kerumah kami. Sepertinya itu adakah kenalan ayah. Salah satu customernya yang pernah menggunakan jasa jual-beli motor mobil padanya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak. Secerdik apapun, jika memang sudah waktunya kena tipu pasti akan merasakan juga.
Padahal, circle pertemanan ayah bisa di bilang lumayan elit. Tapi, yang namanya hati manusia siapa yang bisa menakarnya.
Sesampainya di rumah bapak.
"Assalamualaikum!"
Baru saja sampai, kedua anakku langsung berlari menghampiri. Kebetulan, Setyo libur hari ini. Kulihat, adik bungsuku itu tengah menyuapi Lulu makan.
"Mama, eyang takit. Bawa te doktel aja," ucap Heru mengadukan keadaan bapak kepadaku.
"Ya Allah, Bapak ... maafkan, Lika!" ucapku seraya mendekati pria paruh baya yang mengenakan sarung kotak-kotak di atas tempat tidurnya. Wajahnya terlihat pucat dan matanya sayu. Pasti, beliau kurang tidur lantaran menjaga kedua anakku.
__ADS_1
"Eh, kamu sudah sampai, Nak? Gimana keadaan mertuamu? Kenapa di tinggal?" cecar bapak yang malah mengkhawatirkan keadaan orang lain.
"Sudah lebih baik, Pak. Meskipun belum bisa bicara jelas, karena mulut ibu agar miring sedikit. Sebelah tangannya juga tidak bisa di gerakkan. Mungkin, lusa sudah boleh pulang," jelasku, seraya menatap penuh rasa bersalah pada bapak.
"Maaf, Yo. Bapak tiba-tiba kambuh. Jadi ndak bisa sungguh-sungguh jaga cucu. Padahal, Bapak seneng mereka ada di sini. Rumah jadi rame. Kemarin sih sempet ada kakakmu datang. Tapi, suaminya keserempet motor mendadak dia pulang gak jadi menginap. Padahal, masih kangen katanya sama dua keponakannya ini," jelas bapak dengan senyum yang tak pudar menghiasi wajah tampannya yang mulai menua.
Wanita yang di ceritakan oleh bapak adalah kakakku. Kak, Lidia sudah menikah selama tujuh tahun. Tapi, belum dikarunia keturunan. Karenanya sangat senang ketika aku main kerumah bapak. Kakak, pasti akan datang. Hanya saja, suaminya terlalu posesif dan mengekang.
"Lika yang minta maaf, Pak. Sudah membuat, Bapak jadi kelelahan dan kurang istirahat. Lika tidak tau lagi harus menitipkan kedua anak ini kemana. Secara, keadaan mas Azam juga terbatas seperti itu," ucapku lirih. Hatinya sangat merasa bersalah melihat Bapak yang sehat jadi mendadak sakit begini.
"Ayo ajak ke doktel, Ma!" ujar Heru mengingatkanku untuk membawa bapak berobat. Putra pertama ku ini nampaknya sangat khawatir akan keadaan eyang mereka.
"Iya, Pak. Lika antar ke klinik ya," tawarku.
"Tenang aja, Mbak. Nanti, kalau tidak membaik juga ... biar Tyo yang bawa ke klinik. Mbak, istirahat dulu gih di kamar, kasian tuh anak-anak juga belum tidur siang.
Akhirnya, aku pun menelepon mas Azam. Mengabari keberadaan ku saat ini. Meminta ijin untuk menginap malam ini dan baru pulang besok lagi. Sebab, dari rumah sakit tadi sudah terlalu sore. Tidak mungkin juga kalau ku bawa anak-anak pulang pada malam hari.
"Ya sudah, pokoknya pagi-pagi sekali kamu sudah pulang. Mas, belum makan. Tidak ada orang di rumah. Ini juga cuma makan roti yang ada di warung ibu," ucap mas Azam di telepon membuat hatiku jadi semakin sedih. Lantaran satu musibah hampir semua merasakan imbasnya. Bahkan, bapak menjadi kambuh penyakitnya.
Hah, jika boleh berkata seandainya. Tapi, sekali lagi ini semua sudah takdir dan jalan hidup yang harus kita lakoni. Terlepas dari semua kelalaian, ternyata disitulah kita harus sadar. Bahwa, sejatinya kita manusia lemah yang bodoh dan tak memiliki daya upaya tanpa bantuan dari Allah.
__ADS_1
Selepas solat subuh, langsung ku ajak kedua anakku bersiap-siap. Aku pulang, dengan rasa hati berat meninggalkan bapak yang terus terbatuk-batuk di sepanjang malam. Ingin rasanya aku tinggal di sini lebih lama untuk merawatnya. Tapi, di rumah kami ada sosok suami yang lebih segalanya dalam hal membutuhkan ku.
"Nanti main lagi, kalau Eyang sudah sehat!" teriak Bapak sambil sesekali menarik napasnya susah. Begitulah jika penyakitnya telah kambuh. Bahkan untuk bernapas pun akan terasa sulit. Aku meninggalkan rumah bapak dengan langkah yang berat.
Sesampainya di rumah, ku dapati wajah suami ku yang cemberut. Bagaimana lagi, kebetulan di jalan tadi macet sekali. Bahkan, Lulu saja sampai muntah karena kelelahan.
"Assa--"
"Aku sudah lapar! Langsung masak saja!" Mas Azam marah, bahkan ia tidak memberikanku kesempatan untuk sekedar memberi salam.
"Assalamualaikum, iya Mas," jawabku sambil meneruskan salam yang sempat terpotong tadi. Ku ambil tangannya dan ku cium, meskipun langsung di tarik lagi oleh mas Azam. Aku maklumi saja, sejak kemarin suamiku itu tidak makan. Jadi, wajar jika saat ini dirinya emosi.
Ku letakkan, Lulu yang tertidur. Membuatkan susu untuk Heru, lalu aku segera bertempur di dapur Ibu. Syukurlah masih ada bahan makanan. Aku mulai memasak apa yang bisa di makan. Meski kurasakan linu dan pegal pada pergelangan kakiku.
"Cepetan dong, Dek. Mas bisa mati kelaparan ini!" teriak suamiku dari ruang tamu. Karena aku memang masak di dapur ibu. Kebetulan, kami tidak memiliki dapur. Atau dengan kata lain, memang tidak boleh membuat dapur sendiri.
"Maaf, Mas, agak lama. Soalnya tidak ada nasi. Jadi, Adek harus masak nasinya dulu," jelasku sambil meletakkan beberapa piring makanan ke depan mas Azam. Sebelumnya, ku letakkan dulu papan di atas pangkuannya.
Kasian, ku tatap wajahnya yang pucat menahan lapar sejak kemarin. Dalam hatiku bertanya-tanya, dimana keluarga ayah dan ibu. Kenapa, tidak ada satupun yang peduli? Ayah, juga kemana?
"Sebenarnya, Jelita kemarin datang kesini membawa makanan. Tapi, sudah Mas buang," cerita suamiku, membuat kedua mata ini membola seketika.
__ADS_1
Apa yang direncanakan oleh janda kaya yang genit itu?
...Bersambung...