
Mas Azam, ku lihat suamiku itu hanya menunduk, tanpa berkeinginan untuk membelaku. Setidaknya katakan jika hal barusan adalah permintaannya. Serta, ibu mertuaku telah melanggar etika kesopanan masuk rumah tanpa salam. Padahal kami kan butuh privasi. Masa sih ibu mertuaku tidak mengerti hal ini? Terkadang aku tak habis pikir kala memikirkan ini semua.
Kami tidak boleh memisahkan diri, sebab mas Azam harus membantu keuangan keluarga. Tapi, setidaknya berikanlah kami berdua privasi. Berlakulah sopan dengan mengedepankan etika. Jadilah teladan bagi anak-cucu mereka. Kalau begini, bagaimana mau dihormati dan juga disegani.
"Astagfirullah, robbal baroyah ... astagfirullah minal hotoyah ...." Sengaja aku berdzikir dengan irama sambil merapikan atas meja yang masih berantakan dengan mainan anak-anak. Percuma aku menjawab, lebih baik berdzikir agar ibu segera sadar.
Sayang sekali, justru ibu semakin mengeram kesal. Bukannya malu dan atas apa yang baru saja ia lontarkan terhadap menantu. Seandainya saja beliau mau menggerakkan bibirnya dengan menguntai asma Allah. Mungkin para setan itu tidak akan tahan bertengger di dalam hatinya. Sebab, hati yang dipenuhi oleh dzikir dan nama Allah itu tidak akan disinggahi oleh setan maupun jin.
"Ada apa, Bu? Ini sudah malam, Azam sama Lika mau tidur," tanya suamiku. Tumben berani.
"Iya, Ibu juga tau kalo ini udah malam! Cuma mau ngasih tau, besok lagi mobil mau di sewain ke temannya bapak. Anaknya mau jalan-jalan ke Bandung. Lumayan kan, nanti uangnya bisa buat nambahin isi warung Ibu," ucap tegas wanita yang telah melahirkan suamiku itu.
Bagiku, terserah saja mau diapakan mobil itu. Mau disewakan, mau di jual atau mau di buang sekalipun, aku tidak mau peduli. Bukan karena apa, toh kami seakan tidak memiliki hak. Meskipun setiap bulan gaji mas Azam sebagian besar habis untuk membayar angsurannya.
Apa pantas, mereka lebih memilih mempertahankan gengsi demi memberikan pengobatan terbaik bagi putra mereka ini. Padahal, jika mereka mau ... mas Azam bisa mendapatkan pengobatan yang lebih baik di rumah sakit terbaik di pusat kota. Salah satu jalannya ya harus mengorbankan kendaraan kebanggaan keluarga itu. Over saja mobil itu ke orang lain yang mau meneruskan angsurannya. Lalu, gunakan uang muka mobil mas Azam untuk biaya selama pengobatan di kota.
Dina, sahabat ku yang memberi tahukan tempo hari lalu. Bahwa, ada rumah sakit dengan dokter spesialis ortopedi terbaik lulusan dari negara kincir angin, Belanda. Kebetulan saudara Dina hanya dalam waktu enam bulan dapat berjalan kembali dan sehat sampai sekarang. Apalagi, keadaan mas Azam berkemungkinan besar untuk kembali normal. Semua, keputusan ada di tangan keluarga mas Azam. Aku sebagai istrinya, sama sekali tidak ada hal untuk sekedar mengemukakan pendapat sekalipun.
Bukannya tidak pernah mencoba. Tentu saja, sebagai istri telah berusaha menyampaikan pendapat dari pemikiran dan saran kawanku tersebut. Akan tetapi, mas Azam menolaknya mentah-mentah. Bahkan, dia sendiri pun tidak berani menentukan nasibnya sendiri.
__ADS_1
"Terserah, Ibu saja. Asalkan senang dan bahagia. Tapi, hati-hati, Bu. Jangan sembarangan mempercayai orang lain," pesan mas Azam pada Bu Mirna, mertuaku.
"Itu, mah urusan ayahmu. Lagian, mana ada sih temen ayah yang enggak benar," kilah Ibu. Membuatku hanya bisa menggelengkan kepala pelan sambil senyum-senyum. Sejak kapan kita bisa menilai hati dan niat manusia? Aku tetap meneruskan pekerjaan ku di depan wastafel. Sesekali masih ku dengar ucapan ibu yang terkesan menyindirku.
"Jangan terlalu manis dan lembek jadi suami, Zam. Kalo sudah di tikam dari belakang baru deh kamu tau rasa. Jadilah lelaki yang tegas. Kamu itu kan pemimpin dalam rumah tanggamu, walaupun keadaanmu saat ini sedang lemah," ucap ibu, entah apa maksudnya dengan kalimat menikam dari belakang.
Apa sebenarnya yang membuat mu membenciku, Bu. Padahal, Lika sudah menganggap ibu sebagai orang tua kandung sendiri. Semenjak menikah dengan mas Azam, kalianlah orang tuaku. Akan tetapi perlakuan kalian setelah aku melahirkan Heru, semakin buruk.
Apa yang membuat kalian malu? Apakah lantaran bentuk tubuhku saat ini. Tampilanku memang tidak mungkin untuk di banggakan semenjak melahirkan. Apa karena keadaan ku yang berasal dari keluarga miskin? Berbanding terbalik dengan keadaan dari suaminya Lena yang berasal dari keluarga berada?
Sehingga, dapat memberikan apapun yang kalian inginkan. Dapat, memberikan kebanggaan dan pandangan terhormat dari kalangan para tetangga serta keluarga besar yang lain. Teringat ucapan salah satu sepupu ibu mertuaku, ketika kami menghadiri arisan keluarga sebelum mas Azam kecelakaan.
Itulah kalimat menyakitkan yang pernah aku dengar. Padahal, setiap kali mas Azam gajian ... aku tidak pernah kebagian bahkan untuk membeli selembar gamis baru sekalipun. Cukup setahun sekali, pas lebaran. Itu pun bukan dari gaji, melainkan dari tunjangan hari raya.
Mengingat hal itu, membuatku kembali menjatuhkan kristal bening yang menggenang di sudut mata ini. Terkadang, aku menjadi terlupa untuk bersyukur. Disebabkan terlalu sibuk meratapi nasib. Padahal, masih banyak nikmat yang Allah limpahkan untukku. Salah satunya, tubuhku yang sehat, hati yang kuat serta keadaan anak-anakku yang sehat dan lincah.
Bahkan, beberapa tetangga juga teman-teman ku sampai berdecak kagum. Melihat bagaimana pertumbuhan kedua anakku yang termasuk cerdas dan juga cepat dalam pertumbuhannya. Heru dan Lulu, kalian adalah sumber semangat ku.
Masih pantaskah aku mengeluh?
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, rumah kami di selimuti duka. Ibu, di larikan kerumah sakit lantaran terkena serangan jantung ringan. Apa penyebabnya? Ku rasa semua adalah teguran Tuhan bagi kami.
"Mas, Adek di suruh Nela bergantian jaga Ibu. Jadi, nanti Heru dan Lulu, mau aku titipkan kerumah bapak," ucap ku meminta ijin pada suamiku.
"Terimakasih, kamu masih peduli sama Ibu," ucap suamiku lirih seraya menundukkan kepalanya. Mau tidak mau aku harus merepotkan bapak dan juga adik bungsuku. Bagaimana lagi, inilah tugas keluarga. Dimana dibutuhkan kerja sama saling membantu dan juga tolong menolong. Bapak senang saja, sebab baginya keluarga besannya ini sangat baik dan menghormatinya. Semua, lantaran aku yang pandai menutupi sifat asli ayah dan ibu mertuaku pada bapak.
"Ayah sih, maen percaya aja. Akibatnya, Ibu jadi masuk rumah sakit!" kudengar, Nela memekik di dalam warungnya. Ku lihat di sana juga ada mas Azam yang menahan marah.
Sebenarnya, apa penyebab ibu terkena serangan jantung? Tidak ada satupun, yang menjelaskannya padaku. Termasuk mas Azam, suamiku.
Lalu, kemana ayah?
Sejak pagi tak kulihat batang hidungnya. Apa mungkin sedang mengurus sesuatu.
"Lika, mau ke rumah sakit ya?" tanya salah satu tetanggaku. Untung saja motorku belum melaju kencang, jadi ku rem dulu sebentar.
"Baik, banget sih kamu. Harusnya biarin aja jangan di urusin. Lagian juga, setiap hari selalu menjelekkan kamu. Padahal, menantunya sudah baik begini," ungkap salah satu tetanggaku itu. Sebut saja Bu Ratna.
"Bagaimanapun, ini adalah kewajiban Lika sebagai anak, Bu. Terlepas dari semua perlakuannya. Lika berangkat dulu ya, titip orang rumah. Kalo ada apa-apa, tolong kabari Lika," ucapku berpamitan. Alhamdulillah, masih ada tetangga yang perhatian padaku. Meskipun, kata-katanya terdengar emosi.
__ADS_1
...Bersambung...