Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 6. Sebuah Tuduhan Tanpa Dasar


__ADS_3

"Lika, nih uang buat ongkos kalian naik taksi online!" seru ibu mertuaku, seraya meletakkan uang seratus lima puluh ribu ke atas bufet. Hari ini jadwal mas Azam cek up sekalian terapi kakinya. Kalau di bilang lelah, itu sudah pasti. Tapi, ini sudah jalan hidup kami. Lagipula, bukan itu yang aku permasalahkan.


Selama, mas Azam terus berobat jalan aku sangat berasa sekali susah di keuangan. Apalagi, gaji pokok suamiku itu di atur oleh mertuaku. Kami hanya di jatah ketika akan membawa mas Azam kerumah sakit. Seperti hari ini, ibu memberi kami uang yang hanya pas untuk ongkos taksi. Sedangkan, aku sedang tidak memegang uang sepeserpun. Sementara, aku harus membawa dua anak juga. Bagaimana jika nanti mereka minta jajan ketika menunggu antrian. Tau sendiri kan, jika berobat sarana kesehatan sangat akan membuang waktu banyak yang tentunya juga anak-anak akan bosan.


"Mas, uang yang ibu kasih ... cuma cukup untuk ongkos saja. Aku, tidak pegang uang buat jajan anak-anak," ucapku pada Mas Azam yang tengah mengenakan baju. Suamiku itu duduk di atas kasur.


"Bawa makanan sama air putih dari rumah aja, Dek. Mas juga gak punya simpanan. Udah abis kan kemaren ku kasih buat beli susunya Heru," jelas mas Azam membuatku hanya bisa mendesah kasar.


"Kok gitu, Dek?" tanya mas Azam dengan sorot mata tajam.


"Gitu kenapa, Mas?" tanya ku memastikan apa yang salah dari kelakuanku.


"Kamu seakan tidak senang mengurus, Mas. Pake berdecak segala," jawab suamiku itu menuduhku seenaknya. Padahal, aku saat ini tengah berpikir keras darimana mencari tambahan dana. Siapa tau nanti di sana, dokter menyuruh ku untuk menebus obat di luar. Mana bisa kerumah sakit membawa uang pas-pasan.


"Kenapa sih, Mas. Selalu saja berprasangka buruk sama istri sendiri? Kalau aku tidak senang mengurus mu, sudah sejak kemarin aku tinggal, Mas. Bahkan, aku lebih memilih mengurus mu ketimbang menengok keadaan bapak yang sempat jatuh di kamar mandi tempo hari. Apa, Mas lupa? Bahkan, bapak saja melarang ku ke sana. Ia mengingatkanku bahwa suami adalah tempat baktiku yang pertama. Apa, Mas tidak dapat melihat pengorbanan ku ini?" tuturku lirih seraya menahan sesak yang penuh berkumpul di dalam dada.


"Maaf, bukan maksud Mas begitu, Dek," kilah suamiku. Nampak jelas raut sesal di wajahnya yang semakin tirus. Membuatku ikut menyesal lantaran telah berkata dengan sedikit tegas padanya barusan.


"Ya sudah, Mas. Adek mau siapin bekal buat di sana," ucapku seraya berlalu ke dapur utama. Ternyata di sana ada Nela, adik ipar ku yang sedang membuat roti bakar. Padahal roti itu aku yang beli tadi lagi. Sengaja mau buat bekal nanti ke rumah sakit.

__ADS_1


"Maaf, Nel. Roti tawar yang, Mbak beli mana ya?" tanya ku sambil mengedarkan pandangan ke lemari rak piring. Aku yakin jika yang Nela masak adalah roti tawar yang ku simpan tadi pagi.


"Gak tau, ini aku Nemu tadi di dalam rak. Kebetulan ada temenku main, yaudah lumayan buat sajian. Jadi gak keluar duit deh!" jawab Bela seraya melenggang keluar dari dapur. Hatiku mencelos, itu satu-satunya harapanku untuk mengganjal perut anak-anak nanti pas menunggu papa mereka terapi. Tapi, kini kulihat roti tawar yang kubeli tinggal dua lembar saja. Bahkan, mentega dan medisnya pun juga habis tak bersisa. Karena kesal aku pun mengejar, Nela dan menarik tangannya sebelum ia sampai ruang tamu.


"Tunggu, Nela!" panggilku sambil meraih lengannya.


"Kenapa sih! Main tarik orang aja sakit tauk!" bentak Bela padaku sambil melotot. Mana kedua matanya memang bulat, semakin besar saja kala dia mendelik.


"Itu, pasti roti tawar punya, Mbak. Sengaja aku beli buat nanti bekal kerumah sakit. Kenapa kamu masak gak ijin dulu?" jelasku, sambil memelankan suara agar anggota penunggu rumah yang lain tidak mendengar.


"Yaelah, pelit amat sih cuma roti aja juga! Nih, ambil! Aku juga punya uang buat beli bolu yang enak!" pekik Nela, sengaja kencang. Dan, benar saja ... tak lama kemudian ibu mertuaku muncul diantara kami.


"Nih, orang pelit. Makanya nasibnya susah terus, kagak berkah hidupnya!" celetuk Nela membuatku lantas menoleh kearahnya sambil memegangi dadaku yang sesak.


"Ya Allah, Nela. Bukannya aku pelit. Tapi, hanya ini satu-satunya, makanan yang Mbak punya buat sangu anak-anak dan mas Azam nanti," jelasku takut ibu keburu salah paham lantaran perkataan Nela barusan.


"Kami tuh ya, Lika. Bikin malu aja tau gak! Masalah makanan aja jadi ribut. Bisa gak kamu jadi Mbak yang teladan buat adiknya!" sarkas ibu. Apa tidak salah? Nela kan yang tidak punya akhlak dengan mengambil makanan yang bukan miliknya. Kenapa aku yang harus kena marah?


"Maaf, Bu. Bukan seperti itu, ini--" Belum sempat aku menjelaskan, ibu dan Nela sudah keburu pergi meninggalkanku dengan tatapan sinis mereka. Sudah pasti sebentar lagi aku akan mendapat ceramah dari ayah mertuaku. Mereka berdua pasti mengadu.

__ADS_1


"Ya Allah ...," lirih ku mengucap. Hanya kepadanya lah aku mengadukan segala kesedihan. Ingin rasanya ku simpan roti tadi di dalam kamar saja. Tapi, nanti salah lagi. Di bilang menimbun makanan seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Entahlah, semua yang ku lakukan selalu saja salah di rumah ini. Meskipun aku melakukan hal yang membanggakan seperti tempo hari. Dimana kala itu para pembeli memuji rendang jengkol buatanku. Bahkan, dagangan nasi uduk ibu laris dalam waktu kurang dari dua jam saja.


Tak kudapat satu pujian dari ayah bahkan ibu mertuaku. Mereka makan masakan ku juga dengan ekspresi yang biasa saja. Padahal, semenjak saat itu ... menu itulah yang menjadi primadona di warung nasi uduk ibu.


Aku memutuskan untuk menghubungi temanku yang bernama, Dina.


"Halo, Lik. Kapan lu mau jalan ke rumah sakit. Nanti kita ketemuan aja di konter depan ya. Duitnya udah gua siapin!" tegas, Dina kala ku telepon.


"Makasi banget ya, Din. Aku janji bakal ngembaliin secepatnya. Aku juga mau deh bantuin kamu jualan Frozen foodnya," jawab ku dengan. Hatiku cukup lega setelah mendapat solusi pinjaman dari kawan jauhku itu. Tempat tinggal kami beda kelurahan. Aku jarang bertemu dengannya. Apalagi semenjak aku punya Lulu, dan kemudian mas Azam Kecelakaan. Otomatis, pergaulanku pun terputus jarak dan juga waktu.


Alhamdulillah, hanya Dina yang masih mau mendengar keluh kesah ku. Menawarkan bantuan juga mencarikan solusi untuk permasalahan keuangan dalam rumah tangga ku saat ini.


Mulai saat itu, aku bekerja sama dengannya . Aku memutuskan untuk mulai berjualan secara online. Cukup posting foto produk yang akan aku jual. Di beberapa sosial media seperti si biru, hijau dan merah. Beberapa produk itu berupa makanan beku, cemilan dan juga pakaian anak-anak.


Bahkan, ada beberapa orang tua dari teman PAUD Heru beberapa waktu lalu, yang sengaja aku hubungin secara chat pribadi. Aku mencoba peruntungan rejeki dari rumah. Hanya bermodalkan kuota lalu posting barang yang akan ku jual.


"Mau kemana itu, bawa motor suami kamu? Ngayap ya? Mau cari selingkuhan?" cecar ayah mertuaku membuatku menghela napas dulu sebelum menjawabnya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2