Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 11. Prasangka Bisa Jadi Fitnah


__ADS_3

Menahan sesak dalam dada ini, akan tetapi aku tidak boleh menangis. Masih menunggu jawaban dari mas Azam, suamiku tercinta. Meskipun hati bertanya-tanya, apa yang telah di katakan ibu Mirna selaku mertuaku kepada putra sulungnya ini.


"Jangan mengalihkan topik, Dek. Ternyata benar apa yang ibu bilang. Adek sudah berubah semenjak bisa mencari uang sendiri. Bahkan, kamu berani menjawab kata-kata, Mas!" ujar Mas Azam lagi. Kembali mengoyak hatiku hingga rasa perih itu membuatku ingin berteriak kencang.


"Berubah bagaimana, Mas? Adek sama sekali tidak mengerti maksudnya apa? Adek menjawab bukan lantaran, tidak menghargai atau tidak lagi menghormati mas Azam sebagai suami. Adek hanya ingin menjelaskan duduk perkaranya dengan jelas, itu saja," tuturku menjelaskan tetap dengan ucapan yang sopan. Sekuat tenaga aku menahan emosi dalam dada. Ingin rasa hati, menghampiri ibu dan bertanya, apa yang telah ia katakan pada suamiku. Namun, aku mencoba bersabar untuk menangani mas Azam lebih dulu.


"Kamu yang lebih tau sejauh mana perubahan mu, Lika."


Deg.


Mas Azam memanggil menggunakan namaku. Itu tandanya, bahwa suamiku benar-benar marah. Apa yang sudah dimasuki kedalam pikiran mas Azam sebenarnya? Aku bangun dari duduk, mendekatinya kemudian berlutut. Ku raih tangannya, lalu ku letakkan pada salah satu pipiku. Ku lihat, Azam tidak menarik tangannya ... akan tetapi dia membuang pandangannya.


"Mas, sedikit pun ... Adek tidak merasa berubah. Apa yang ku lakukan saat ini juga demi membantu keuangan keluarga kita. Adek, tidak ingin kita terlalu bergantung kepada keluarga, Mas. Adek juga, ingin dapat sesekali mengirim uang untuk bapak di kampung. Itulah kenapa, aku melakukan ini semua dengan sungguh-sungguh. Tolong, jelaskan sama Adek ... perubahan apa yang Mas Azam lihat. Agar aku dapat merubahnya sesuai dengan apa yang Mas sukai," ucapku sambil mencium punggung tangan suamiku.


Alhamdulillah, mas Azam kembali memandang ku. Bahkan, tatapannya mulai sayu dan redup. Tidak membara seperti beberapa saat yang lalu. Ternyata benar, bahwa kelembutan dalam meredam kemarahan.


Terbukti, Mas Azam mulai mengusap pipiku. Ku pejamkan mata ini, demi merasakan sentuhan yang lama sekali tidak ku terima. Perlahan, jemari besar mas Azam ... bergerak menyusuri bibir ku.

__ADS_1


"Bangunlah, Dek. Jangan berlutut seperti ini," panggil mas Azam memerintahkan padaku untuk duduk di atas pangkuannya. Ia menepuk di tas kedua pahanya yang sejajar. Ah, yang benar saja mas?


"Aku berat, Mas. Gimana kalau nanti kakinya tambah sakit?" tanyaku memastikan. Dengan bentuk tubuhku sekarang, aku sama sekali tidak percaya diri untuk melakukan adegan-manis dan romantis seperti yang mas Azam inginkan.


"Tidak akan, Dek. Coba sini!" Sekali lagi, mas Azam menepuk pangkuannya. Aku pun dengan perlahan meletakkan bokong besar ku di sana. Ku dengar, suamiku itu melenguh pelan. Tuh, kan. Ku bilang juga apa. Pasti berat!


Aku sontak ingin segera berdiri lagi, akan tetapi tangan mas Azam langsung menahan pinggulku. Ia pun serta merta melingkarkan tangannya di pinggang lebarku. Lalu, meletakkan keningnya pada bahu. Ini, mas Azam kenapa sih. Kenapa, tiba-tiba kelakuannya berubah drastis.


"Maaf, tidak seharusnya, Mas membentak mu seperti tadi. Padahal, Adek menjadi susah begini lantaran keadaan Mas yang tidak berguna," ucap lirih suamiku dengan tatapan mata yang sayu. Membuat diri ini seketika menjadi trenyuh. Lupa sudah dengan bentakannya beberapa saat yang lalu. Aku mengerti, jika mas Azam juga tertekan di rumah ini. Emosinya memang tidak stabil lantaran himpitan, beban serta tanggung jawab yang masih ia pikul.


"Adek, mengerti, Mas. Memangnya apa yang saat ini, Mas pikirkan dan juga rasakan. Ungkapkanlah, apapun itu. Tanyakan jika ada hal janggal yang, Mas lihat dan rasakan dari kelakuan Adek akhir-akhir ini. Beri kesempatan bagiku untuk menjelaskannya padamu, Mas," tuturku lembut. Karena, hubungan suami istri itu berpangkal dari komunikasi. Jika hubungan ini baik, maka orang luar tidak akan mudah memprovokasi.


"Mas tenang aja, tidak akan ada laki-laki yang melirik Adek. Apalagi, mengantar pesanan sambil membawa dua anak yang kecil-kecil. Masih banyak wanita cantik di luar sana, Mas. Wanita sepertiku, insyaallah tidak akan di lirik," ucapku dengan senyum. Sungguh, ada-ada saja yang di pikirkan mas Azam. Ternyata, dia begini lantaran cemburu. Aku kembali menarik sudut bibirku ke atas.


"Maaf, jika ayah dan ibu telah mencurigai mu. Mas juga, soalnya. Kami heran, dalam waktu dekat daganganmu bisa selaris itu. Sampai, Adek bisa beli sabun dan body lotion bagus," terang mas Azam sambil sesekali melabuhkan ciumannya di bahuku.


Kenapa suamiku berbicara seperti ini, tiba-tiba. Bahkan, rangkulannya semakin erat. Sungguh, ini hal yang sangat aku inginkan sejak lama. Semenjak, mas Azam di diagnosa oleh dokter lumpuh sementara. Semenjak itulah kehangatan laki-laki gagah nan tampan ini memudar.

__ADS_1


"Seharusnya, tidak boleh berprasangka buruk dulu, Mas. Semua kan bisa di tanyakan dengan baik-baik. Lagipula, tidak ada sedikitpun niat dalam hati apalagi pikiran, Adek, untuk melakukan perbuatan zina seperti itu," jelasku sambil mengusap belakang rambut mas Azam.


Ayah, ibu ... Nela. Bukankah kalian yang berniat mengenalkan anak Azam dengan janda kaya itu. Kenapa kalian buat issue lebih dulu tentang perselingkuhan ku? Untung saja, aku mampu menahan emosi dan dapat kembali menenangkan, mas Azam. Tenyata, aroma sabun dan body lotion itu benar-benar nyata. Mas Azam mulai terhanyut dan menikmati harum tubuhku sepuas hatinya. Sepertinya, mas Azam juga merindukanku.


Kedua mata kami yang sayu saling menatap dalam. Berusaha menyalurkan rasa rindu yang cukup lama kami pendam. Perlahan, aku berinisiatif untuk memajukan wajahku. Berniat, memberikan kecupan manis kepada pria yang selama lebih dari enam tahun ini menjadi suami ku.


Baru saja kami berdua, saling menempelkan bibir. Tiba-tiba, terdengar panggilan kencang diiringi langkah kaki yang tengah masuk kedalam rumah kami. Beginilah kalau tidak punya pintu.


"Azam ...!" teriak ibu. Buru-buru, aku turun dari atas pangkuan mas Azam. Tapi, seketika telat. Sebab, ku tangkap kedua mata ibu sudah melotot hampir lompat keluar.


"Astaga! Kamu ini, apa-apaan sih Lika! Suami mu itu sedang sakit, kakinya lumpuh! Kenapa kamu malah naik di atasnya!" hardik ibu, yang langsung menghampiri dan menarik lenganku. Hingga kini jarakku dengan mas Azam menjadi agak jauh.


"Maaf, Bu ... tadi--"


"Udah gak usah ngeles! Harusnya kamu itu sadar diri sama bentuk badan kamu! Sengaja ya, biar Azam gak sembuh-sembuh terus kamu bisa seenaknya keluar rumah ketemu selingkuhan kamu! Iya kan!" cecar ibu dengan segala tuduhannya yang tidak mendasar.


Sudah merusak momen romantis orang, sekarang seenaknya melempar fitnah padaku. Ya Allah, Lika harus bagaimana menghadapi orang tua model begini ...?

__ADS_1


Mas Azam, ku lihat ia hanya menunduk tanpa berkeinginan membelaku.


...Bersambung...


__ADS_2