
"Bagaimana bisa? Bagaimana dengan janji dari wanita itu?"
"Besok, gue panggil, mbak Prapti kesini. Dia tuh anaknya pembokat di rumah nyokap gue. Dia baru kerja setengah tahun di rumahnya si janda gatel itu. Ternyata, si mbak Prapti aja belom di gaji selama dua bulan."
Sontak, berita yang di bawa oleh Dina, mengagetkan diriku. Kenapa, keadaan begitu cepat berubah. Jelita yang kaya raya sekarang sedang dirundung kesusahan. Usahanya banyak yang gulung tikar dan merugi. Entah, bagaimana nasib pernikahannya dengan mas Azam. Ku harap, baik-baik saja.
Beberapa hari kemudian, Dina datang bersama dengan mbak Prapti kerumah. Kebetulan, aku baru saja selesai menulis. Ku rapikan meja kerjaku, lalu ku beralih ke ruang tamu.
Heru dan Lulu, ku lihat masih asik bermain di kamar khusus bermain. Aku beranjak ke depan dengan tiga gelas minuman dan beberapa toples makanan kecil.
"Kata kamu, aku gak perlu lagi cari tau gimana, keadaan mantan. Mau jungkir balik juga, bodo amat aja, Lika. Ora urus!" Aku menyindir, Dina yang di sambutnya dengan kekehan geli.
"Lu inget aja, Lik. Tapi, ini berita heboh di kampung ye gak, Mbak Prapti. Kalo santer kabarnya si janda gatel itu pesugihan. Udah gitu, Ibu mertua kamu kena stroke lagi pas ngeliat suaminya, lagi begituan sama menantunya sendiri."
Aku, hampir saja menjatuhkan gelas yang ku pegang. Tidak menyangka jika jadinya seperti ini. Lalu, bagaimana tanggapan dari mas Azam?
__ADS_1
"Benar, mbak Lika. Mas Azam malu dan pergi ninggalin rumah. Gak tau sekarang tinggal dimana. Ada yang bilang sih ngontrak deket kantornya. Sekarang di rumah itu tinggal mbak Nela aja sendirian ngerawat, Bu Mirna yang stroke gak bisa bangun."
"Terus, pak Dahlan, kemana?" tanya ku.
"Tinggal sama istri barunya. Rumah itu rencana mau di jual. Udah di pasangin plang gede."
"Ya Allah, kenapa secepat ini keadaan memburuk," ucapku lirih.
"Benar kata kamu, Lika. Aku benar-benar percaya sekarang. Allah maha membolak-balikkan keadaan hambanya dengan begitu mudah. Dalam waktu beberapa bulan, kamu yang tadinya susah dan terhina. Kini menjadi orang sukses yang terpandang. Bahkan, nama kamu sudah mulai di kenal di dunia literasi dan juga entertainment. Sebentar lagi, salah satu novel kamu bakalan di jadikan film bioskop. Sedangkan, keluarga dari mantan suami yang sudah merendahkanmu, menghina mu, bahkan membuang kedua anakmu. Lihatlah, keadaan mereka begitu mengenaskan. Allah, bahkan menghinakan keadaan mereka sekarang."
"Lika, ajarin aku jadi hamba Allah yang lebih baik. Ajarin aku menjadi muslimah yang baik kayak kamu."
"Alhamdulillah!"
"Masyaallah!"
__ADS_1
Aku pun segera menghambur mendekat dan kemudian memeluk, sahabatku ini.
"Semoga, Allah menyambut baik niatmu. Aku, sebagai sahabat akan membantumu dengan optimal dan sungguh-sungguh. Selamat, Dina. Selamat merengkuh hidayah dari, Allah Azza Wazalla." Kami berpelukan begitu erat. Dengan derai tangis yang membuat mbak Prapti pun ikut menyeka air matanya.
"Sini, mbak ikutan."
Aku mengajak mbak Prapti, untuk ikut berpelukan dengan kami.
"Ajarin, saya juga ya, Mbak Lika."
"Insyaallah, Insyaallah."
Rasa haru ini tak dapat ku tahan lagi. Berkali-kali syukur ku ucap dalam hati. Allah, telah mendatangkan hidayah melalui contoh sebuah kejadian. Tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Segala takdir berada dalam kuasanya. Sejatinya, manusia hanya cukup berencana dan berusaha. Selebihnya, serahkan biarlah Allah yang mewujudkannya sesuai kebutuhan kita.
...Bersambung...
__ADS_1