
...Holahooo ......
...Mak Chibi udah up nehh .....
...Jangan lupa dukungannya yea!...
Vote
Hadiah
Like
Komen yang puanjaaanggg ...
...Wehehehe ......
...Dah dah dah ......
...Cekidot ajaaahh ......
Kejadian malam itu membuat, mas Azam tidak jadi menyentuh ku. Diri ini serta merta semakin jijik, ketika aku melihat menggunakan kedua mata ku bahwa mas Azam melakukan hal yang tidak sepantasnya bersama janda genit itu.
Ya Allah, kupikir apa yang kurasakan di hatiku hanyalah sekedar pikiran negatif saja. Tapi, ternyata semua perasaan burukku itu adalah kenyataan. Meskipun mas Azam berkata padaku bahwa mereka berdua tidak pernah melakukan hubungan skin to skin. Akan tetapi aku, tidak dapat lagi mempercayai setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Ku anggap semua hanya sebatas pengelakan saja.
__ADS_1
Karena menemukan bukti itu, dengan berat hati aku mengatakan pada mas Azam agar ia segera menikahi janda genit bin gatal itu. Berusaha menguatkan hati, meski setengah mati. Ketika, harus mengutarakan hal yang sangat berat untuk dapat ku terima.
Sore ini, di ruang keluarga. Ketika semua berkumpul untuk membicarakan pernikahan mas Azam. Aku pun ikut serta bergabung dengan mereka dan memilih duduk di sofa single.
Ku letakkan, kedua anakku di depan televisi rumah ibu, agar mereka diam dan tenang. Bermacam jajanan telah kusiapkan di depan Heru. Seraya berpesan padanya agar jangan mengganggu kami. Alhamdulillah, putraku itu sekarang mulai mandiri dan dapat dengan mudah kunasehati. Heru bahkan semakin mengerti bagaimana cara mengajak bermain adik kecilnya.
Aku, merasa Jika Allah memang telah mempersiapkan kami bertiga untuk melepaskan diri.
"Jadi, gimana, Lika. Kamu sudah siap kan jika Azam menikahi Jelita? Jangan sampai nanti di kemudian hari kamu menuntut ini dan itu. Lalu, mengadu sana-sini jika Azam telah menzalimi kamu. Sekarang katakan sejak awal jika kamu ikhlas, dan memang harus begitu. Semua demi masa depanmu dan juga kedua anakmu," tutur ibu mertuaku, panjang bin lebar seperti bentuk tubuhku.
Tapi, walaupun begitu. Diriku ini masih mampu membuat pria setampan mas Azam memandang diri ini dengan penuh napsu. Padahal, sudah ada Jelita yang siap memberikan apapun padanya. Mungkin, jika bentuk tubuhku masih bertahan seperti ketika gadis dulu. Aku dapat membuat suamiku bertahan dan tergila-gila terus. Ah, aku jadi tidak bersyukur kalau begini.
Karena nanti pada ujungnya aku akan menyalahkan kehadiran dari kedua anakku. Padahal, semua ini sudah menjadi jalan hidup. Sudah suratan takdir. Bukannya tidak dapat di ubah akan tetapi membutuhkan banyak waktu dan juga modal.
Sementara, sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan gaji dari suaminya. Tentu saja aku harus sangat berhati-hati dalam membelanjakan uang. Hampir tidak pernah memikirkan keadaan diri sendiri. karena satu hal yang membuat tenang adalah ketika segala kebutuhan suami dan juga kedua anakku terpenuhi lebih dulu.
Pak Dahlan, sebagai ayah mertuaku itu memang jarang bicara. Tapi, sekali berucap rasanya pedas sekali. Jarang berkomentar tapi sekalinya bersuara nyelekit di hati. Seandainya aku menantu yang jahat, mungkin saat ini ayah dan ibu sudah ku buat bertengkar. Karena, aku yang tahu rahasia besar yang tengah pria paruh baya itu sembunyikan dari seluruh keluarga saat ini.
Tapi, tentu aku yang paham akan akhlak dalam agamaku tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu. Jika memang sudah waktunya, pasti Allah akan membongkar aib hambanya. Seperti kata pepatah, bahwa sepandai-pandainya kau menyimpan bangkai ... maka baunya akan tercium juga.
Hanya tinggal menanti waktu yang pas dan tepat bagi, Allah. Sungguh, Tuhanku adalah penulis skenario terbaik. Dimana konflik dan klimaksnya sangat pas dan tidak akan pernah mampu di tebak.
Tidak seperti aku, yang hanya seorang penulis cerita novel. Dimana kadang alur yang ku tulis mampu dapat ditebak oleh pembaca. Setiap konflik yang ku buat terkadang hampir mirip kisah nyata. Tapi, jika Allah yang membuat maka kisah itu akan lain dari pada yang manusia yang lainnya.
__ADS_1
Menanggapi omongan kalimat per kalimat yang di sampaikan oleh ayah dan juga ibu dari suamiku. Bibir ini, hanya dapat ku tarik hingga menciptakan sebuah senyuman. Tenang, tanpa ada kesan emosi atau pun tertindas.
Tidak mudah memang. Semua tidak segampang yang terlihat dan terbaca. Butuh waktu berhari-hari bagiku, demi dapat merangkai serpihan hati menjadi satu kesatuan. Meskipun, bentuknya kini tak lagi seutuh semula.
Belum waktunya bagiku untuk menjawab, masih ku lihat dan ku tunggu kalimat merendahkan dari mereka selanjutnya. Hingga, kali ini giliran Nela yang berbicara.
"Kalo menurut aku sih, mbak Lika gak ada pilihan lain selain menerima dengan lapang dada. Apalagi nanti mbak Jelita mau melunasi angsuran mobil mas Azam. Kelak jika dia sudah sah menjadi istri. Bukankah itu enak, Mbak? Nanti, gaji mas Azam bakalan kembali utuh gak kepotong angsuran sana sini," ucap Nela, enteng.
Mudah saja ia berbicara, enak dimana? Enak bagi siapa? Ibu? Tentu saja iya.
Padahal mereka ini juga perempuan ya. Apa mereka tidak berpikir, seandainya, Nela atau Ibu yang berada di posisiku saat ini.
Bukankah, ibu terdengar seperti menjual putranya pada seorang janda kaya yang kesepian? Hingga, ia menumbalkan rumah tangga serta kehormatanku sebagai seorang istri. Seakan disini aku tidak hal sama sekali untuk berbicara dan mengutarakan keinginan serta pendapatku. Sejatinya, aku ini tidak bisu.
"Nah, benar tuh kata, Nela. Coba kamu berpikir seperti itu, Lika," tambah ibu lagi. Aku masih menanggapi ucapan mereka semua dengan seulas senyum.
Ya Allah, bagaimana nanti perasaan ibu, jika suatu saat, Nela berada di posisiku. Dapatkah ia mengajarkan arti kata ikhlas? Kepada putrinya itu? Atau, jika ibu telah mengetahui apa yang ayah lakukan padanya. Akankah, ibu juga dapat ikhlas?
Tak berapa lama kemudian, mas Azam menoleh ke arahku.
"Katakan jawaban mu, Lika. Jangan cuma senyum-senyum saja. Jangan sampai kami berpikir kalau kau ini sudah tidak waras," ucap mas Azam terdengar tak sabaran.
Sumpah, aku menahan mati-matian gelak tawa ini, agar tidak menyembur keluar dan mengagetkan mereka semua.
__ADS_1
"Ekhemm ... maaf! Sudah semua ya, yang bicara? Baiklah, jadi begini jawaban, Lika ..."
...Bersambung...