Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 8. Omongan Dibelakang


__ADS_3

Benar saja, aku begitu sangat kesulitan ketika harus berbelok dan menyebrang. Lulu mulai tak bisa diam di gendongan kangguru yang kuikat didepan tubuhku. Sementara, Heru juga ku ikat dengan kain di belakang.


Aku bisa bernapas lega ketika akhirnya barang pesanan sedikit demi sedikit telah berkurang. Setidaknya beban pada motor bebek milik suamiku ini sudah tidak terlalu berat lagi. Aku mulai merasa sesak. Pasalnya aku mengikat anak depan belakang, tentu saja napasku menjadi tertahan. Tahukah kalian jika bobot ku saat ini sudah dua kali lipat dari sebelum aku menikah dengan mas Azam.


Bagusnya, para pelangganku itu yang sebagian orang tua dari kawan Heru dan juga beberapa teman kala aku masih aktif mengaji bulanan di majlis taklim. Mereka mengerti dan mengambil sendiri barang pesanan tanpa membiarkan aku turun dari motor. Sebab, itu semua akan sangat rumit jika aku harus naik turun motor.


"Kenapa, anak kamu bawa semua, Lik!" seru kawanku yang bernama Dina. Dialah yang meminjamkan uang padaku beberapa waktu yang lalu. Dia juga yang mengajakku menjadi partner bisnis online nya. Mulai dari produk makanan beku, camilan yang sedang viral juga beberapa pakaian import.


"Kau tau kan, jika di rumah tidak ada yang menjaga mereka," jawabku. Dina membantu membuka simpul pada kain yang mengikat tubuh Heru ke punggungku. Lalu mengangkat putra pertama ku yang ternyata tertidur. Lalu, aku pun menurunkan Lulu dari gendongan kangguru. Putriku sudah haus rupanya, karena itulah aku menumpang kamar pada Dina untuk menyusuinya.


"Udah deh, kamu istirahat aja dulu. Kasian anak-anak juga tuh, kena angin," ucap Dina mengingatkan ku. Benar juga, membawa anak-anak yang masih kecil berkeliling kampung. Demi mengantar pesanan dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Tentu saja selain menyenangkan juga cukup melelahkan bagi mereka. Untung saja cuaca hari ini tidak begitu panas.

__ADS_1


Tak lama aku berada di rumah, Dina. Selain setor penghasilan dan membagi keuntungan, juga melaporkan beberapa barang yang mau di pesan. "Aku mau ajak kamu jaga toko, tapi kan gak mungkin Lik. Kamu punya suami yang harus di urus juga dua anak balita. Kalo di sana, kamu aku gaji perhari seratus ribu. Kamu juga bisa ambil upah kamu secara mingguan. Tapi, aku rasa kamu gak akan bisa," ucap Dina, yang sebenarnya kasian melihatku mengais rejeki seperti ini.


"Biarlah, aku mencari rejeki seperti ini dulu, Din. Doakan saja, mas Azam lekas kembali sehat. Aku kasian sama anak-anak," ungkap ku. Kepada Dina aku sedikit terbuka, tapi tetap tidak seluruhnya. Karena aib keluarga itu harus bisa ku tutup dengan rapat. Meskipun, orang dari luar berusaha menguliknya. Semua lantaran bukan karena mereka perduli padamu. Akan tetapi, mereka suka bila mendengar masalah dalam rumah tangga. Mereka hanya suka ketidakharmonisan dan keributan. Sebab itulah, aku menutupi keadaan sebenarnya dalam keluar mas Azam. Sehingga, orang luar tidak akan tahu bagaimana mereka semua memperlakukanku.


Semoga dengan cara menutupi keburukan orang lain, maka Allah akan menutupi juga setiap keburukan mu.


Aku pulang agak sore, lewat asar lebih tepatnya. Sebab, aku tadi menumpang solat dulu di rumah Dina. Aku tidak mau mengendarai kendaraan dalam keadaan melalaikan ibadah utama itu, padahal sudah masuk waktunya. Ku dengar suara ibu mertuaku mengoceh di warung. Aku baru saja mematikan mesin motor tepat di depan gerbang.


"Helu lapal, Ma," rengeknya dengan muka bantal. Dikarenakan memang, Heru baru saja bangun tidur, lalu ku ajak pulang.


"Iya, nanti kita makan sama-sama, setelah mandi. Sabar ya, sayang ...," ucapku berusaha membujuk.

__ADS_1


Aku mendorong tubuh kecil mungilnya pelan agar segera masuk kedalam rumah. Aku dengan masih menggendong Lulu di depan tubuhku. Berusaha memasukkan motor ke dalam pekarangan. Suara ibu semakin jelas terdengar.


" Jualan apa gini hari belom pulang! Istri macam apa kalo suaminya yang sedang sakit malah di abaikan!" oceh Ibu Mirna, mertuaku. Ibunya mas Azam, terdengar ketus dan kesal.


"Harusnya tuh, kalo jualan kayak aku. Customernya yang datang ke warung. Bukan kita yang datengin konsumen. Males banget capek!" celetuk Nela. Membuat ibu semakin berdecak kesal.


"Apalagi, kalo bukan ketemuan sama selingkuhan. Banyak kan yang kenalan di pacebok, terus kopi darat deh," tukas ibu terus menerus membicarakan ku dengan segala pemikiran jelek mereka. Tanpa mereka ketahui dan paham, bahwasanya aku sedang sungguh-sungguh berjuang. Bahkan, aku sampai rela membawa kedua anakku panas-panasan di jalan. Sesempit itulah pemikiran mereka? Atau, diriku ini sudah terlanjur tidak pernah ada benarnya?


"Ck, istri gak berguna gitu ngapain di pelihara lama-lama. Mending, mas Azam Nela jodohin sama bos parfum. Orangnya cantik, meskipun janda. Tapi hartanya peninggalan suaminya yang meninggal itu banyak banget." Ku dengar Nela terkikik geli.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2