
"Astagfirullah, Ayah. Mana ada, Lika punya pikiran kayak gitu," jawabku seraya membetulkan gendongan pada Lulu yang ku ikat di depan tubuhku. Sementara di bagian belakang dan depan motor berisi barang pesanan customer.
"Ya mana tau, kan sekarang mah jamannya kagak jelek kagak cakep yang selingkuh mah!" ketus pak Dahlan. Membuatku ingin rasanya menyumpal mulut tuanya itu dengan kotoran burung. Tega sekali menuduhku seperti itu.
"Ya Allah, Ayah. Coba liat ini, Lika bawa apa? Bawa pesanan customer. Ada baju, keripik, kornet, sosis dan makanan beku lainnya. Juga nih di depan gendongan Lika. Mana bisa selingkuh bawa anak!" tutur ku mencecar pria tua yang tak pernah sekalipun bicara dengan etika padaku. Tak salah kan jika akhirnya aku sedikit ngegas.
Mungkin, lantaran mendengar kegaduhan kami berdua di depan gerbang, Ibu pun menghampiri. Dapat kupastikan kedua matanya pasti mendelik. Meskipun ada motor di rumah, aku termasuk jarang keluar kecuali di suruh belanja kebutuhan dagang oleh Ibu. Sebab, kunci motornya memang sengaja ibu yang simpan. Tapi, berhubung aku ingin mengantar barang pesanan ... jadi kuminta mas Azam tadi mengambilnya dari laci warung.
"Siapa yang ngasih kunci motor, nih? Kok kamu gak ada bilang sama ibu?" cecarnya. Dalam hati ku kembali menyebut nama Allah. Susah sekali mau keluar rumah, bisa keburu tekat aku antar barang. Mana mesti keliling separuh kampung. Sementara, Lulu sudah mulai menggeliat dalam gendongan ku.
"Maaf, ya Bu. Tadi, Lika nyuruh mas Azam yang ambil. Lika mau pake buat nganterin pesenan," jelasku pelan dan santun. Meskipun hati ini merasa jengkel, lantaran membawa barang milik suami saja harus atas ijin ibu.
"Ganti dulu uang bensinnya, tadi ibu yang ngisi buat ke pasar," ucap Ibu sambil menengadahkan tangannya ke depanku.
"Ibu, bukannya tadi malem motor, Ayah. Nela kan yang bawa?" tanya ayah tanpa sadar membuka kedok ibu yang membohongiku. Berarti bensin di dalam motor ini masih milikku, sebab kemarin aku yang mengisinya sebanyak satu liter.
"Enggak kok, gak jadi! Tadi, Nela sama Ibu kepasar bawa ini. Jadi bensinnya beli pake duit warung harus di ganti," pinta ibu lagi.
"Ya sudah, nanti Lika ganti, Bu. Tapi, nunggu pulang ya," ucapku mengalah. Aku ingin buru-buru pergi kasian Lulu keburu nangis nanti.
__ADS_1
"Yaudah sana, jangan lama-lama!" usir ibu dengan lambaian tangannya.
"Sok sibuk banget, paling juga untungnya berapa," celetuk adik mas Azam Nela, yang tau-tau sudah ada di samping motorku. Aku tak peduli, ku hidupkan mesin motor dan ... wusshh!
Meskipun lelah, aku melakukan pekerjaan itu senang hati. Walaupun yang kuterima hanya recehan, lantas bukan berarti mengeluh. Kita harus tetap bersyukur. Tidak semua usaha harus meraih untung besar. Sebab, semua usaha di mulia dari yang terkecil dengan omset terendah dahulu.
Aku memang tidak ambil untung banyak, cukup seribu dia ribu. Setidaknya, aku memiliki uang hasil jerih payah sendiri. Setiap mau kontrol mas Azam, aku sudah tidak kebingungan lagi mencari tambahannya. Awalnya begitu, tapi lama-kelamaan Ibu mengurangi jatah ongkos taksi online untuk mas Azam ke rumah sakit.
"Minggu ini cuma sisa segini. Sisanya kamu cari sendiri ya. Kan udah pinter dagang tuh! Masa iya gak punya simpanan," ucap Ibu, seraya meletakkan uang seratus ribu ke atas nakas.
Mau protes pun percuma, tidak akan merubah keputusan juga ibu tidak mungkin menambah ongkosnya. Nanti, yang ada aku malah tambah sakit hati. "Insya Allah ada, Bu," jawabku singkat agar beliau cepat-cepat keluar dari kamarku yang kecil ini.
"Alhamdulillah, Mas. Mohon doain, Adek ya. Supaya dagangan ku tambah laris. Nanti, kita gak perlu lagi numpang makan dari Ibu," ucapku.
"Maaf, jika Lika jadi lebih sibuk akhir-akhir ini. Kasian juga Heru, jarang bisa Lika ajarin belajar. Lika, berharap bisa mengumpulkan uang agar Heru bisa sekolah lagi," ucapku pada mas Azam. Mengemukakan keinginan dan harapan yang hanya bisa ku simpan dalam hati.
"Fokus saja dulu sama usahamu, juga kesembuhan, Mas. Nanti, kalau Mas kembali bekerja baru kita bicarakan soal sekolahnya Heru." Mas Azam berkata sambil berlalu ke depan. Aku hanya bisa menghela napas kasar. Memang baginya pendidikan Heru itu tidak terlalu penting untuk saat ini. Tapi, tidak dengan ku. Bahkan, putraku itu suka merengek ingin kembali sekolah. Terkadang menangis jika melihat seragamnya di dalam lemari.
"Ma, Helu ikut ya, ngantelin pesenannya. Masa Lulu telus yang di ajak," rengek putraku di suatu sore. Hari ini selepas asar aku harus kembali mengantarkan pesanan ke kampung sebelah. Lumayan jauh, dan aku harus membawa dua anak bersama ku.
__ADS_1
"Mas, Heru minta ikut. Gimana?" tanya ku meminta pendapat dari mas Azam. Soalnya, nanti mau tak mau Heru akan kuletakkan di belakang. Sementara untuk ke kampung sebelah aku harus menyebrang jalan raya dua arah.
"Bawa saja, daripada dia nangis seperti kemarin-kemarin," jawab mas Azam mengecewakanku. Ku pikir dia akan melarang dengan keras lantaran khawatir. Dia kan tau bagaimana susahnya menyebrang di pertigaan itu.
"Coba, Mas kamu bujuk dia main Lego di atas tempat tidur. Nanti, mas temani jangan ditinggal tidur," ucapku mencoba mencari solusi. Badanku saja sudah cukup makan tempat di motor. Belum lagi barang pesanan yang penuh di depan motor. Bagaimana pula aku juga harus membawa Heru. Aku mana belum biasa memboncengnya di belakang.
"Memangnya sejak kapan, Mas tidur kalau menjaga anak. Heru nya aja yang nanti bakalan bosen terus nangis. Kalau ikut kamu kan sekalian jalan-jalan, jadi dia gak suntuk," jawab suamiku sangat menjengkelkan sekali. Ya Allah, ampuni aku yang banyak dosa karena kesal sama mas Azam.
"Asal kamu hati-hati, pasti bisa bawa anak dua di motor. Mas sering kok lihat perempuan kayak kamu. Jadi, bukannya lantaran Mas tega bicara begini. Semua agar kamu lebih mandiri lagi. Mas, gak mungkin selalu ada di samping kamu. Mas, bisa aja sewaktu-waktu pergi," tutur mas Azam yang entah kenapa bicara aneh seperti itu. Seketika dadaku sesak, membayangkan jika saat itu tiba bagaimana.
"Mas kok ngomongnya gitu sih. Lika jadi sedih," lirihku seraya mendekat kepadanya. Lalu kuraih tangannya yang hangat. Cukup lama tangan ini tidak membelai rambut juga tubuhku. Semenjak kecelakaan merenggut kebebasan mas Azam. Kehangatan dan juga perhatiannya ikut hilang.
Bahkan, ku mandikan saja dia tidak mau. Mas Azam selalu mandi sendiri, di atas kursi roda yang khusus untuk mandi.
"Mas, gak bermaksud buat kamu sedih. Tapi, Mas juga gak tau sampai kapan ada di atas kursi roda begini," lirihnya terlihat begitu sedih. Aku langsung memeluknya, memberi kekuatan hati padanya.
"Insyaallah, Lika bisa kok. Mas, istirahat aja di rumah. Jangan tidur terus ya ... mending sambil baca Al Qur'an aja. Atau sambil solawatan, biar Allah cepet angkat penyakit, Mas," ucapku berusaha melerai kesedihan yang tiba-tiba mendera kami.
"Iya, Mas tau, Dek." Mas Azam menjawab, tapi ku dengar terdapat nada tak suka dari gaya bicaranya. Apa aku terkesan mengguruinya saat bicara tadi?
__ADS_1
...Bersambung ...