
POV AZAM
"Apa yang wanita itu berikan, Mas? Kenapa kamu membuangnya?" cecar Lika tak sabaran. Wajah istriku itu terlihat curiga campur kesal. Aku tau, jika dirinya pasti akan cemburu. Apalagi jika ku ceritakan semuanya dari awal. Bagaimana, wanita itu yang datang menawarkan beberapa hal menguntungkan kan buat ku.
"Makanannya terlalu pedas, sebab itu Mas membuangnya," jelasku singkat. Memang lambungku ini tidak bisa bila makan masakan pedas. Karena itu, Lika lebih sering membuat sambal dari pada mencampurkan banyak cabai ke dalam masakan.
Lika tidak meneruskan lagi pertanyaannya, sebab aku memilih melanjutkan acara makanku. Sebenarnya, aku tidak terlalu lapar. Tanpa ku duga, Jelita kembali mengantarkan martabak keju semalam. Tapi, aku tentu tidak akan menceritakan hal itu pada Lika. Bisa-bisa nanti dia tenang sehingga tinggal lebih lama lagi di rumah mertuaku, sebut saja pak Sugeng.
Ku perhatikan dari belakang, istriku yang sedang memasukkan cucian ke dalam mesin. Barang itu adalah hadiahku atas kehadiran Lulu ke dunia. Aku sempat berjanji padanya jika mendapat anak lagi aku akan memberikannya mesin cuci. Kasian juga, jika istriku harus mencuci menggunakan tangan setiap hari. Aku hanya berpesan, untuk pakaian kantor ia harus tetap mencucinya dengan tangan.
Sebenarnya, sudah lama aku menahan hasrat ini. Kebetulan lagi ini di rumah suasana sedang sepi. Heru, putra pertamaku tertidur di depan televisi. Begitu juga dengan putriku, Lulu. Aku pun menyingkirkan piring bekas makanku ke atas meja. Lalu ku hampiri Lika yang masih serius memilih pakaian kotor. Bahkan, istriku ini belum mengganti bajunya. Ia masih mengenakan gamis besar itu. Hanya saja, kerudungnya telah ia lepas. Hingga rambutnya yang panjang dan ikal dapat ku lihat tergerai jatuh di punggungnya.
Semua pakaian penghuni rumah ini, nampaknya ia cuci sekalian. Sepertinya memang begitulah setiap harinya. Karena jika tidak, maka ayah akan melarang Lika menggunakan mesin cuci. Aku sih semua terserah Lika. Toh, dia yang mengerjakannya. Lagi pula istriku itu asik saja tanpa mengeluh. Tidak capek juga, sebab mesin yang mencuci bukan tangannya.
__ADS_1
Aku memutar roda pada kursi ku menggunakan kedua tangan. Perlahan menghampiri Lika ke dapur. Ku lihat sesekali tubuhnya membungkuk merapikan beberapa piring ke dalam rak. Bokongnya yang besar dan penuh menggoda imanku. Hasratku yang lama terpendam mendadak bergelora. Aku semakin dekat padanya, dan ...
GREP!
"Astagfirullah, Mas!" kagetnya. Aku memeluknya dari belakang. Ku hirup aroma tubuhnya yang wangi. Selama menikah denganku, tidak pernah sekalipun, Lika bau masam atau kecut. Ia pintar menjaga kebersihan dirinya. Meksipun jika di rumah pakaiannya selalu kumal dan kusam. Maka itu, terkadang aku tidak pernah memandanginya hanya perlu mencium aroma, Lika sambil menggerayanginya tubuhnya. Lagipula, bagian mana yang perlu kunikmati? Semua sudah berubah semakin besar bahkan tak jelas lagi bentuknya. Tapi, kalau soal rasa, Lika masih nikmat seperti awal mula aku menjamahnya di malam pertama.
"Mas ...," Lika mulai terbawa suasana. Terbukti dari suaranya yang mulai lirih dengan desah tertahan. Aku terus menciumi area pinggangnya, sambil mengusap lembut punggungnya. Beralih kedepan, untuk mengusap perutnya yang sedikit buncit itu. Lalu beralih ke atas, memberi remasan perlahan pada bongkahan besar, dimana hanya aku saja yang tau betapa indah bentuknya. Apalagi, kalau tubuhnya agak singset sedikit.
Kemudian ia pindah kerja, sebab Lika semakin baik dalam menutup auratnya. Swalayan itu tidak menerima karyawannya mengenakan jilbab panjang menutup dada. Memang dada Lika yang besar jika tidak ditutupi akan membuat para lelaki bertraveling. Ku tau saat itu ia telah bekerja di sebuah ruang makan padang.
Tak lama, aku meminta ayah dan ibu melamarnya. Aku pikir ia gadis yang sopan dan tidak neko-neko. Setelah kedua orang tuaku menuntut agar aku menikah. Maka pilihan ku jatuhkan pada Lika. Berharap aku punya istri yang menurut dan gampang di atur.
Baru kusadari di malam pertama kami. Ketika kulihat keseluruhan bentuk tubuh Lika yang ternyata begitu indah di balik gamisnya. Aku merasa menjadi lelaki paling bahagia kala itu, hingga perubahan demi perubahan terjadi semenjak ia hamil anak pertama kami.
__ADS_1
Aku tidak tau, jika karena hamil dan melahirkan maka tubuh wanita akan berubah drastis. Jika ku tau begitu, sudah pasti ku tahan dulu selama beberapa tahun. Setidaknya sampai aku puas menikmati tubuh gitar spanyol Lika. Sebelum berubah menjadi bedug.
Tapi, hari ini aku tidak tahan lagi. Aku tidak peduli bentuk tubuhnya. Aku hanya memikirkan bagaimana rasanya. Bagaimana pun, Lika seperti itu juga berjasa padaku. Aku memiliki anak sepasang di usiaku yang masih muda. Semenjak kecelakaan, Ibu melarangku untuk menyentuh Lika. Takut jika nanti istriku hamil dalam keadaanku yang terbatas seperti ini. Sebab itulah, aku terpaksa bersikap dingin pada istriku ini.
Tapi, hari ini tak ada ibu di rumah. Kemarin-kemarin, Lika sibuk mengurus ibu di rumah sakit. Padahal itu adalah kesempatanku untuk menikmati waktu berdua dengannya. Bukan aku bahagia ibu di rawat, hanya saja momen seperti ini langka sekali. Tapi aku kesal, Lika malah menghabiskan waktu lama sekali di rumah sakit. Meskipun itu demi ibuku, entah kenapa aku tetap kesal. Aku memutuskan akan menumpahkannya hari ini.
"Dek, yuk ... mumpung di rumah sepi, gak ada orang lain," ajakku pada Lika yang telah berbalik menghadapku. Aku menaikkan gamisnya keatas, menciptakan semburat merah di kedua pipi tembemnya. Sama chubby-nya dengan bibir bagian bawahnya yang amat ku suka.
"Mas ... Lika kunci pintu utama dulu ya ...," desahnya sambil menahan wajahku yang ingin mulai bermain di bagian itu.
Traveling oi ... traveling!
...Bersambung ...
__ADS_1