Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 39. Awal Kesuksesan Ku.


__ADS_3

"Waalaikum Salam. Nona, Azura!"


Ketiga orang ini pun kembali duduk setelah menjawab salam. Terdapat dua laki-laki dan satu perempuan selain aku.


"Jadi, nama anda adalah, Syalika Azura. Tapi di nama pena menjadi Azura HL. Benar begitu ya?" tanya salah satu penulis yang akan menjadi partnerku. Dia adalah, Afika Baharuddin. Salah satu penulis skenario berbakat. Dimana, naskahnya telah beberapa kali dibuat acara televisi.


"Benar, Mbak. Mohon bimbingannya, karena saya masih sangat baru di dunia literasi dan penulisan naskah," ucapku.


"Anda sangat merendah, naskah, Nona Azura sudah kami lihat. Dan itu sudah rapi, isinya pun menarik. Mana mungkin, jika pemula bisa seperti ini. Benar gak?" Mbak Afika memujiku bahkan meminta dukungan pula dari yang lainnya.


Ketiga kawan yang menjadi tim ku, ikut mengangguk setuju. Alhamdulillah, kuucap syukur berkali-kali dalam hati. Tak kusangka, bahwa mereka sangat baik dan ramah. Ketika menuju kesini, sendirian, aku sempat khawatir. Ku kira, para senior ini akan ketus ataupun sombong. Ternyata, semua itu hanya kekhawatiran ku saja.


Thanks, Allah. KAU, melancarkan segala hajat dan juga niatku.


Singkat cerita, kami membuat naskah sebuah drama series religi yang akan di putar di saat bulan suci ramadhan tahun depan.


Naskah selesai, di setujui pihak Production House. Mendapat sambutan dari pihak televisi swasta yang akan menjadi wadah tayang. Uang honor pun masuk ketika drama series pertamaku mulai syuting.


Aku mengajak, Dina dan kedua anakku juga pengasuh datang menghadiri acara syukuran. Pemotongan tumpeng untuk syuting perdana di salah satu Villa daerah Lembang Bandung.


"Selamat, Mbak Azura. Acc-nya cepet banget. Proses penandatanganan sama sekali gak sulit dan cepat. Semua, karena naskah yang kita buat itu sangat menarik."

__ADS_1


"Itu semua karena, Mbak Azura gabung sama kita. Naskah buatan kita jadi emejing banget," kelakar dari Bang Anwar dan Mbak Fatin. Salah satu anggota tim naskah dan script.


"Itu semua bukan karena saya, tapi emang Allah sudah menetapkan rejeki kita di sini," ucapku, membuat tim ku mengangguk setuju.


Alhamdulillah, ternyata kalau sudah masuk dunia pertelevisian. Honornya lebih besar ketimbang menulis novel. Aku sungguh tidak menyangka. Hanya dalam waktu beberapa bulan pasca perceraian. Allah membuka jalan rejeki kedua anakku besar-besaran.


Entah bagaimana tanggapan mantan suamiku dan juga keluarganya jika mereka tau bagaimana kehidupan kami sekarang.


Aku harap mereka bahagia. Tidak baik mendoakan hal buruk meski pada orang jahat sekalipun. Itu adakah salah akhlak yang Rosulullah ajarkan pada umatnya.


Aku bahagia, meski hanya hidup bersama ketiga anakku.


Saat ini, aku dapat menyewa rumah yang lebih bagus dari sebelumnya. Dalam hati berjanji, aku akan bekerja lebih giat lagi. Juga, bersedekah lebih banyak lagi.


Kebetulan, di akhir pekan. Aku mengajak bapak mengunjungi kediaman kami.


Setyo sibuk membawa tas berisi pakaian bapak. Karena beliau akan menginap selama beberapa hari di sini.


Sayang, kak Lidia tidak bisa ikut berkumpul bersama. Dikarenakan keadaan suaminya yang sedang sakit, sehingga membutuhkan perhatian dan perawatan darinya.


Akan tetapi, kami tetap bisa berhubungan lewat hubungan jarak jauh yang tersambung melalui sebuah aplikasi teknologi.

__ADS_1


[ Mbak ikut seneng, Lika. Kamu bisa sukses dengan hasil jerih payahmu. Kemampuanmu. Kau sungguh, membuat kami kaget sekaligus bangga, Lika. Maaf, Mbak gak bisa ikut kumpul. Mbak sayang sama kamu, kangen banget sama si krucil. Nanti, Mbak ajak pak suami main kesana ya! ]


Ku lihat, mbak Lidia menghapus bendungan air yang berkumpul di sudut matanya. Ku tengok kesebelahku, bapak nampak tersenyum penuh haru. Dalam hati aku berjanji akan memberi kebahagiaan di masa tua bapak. Semoga, Allah memberi ku kesempatan itu.


"Tyo, kamu nanti kerja aja. Biar bapak di sini beberapa hari sama, Mbak."


"Memangnya, Mbak Lika enggak repot, harus ngurus, bapak juga?" Pemuda berkacamata dengan rambut ikalnya ini menatapku penuh tanya.


Aku pun tersenyum lembut, meyakinkan kekhawatiran yang singgah di hari dan juga pikirannya. "Di sini ada yang bantuin, jadi kamu tenang aja. Seenggaknya, Mbak juga mau ngerasain ngurus, bapak."


"Ya udah, sebetahnya bapak aja. Nanti, Mbak hubungin aku langsung kalo ada apa-apa ya. Biar, Tyo langsung jemput bapak."


Tyo, adik lelaki satu-satunya. Meskipun begitu, dirinya sangatlah pengertian dewasa di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun.


Tidak merasa keberatan sama sekali ketika kedua kakak perempuannya tak dapat mengurus orang tua kami satu-satunya ini.


"Lagipula, mengurus bapak itu tanggung jawab aku, sebagai anak lelaki bapak. Jadi, Mbak jangan merasa bersalah. Justru, takutnya nanti jadi dosa ku, kalau melimpahkan tugas ini ke, Mbak Lika."


Dengar kan, kalimat yang di ucapkan adikku yang manis ini. Hati siapa yang tidak akan trenyuh dan terharu mendengarnya. Ia begitu pengertian, meskipun sibuk dengan pekerjaannya, tetap senang hati merawat bapak.


Suatu hari, Dina membawa kabar dari keluarga mas Azam. Hatiku tersentak. Ini kan baru beberapa bulan. Kenapa bisa jadi seperti ini?

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2