
Suamiku lantas berdiri tegak, lalu berjalan menuju jendela. Sepasang mata teduhnya yang sepertinya enggan untuk menatapku dengan hangat lagi seperti dulu, kini menerawang ke depan. Entah, apa yang tengah ada di pikirannya saat ini.
"Keadaanku, kini berangsur-angsur pulih. Penobatan di pusat kota dengan membayar dokter mahal ternyata memang membuahkan hasil yang memuaskan," ucap mas Azam dengan senyum yang membingkai setiap kalimat yang keluar dari bibirnya. Nampak terlihat betapa ia bahagia, akan semua yang kini terjadi pada dirinya.
Satu hal yang mungkin tidak pernah ia bayangkan akan kembali menjadi miliknya. Kesehatan dan kebebasan.
"Semua ini, berkat kebaikan Jelita. Perhatiannya sangat tulus. Seandainya, dia tidak menawarkan bantuan ini. Entah, sampai kapan aku tersiksa di atas kursi roda," ucapnya lagi, seperti menyiratkan sesuatu. Tapi, aku diam dan menyimak. Menantikan kalimat berikutnya. Apapun itu, aku sudah siap.
"Karena itu, aku tidak mungkin menolak keinginannya yang memohon perlindungan dan juga nama baik. Ku harap kau mengerti posisi, Mas, Lika."
Deg!
Akhirnya, kalimat yang ku takutkan itu terucap juga dari bibir sensual suamiku. Ah, bibir yang lama sekali tak kurasakan kehangatannya. Mungkin, saat ini telah berpindah kepemilikan. Siapa tau ...
Aku bukan orang bodoh yang tidak tau apa yang sudah mereka berdua lakukan ketika pergi bertiga dengan, Nela.
__ADS_1
Ada saja, bukti yang tiba terkuak. Pengobatan, mas Azam telah selesai sekitar sepuluh hari yang lalu. Tapi mereka tetap pergi keluar dengan alasan terapi. Padahal, mereka hanya bersenang-senang. Kalian tau kan maksud ku.
Karena itulah, satu hal yang wajar jika aku tidak lagi mau bertahan. Bahkan, saat ini ... mas Azam tidak lagi memanggilku dengan panggilan kesayangannya. Mas Azam memanggilku dengan sebutan nama, seperti kita berdua hanyalah orang asing.
Kuambil napas panjang untuk menguatkan hatiku. Meskipun aku telah mempersiapkan diri, tetap saja sesak ini masih menggelayuti. Ku paksakan kedua sudut pada bibirku menciptakan lengkungan sabit. Agar, suamiku ini tidak melihat penderitaan itu di dalam diriku. Meskipun, ia tau bahwa aku adalah wanita yang sangat mencintainya.
"Hemm, iya, Mas. Lika mengerti, bahkan sangat mengerti. Katakan, bagian mana yang tidak bisa aku mengerti selama ini?" tanya ku pada mas Azam. Dimana kini, aku telah berada di samping raganya. Ia sontak menoleh ke arahku. Aku pun, melakukan hal yang sama. Ia nampak tak percaya, kala melihat seulas senyum merekah dari wajahku yang kini tak lagi berjerawat. Mungkin, mas Azam tidak akan sadar. Toh dia tak pernah memperhatikanku.
Tapi, ku lihat, mas Azam nampak sedikit kaget. Sebab, posisi kami sangat dekat. Malam ini, aku bahkan menggerai rambutku pun dia pasti baru menyadarinya. Rambutku sudah berbentuk sekarang. Karena aku telah merawat dan membentuknya di salon langganan, Dina.
Hari itu, aku beralasan bahwa, Heru sedang mengadakan tour dari sekolahnya. Berbohong sedikit tak apa kan? Lagipula, tidak ada yang ku rugikan dari hal yang ku lakukan hari itu. Apa aku meminta uang pada mereka, pada suamiku? Tidak! Dina, yang menghadiahkan semuanya padaku. Sebagai, tanda syukur tepat di hari anniversary pernikahannya.
Kenapa Mas? Kamu bingung ya, baru sadar terhadap perubahan ku? Salah mu, tidak mau menatap bahkan ke wajah istrimu sendiri.
Aku tetap tersenyum, seraya menyibak sedikit rambutku. Lalu, menyelipkannya ke belakang telingaku. Ku harap, mas Azam dapat mencium aroma shampoku yang sangat wangi ini. Bahkan, malam ini pun aku mengenakan wewangian. Aku memang tidak pernah sekalipun bau ketika bersama mas Azam.
__ADS_1
Ku perhatikan, jakun suamiku ini turun naik. Pertanda, bahwa hasratnya mulai tergoda akan penampilanku yang segar dan wangi. Memang, bobotku ini susah untuk di vermak. Butuh waktu banyak untuk mengubahnya lagi. Bahkan, semua akan sia-sia selama aku masih mengkonsumsi hormon progesteron. Alias pil penunda kehamilan.
Akan tetapi, jika berhubungan dengan kulit wajah. Maka itu semua bukanlah hal yang sulit. Wajahku ini gampang di rawat asalkan ada modal dan juga waktunya. Kalau kata, Dina ... tinggal di make over sedikit langsung macam artis.
Ah, aku tergelak kala sahabatku itu berkelakar mengenai wajah ku. Ku akui, kata-katanya memang benar, sebab itulah mas Azam terpikat padaku bukan?
Bahkan, menurutku ... janda genit itu kalah cantik jika saja bentuk badanku masih seperti dulu. Sayangnya, aku tidak pernah sekalipun mengenakan pakaian seksi meskipun di depan suami sendiri. Pasalnya, mas Azam tidak suka jika aku menghamburkan uang untuk membeli barang yang tidak penting. Katanya, untuk menyenangkan suami ... seorang istri hanya perlu telanjaang di atas ranjaang.
Tapi, lihat dia sekarang.
Bahkan, kedua bola matanya seakan ingin melompat keluar ketika melihat janda genit itu mengenakan pakaian kurang bahan. Andai saja mereka sadar, jika bukan hanya mas Azam yang terpikat pada kemolekan tubuh yang di obral sedemikian murah oleh, Jelita.
"Dek, aku ... Mas, hanya bermaksud membalas budi baiknya. Ini juga ... demi kebaikan kita semua. Mas, bisa bekerja kembali setelah ini," ucapnya mulai kehilangan konsentrasi.
Kena kau, Mas!
__ADS_1
...Bersambung....