Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 28. Siapa yang menggoda, Mas?


__ADS_3

Wanita, jika sudah cinta maka akan memperlakukan mu bagai dewa.


Ia akan mengorbankan segalanya. Bukan hanya hati, tapi juga jiwa dan raganya.


Akan tetapi, wanita jika sudah kecewa. Maka ia akan menyerah dan pergi.


Jangankan untuk menatap wajahmu, mendengar kabarmu lagi pun takkan sudi.


Baginya, kamu telah hilang ditelan bumi.


*


*


*


POV AZAM


Malam ini, Lika mengajakku berbicara serius. Entah apa yang ingin ditanyakan oleh istriku itu. Jujur saja semenjak aku mengenal, janda kaya yang cantik itu. Aku semakin tidak berselera terhadap Lika.


Jelita, wanita yang baik dan begitu perhatian. Dia juga sangat royal terhadap kami, terutama padaku. Bukan hanya membiayai pengobatan ku selama di kota. Juga, membiayai ongkos serta jajan kami ketika di sana. Bahkan, juga mengajakku belanja beberapa pakaian, sepatu juga jam tangan baru.


Sungguh tidak kusangka, di balik keterbatasan ini, ternyata pesona ku masih yahut. Terbukti, Jelita berani mengeluarkan uang banyak untuk ku. Janda cantik itu, rupanya benar-benar tercandu-candu padaku. Masih ku ingat, bagaimana rayuannya tadi siang ketika aku menemaninya makan di cafe sekaligus tempat karaoke.


Suaranya sih tidak terlalu bagus. Kalah jauh jika dibandingkan dengan, Lika. Suara istriku itu sangat lembut dan renyah. Sangat bagus jika bernyanyi lagu apapun itu. Di awal pernikahan, ia sering bernyanyi untukmu. Seiring waktu, ketika ia semakin di sibukkan oleh kehadiran kedua anak kami. Maka, Lika sudah tidak pernah lagi bernyanyi kecuali mendendangkan sholawat pengantar tidur untuk, Heru dan Lulu.


Entah, kapan terakhir aku bermain dengan mereka. Sebenarnya, terbersit rasa rindu di dalam hati ini. Hanya saja, hubunganku dengan Jelita sangat menghabiskan waktu. Aku tidak enak jika, abai kala ia butuh teman mengobrol. Lagipula, aku senang kala berbicara dengannya.

__ADS_1


Meskipun, raga kami belum menyatu sempurna. Jelita mampu memuaskan ku dengan kalimat demi kalimat rayuannya. Kami, telah beberapa kali melakukan sebuah panggilan sexual melalui telepon.


Meskipun, Jelita yang selalu lebih dulu menawarkannya padaku. Sebagai seorang lelaki normal, siapa yang akan menolak kemolekan tubuhnya jika kau di tawarkan untuk melihatnya, walaupun secara tidak langsung. Akan tetapi hal itu cukup membuatku semakin penasaran padanya.


Tentu saja aku semakin tidak sabar jika nanti, tiba waktunya aku menikahi, Jelita. Bahkan, ia akan mengajakku tinggal di rumahnya yang sangat mewah itu. Bukankah, para kawan kantorku akan loncat bola matanya. Kala melihat ku memiliki istri kedua yang kaya raya.


Memikirkan kemungkinan itu membuatku tak fokus akan apa yang tengah dibicarakan oleh, Lika saat ini. Aku hanya tahu jika ia membuatkan ku kopi juga camilan roti bakar. Darimana dia membeli barang ini semua? Ah, aku malas bertanya. Mungkin saja orderannya sedang ramai. Pantas saja ia tak pernah meminta uang padaku.


Ia beberapa kali memancing agar aku ungkap apa yang sedang aku rencanakan. Tepatnya keluargaku rencanakan. Kami, harus segera membayar hutang budi ini pada, Jelita. Aku tentu tidak akan menyesal kelak nanti bersama dengan janda kaya itu.


Karena, kepribadiannya sangatlah bagus. Terbukti, ayah dan ibu Bahkan juga, Nela sangat menyukainya. Terutama, ayah. Beliau sangat perhatian, dan begitu bersikap lemah-lembut pada calon menantunya itu. Setiap, Jelita bertamu, ayah pasti akan memeluknya. Hal yang tidak pernah kulihat ayah lakukan pada istriku, Lika.


Lika semakin mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Aku tau, ia sengaja melakukan itu. Aku sebenarnya sudah jengah berlama-lama di sini. Ingin rasanya kembali ke kamarku dan bertelepon ria hingga tengah malam bersama, Jelita.


"Mas--"


Aku bahkan tak berhenti tersenyum bahagia di saat membicarakan, Jelita serta segala kebaikannya.


Ibarat malaikat penolong, Jelita hadir di saat aku hampir putus asa atas apa yang terjadi pada ku dan juga keluarga.


"Ku harap kau mengerti, Lika. Ini semua demi kita dan juga masa depan anak-anak. Dengan keadaanku yang telah kembali sempurna, tentunya, Mas akan dapat bekerja kembali," ucapku dengan senyum terkembang. Tentunya bukan ku tujukan pada Lika, istriku. Akan tetapi, aku barusan membayangkan bagaimana reaksi dari kawan-kawanku nanti di kantor.


"Tentu saja, Lika mengerti, Mas. Bahkan, sangat mengerti. Katakanlah, jika ada satu hal yang tidak aku mengerti. Agar, nanti bisa Lika pahami lagi. Mas, kan tau jika aku ini hanya berpendidikan rendah. Tidak tinggi seperti mu. Sehingga, pemahamanku agak sedikit lambat, seperti kata ibu," tutur Lika mengandung sindiran halus. Entah apa maksudnya, aku pun langsung menoleh ke arahnya.


Deg!


Ku lihat, ia pun menoleh padaku. Hati ini seketika tersentak kaget. Pasalnya, Lika tersenyum padaku dengan sangat manis dan menawan. Persis, dengan senyumannya ketika pertama kali aku menyatakan perasaan kala itu.

__ADS_1


Kenapa aku baru sadar? Jika malam ini, istriku nampak ... berbeda!


Kalau soal wangi aku sudah biasa. Tapi, penampilannya terlihat begitu segar dan ... bahagia. Padahal, pembahasan kami barusan menyimpulkan niatku yang ingin menikahi wanita lain.


Seketika rasa di dalam dadaku berdesir, apalagi ketika, secara Lika menyibak rambutnya. Di sanalah aku kembali sadar, jika kulitnya tidak lagi kusam. Wajahnya tidak lagi berjerawat, bahkan bentuk rambutnya oval tidak berantakan seperti kemarin-kemarin.


Apakah dia selama ini perawatan? Darimana uangnya? Bagaimana aku bisa tidak menyadarinya. Sudah berapa lama, aku tidak menghabiskan malam dengan, Lika, istriku? Ah, malam ini, apakah dia sengaja berniat menggodaku? Dengan berdandan secantik ini?


Aku tidak peduli bentuk tubuhnya, jika wajahnya begitu sedap di pandang. Bahkan, Lika tak henti untuk terus tersenyum manis padaku. Lagipula, sudah lama diri ini tidak menyalurkan hasrat padanya.


"Lika, apa kau sengaja menggoda, Mas?" tanyaku penasaran. Apalagi ia mengenakan daster dengan bentuk potongan yang bagus. Berleher rendah dan sedikit di atas lutut. Tentu, aku dapat melihat terusan Suez serta pahanya yang putih meskipun besar.


"Siapa yang menggoda, Mas. Memangnya, aku Jelita," sarkasnya membuatku seketika geram dan kemudian mencekal lengannya.


"Apa maksudmu? Apa, kau baru saja menyindirku? Kalau aku tergoda oleh kecantikan, Jelita? Aku ini tulus, ingin membalas budi padanya. Anggap saja semua ini adalah pengorbananku terhadap keluarga!" bentakku padanya. Walau begitu, Lika tidak takut. Ia justru tersenyum kembali.


Terbuat dari apa hati wanita ini?


Kenapa juga, sejak tadi aku terus memperhatikan bibirnya yang merona itu. Entah, sudah berapa lama aku tidak merasakan manisnya sesapan, Lika.


Aku pun memajukan wajahku, reflek mengikuti naluri ku sebagai lelaki yang berstatus suami.


"Mau apa, Mas?" tanya, Lika. Seketika membuat ku gemas.


"Tentu saja ingin meminta hakku sebagai suamimu!" jawabku tegas.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2