Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 31. Perkara Dalam Kamar


__ADS_3

Jelaskan apa ini, Mas!" teriakku, seraya melempar beberapa lembar foto bugil Jelita, ke wajah suamiku. Berikut sebuah alat bantu memuaskan diri. Benda itu sengaja ku lemparkan dengan keras ke atas lantai.


Hati ini tak dapat menyembunyikan rasa geram dan kesal yang membuncah. Ketika kudapatkan bukti apa yang dilakukan mas Azam selama ini. Betapa menyakitkan. Dada ini bahkan kurasa amatlah sesak. Seperti tengah tertindih benda berat.


Dada ku turun naik menahan kesal, seraya menatap jijik ke arah mas Azam. Refleks, aku memundurkan diri seraya mengusap tubuhku yang telah di sentuh olehnya. Tak habis pikir aku padanya. Seorang pria yang terlahir memeluk agama, kenapa dapat berbuat hal tidak pantas seperti itu.


Padahal, mas Azam masih memilikiku sebagai istrinya. Jika ia butuh, kenapa justru melampiaskannya dengan benda haram itu! Kenapa harus berzina dengan wanita yang belum halal untuk ia lihat dan ia bayangkan. Ya Allah, pantas saja hati ini seakan menolak. Ternyata ini penyebabnya. Mas Azam, suamiku ... telah berkhianat di belakang ku. Pria yang sangat aku banggakan dan sangat aku cintai, ternyata telah menodai rumah tangga yang begitu ku junjung tinggi.


"KETERLALUAN, KAU, MAS!" pekikku kencang. Aku tidak perduli lagi hukum seorang istri yang berani membentak suaminya. Hatiku saat ini sangat sakit dan kecewa. Semoga Allah mengampuni ku. Allah maha tau apa yang kurasakan sekarang.


"A–aku ... Lika, Mas bisa jelaskan. Semua tidak seperti apa yang kau pikirkan," elak mas Azam.

__ADS_1


"Memangnya, apa yang seharusnya aku pikirkan? Katakan apa, Mas!" kataku masih dengan nada tinggi.


"Jangan membentak suamimu, Lika! Apapun yang ku lakukan itu bukan urusanmu! Semua dosa itu aku akan tanggung sendiri. Tapi, tidak dengan dosa-dosa mu, Lika. Aku yang akan menanggungnya jika aku tidak dapat mendidikmu menjadi istri yang berbudi!" bentak mas Azam yang mungkin mencoba menutupi kesalahannya dengan berbalik marah padaku.


Betapa sakit hati ini, ya Allah. Mas Azam mengatakan bahwa apa yang ia lakukan ini bukanlah menjadi urusanku. Itu berarti aku tidak berhak ikut campur ataupun marah. Padahal, jelas-jelas bahwa apa yang mas Azam lakukan adalah dosa besar. Dirinya telah mencoreng kesucian rumah tangga kami.


dirinya telah berzina kepada wanita yang bukan menjadi haknya. Sedangkan, pada saat ini Mas Azam masih memiliki seorang Istri. Dianggap apa aku ini ya, Robb? Padahal aku tak pernah menolak sekalipun untuk melayaninya. Meskipun, aku sedang lelah ataupun sakit. Diri ini selalu berusaha untuk memenuhi kewajiban dan memberikan hak dari Mas Azam sebaik-baiknya.


Tak peduli kilat marah yang nampak terlihat bengis dari sorot kedua matanya. Mas Azam adalah tipikal lelaki yang tak pernah mau di kritik apalagi di protes. Selama berumah tangga, bahkan ia selalu memutuskan segala hal seorang diri tanpa pernah bermusyawarah kepadaku.


Selama ini, aku hanya bisa menurut dan patuh terhadap apapun keputusan yang di ambil olehnya. Sekalipun hal itu jelas-jelas merugikan posisiku sebagai seorang istri. Seperti halnya ketika ibu memutuskan untuk menyetir rumah tangga ku. Menyetir keuangan mas Azam. Aku hanya bisa diam.

__ADS_1


Di kala, Mas Azam berniat membalas budi pada, janda genit itu dengan cara memberinya status yang jelas aku pun mencoba diam dan menerima. Aku hanya cukup melihat, apakah, Mas Azam akan tetap menjalankan niatnya setelah melihat perubahan ku juga kesuksesanku. Tapi, ternyata apa yang ku ketahui saat ini. Mereka berdua telah berbuat sejauh itu. Ternyata, apa yang aku pikirkan itu benar adanya. Bukan, sekedar prasangka buruk semata.


"Kenapa, kau menjadi sehina ini, Mas?" tanya ku lirih. Tungkainya seakan lemas. Pandangan mataku seolah tak lepas dari ceceran foto-foto menjijikkan yang tengah di punguti oleh suamiku saat ini.


Tanpa menjawabku, Mas Azam mendongak lalu mendengus keras. Ia meletakkan foto-foto bugil dan setengah itu secara hati-hati ke atas kasur. Begitupun dengan alat bantu pemuas geloranya. Berkelebat adegan-adegan pembicaraan mereka yang ku rela dalam pikiranku secara singkat. Membuat, otakku mendidih panas seketika.


"Seharusnya kau bersyukur, Lika. Suamimu ini masih dapat menahan dirinya, dari perbuatan tidak senonoh itu!" tukas mas Azam membuatku sontak menaikkan alis mataku. Seketika keningku berkerut tanda berpikir keras.


"Memangnya, Mas pikir tindakan mu dengan memandangi foto telanjang wanita lain sambil menggunakan alat bantu untuk meriah puncak napsumu itu sudah benar! Apa, Mas pikir itu tidak termasuk perbuatan tercela!" Aku berteriak sambil mengatur napas ku yang tersengal-sengal. Sungguh, hati ini gemas sekali akan jalan pikiran yang ada di kepala suami pintarku ini.


"Berhenti, menyudutkan ku, Lika! Seharusnya kau berkaca akan keadaan dirimu! Sebab, siapa hingga suamimu ini sampai memandangi wanita lain ketimbang istrinya sendiri!" sarkas mas Azam, tanpa hati kembali melempar titik kesalahannya padaku.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2