Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab 36. Awal Kesuksesan Lika


__ADS_3

[Jangan menyesal Lika. Wanita cantik dan kaya seperti Jelita saja tidak sanggup menanggung status janda. Lalu, Bagaimana dengan dirimu. Bahkan, kau tidak punya penghasilan dan telah memiliki dua orang anak! ]


Kalimat demi kalimat itu terus terngiang di dalam kepala ku. Merebak ke dalam hati mencipta debur amarah. Segera bergegas kuambil air untuk membasahi wajah dan juga kepala yang mengepul ini.


Hati ini nampaknya perlu disiram oleh ayat-ayat suci agar tidak terus mengeluarkan asap dendam kesumat.


Masih tercetak jelas dalam otak ketika mas Azam, maksud ku mantan suamiku itu mengancam tidak akan pernah memberikan hak nafkah kepada kedua anakku. Jika, diri ini masih bersikukuh untuk keluar dari rumah.


Aneh, sangat aneh. Jelas-jelas pada malam itu, mas Azam sendiri yang memberi pilihan padaku. Atau, itu hanya sekedar ancaman semata. Ia pikir, aku takut jika harus kembali kerumah bapak dengan status baruku?


[ Kau salah, Mas! Aku tidak pernah takut lapar! Bahkan, sudah berbulan-bulan aku dan kedua anakku tidak kau beri nafkah, apa kau sadar, Mas? Apa kami mati menggelepar dan menjadi pengemis? Tidak! Allah maha kaya. Jika memang kau berniat menelantarkan kedua anakmu. Ingat, Mas. Sewaktu-waktu, Allah akan mencabut rejekimu! ]


Tarik nafas kuat. Kemudian menghembuskannya perlahan.


Ku pegang dada sebelah kiri seraya membaca surah Al–Insyirah.


..."Bismillahirrahmanirrahim."...


...Alam nasyrah laka shadraka....


...Wawadha'naa 'anka wizraka....


...Alladzii anqadha zhahraka....


...Warafa'naa laka dzikraka....


...Fa inna ma'a al'usri yusraan....


...Inna ma'a al'usri yusraan....


...Fa idzaa faraghta fanshab....


...Wa ilaa rabbika fairghab....

__ADS_1


Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu ?


Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu ,


Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan


Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan


Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain ,


Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.


Ku usap wajah ku seiring istighfar yang ku sebut. Menoleh ke arah tempat tidur dimana kedua anakku telah menjelajah kedunia mimpi mereka. Ya, saat ini aku telah berada di sebuah rumah petakan. Tepatnya, kontrakan kecil yang memiliki tiga ruangan termasuk kamar mandi.


Kenapa aku tidak tinggal di rumah bapak? Karena, aku tidak ingin membebani pikiran bapak, juga rumah orangtuaku itu kecil dan hanya ada dua buah kamar. Jika aku kesana, pasti adikku Tyo yang mengalah. Aku belum, keberanian untuk mengatakan kebenaran tentang keluargaku.


Tentang, kandasnya rumah tanggaku yang dikarenakan kehadiran orang ketiga yang tidak dapat kuterima. Aku menunggu saat di mana keadaan Bapak benar-benar stabil. Biarlah, aku merangkai kata-kata dulu serta alasan yang tidak terlalu menyakitkan untuk bapak.


Semua, karena Mas Azam tidak mau menyerahkan ku secara langsung kepada orang tuaku satu-satunya itu. Masih kuingat dengan jelas di dalam memori otakku, Bagaimana kata demi kata yang Mas Azam ucapkan, ketika memberi talak kepadaku di depan keluarganya.


Aku pun sontak kembali memberi remasan pada dadaku. Rasanya masih sangat sakit dan sesak ketika mengingat itu semua. Tak pernah kubayangkan dalam benakku, bahwa pernikahan kami yang berawal bahagia dan harmonis akan berakhir seperti ini.


Hari sudah larut malam, akan tetapi kedua mataku masih belum mengantuk. Ku lepas mukena, lalu beralih ke atas tempat tidur. Ku ambil ponsel yang barusan ku isi daya. Berhubung kedua anakku masih sangat pulas. Karena, sejatinya mereka tidak tau apa yang tengah terjadi saat ini.


Setelah menyalakan ponsel, segera aku beralih ke aplikasi dimana aku menulis novel online. Sejak kemarin aku tidak ada membuka ponsel sama sekali. Betapa kagetnya ketika ku dapatkan sebuah notif pesan. Bahwa, novelku telah di sunting oleh salah satu Production House besar yang ada di negara ini.


"Ya Allah, berkah apa ini? Novelku yang tak kusangka akan booming. Ternyata ingin dijadikan web series," ucapku seraya menatap nanar pada layar ponselku. Dimana, terdapat chat berderet dari bagian humas Production House tersebut.


Sontak aku menoleh ke arah kedua anakku. Heru dan Lulu, masih terlelap dalam damai. Air mata ini, tak terasa mengalir deras tanda takjub akan keajaiban yang Allah kirimkan untuk kedua anakku. "Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan. Ternyata janji–MU memang benar Ya Allah." Aku, memeluk ponsel sebentar, setelahnya mulai membalas pesan itu satu persatu.


Aku dan bagian humas tersebut, berbalas chat sampai jam satu dini hari. Aku pun memutuskan untuk tidur sebentar, agar dapat melaksanakan solat tahajud nanti.


Keesokan siangnya, kami pun mengatur janji untuk saling bertemu. Aku telah memberitahukan, Dina sahabat ku. Karena, aku membutuhkan orang yang dapat menjaga kedua anakku. Akhirnya, Dina ikut denganku untuk menemui salah satu urusan dari rumah produksi.

__ADS_1


"Allah, langsung ngasih elu jalan kan, Lika. Ketika, elu berani mengambil keputusan. Nanti, elu bakal bisa buktiin ke mereka tuh. Keluarga, mantan lakik lu. Kalo yang namanya, Lika ini juga bisa sukses!" ucap Dina, dengan senyum bangga dan kedua mata yang mengembun.


"Ah, Dina. Aku tidak tau apa yang terjadi jika, kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya," ucapku yang kini telah berada dalam pelukannya.


"Gue juga, dengan bisa kenal sama elu, Lika. Gue jadi lebih bersyukur dengan apa yang udah gue punya sekarang. Gue jadi jarang nuntut ini–itu ke lakik gue. Gak nuntut dia harus romantis, yang penting dia itu sayang dan setia ama gue," ucap, Dina menyahuti kata-kata ku.


"Yaudah, kuy kita jalan. Nanti kena macet takutnya di jalan. Oh iya, nanti si Beno lu beliin rokok aja. Dia mau kok nungguin sampe kita selesai," pesan, Dina. Karena, aku menggunakan angkot temannya untuk mengantar kami ke tempat pertemuan. Yaitu, salah satu kafe terkenal di pinggiran kota.


Singkat cerita, pertemuan itu berakhir dengan penanda tanganan kontrak. Kau yang sedikit tidak mengerti mendapat penjelasan yang detil dan jelas. Tentu saja di bantu juga oleh, Dina.


"Oke, Mbak Azura. Anda akan menerima reward dari platform ya. Sebenarnya, saya tertarik saja untuk mengenal anda secara personal. Mungkin, jika, Mbak ada naskah lain, bisa langsung ajukan ke saya. Karena, PH kami juga sedang mencari cerita bagus yang ingin di jadikan FTV Bahkan Film," ucap Humas tersebut yang bernama, Mei Cien.


Wanita bermata sipit dengan rambut pendek luris sebahu. Senyumnya sangat elegan dan cantik. Aku agak sedikit minder, ketika beliau mengajak ku berfoto.


Ah, bagaimana kalau pembacaku jadi ilfill. Ketika mereka tau penulisnya macam ini. Hatiku seketika resah, perasaan insecure itu kembali muncul mengundang kufur.


"Dia banyak, naskah yang nganggur kok. Nanti, kalau ada yang cocok pasti akan, dikirim. Iya kan, Lik?" pancing, Dina. Membuatku mengangguk pelan dan tersenyum hangat.


Memang benar ada satu naskah yang mangkrak. Tentang, istri yang di sakiti. Haih, kenapa jadi seperti kisahku ya.


"Insyaallah, nanti saya kirim ya, Kak," ucapku.


Semoga, ini adalah jalan menuju pintu kesuksesan bagiku.


"Elu, harus diet terus aerobik," bisik, Dina yang membuatku nyengir kuda.


Semoga bisa, kan aku lepas kontrasepsi.


...Demi kalian mata sepet ini, di paksakan melek....



Satu bab, satu gelas kopi 😁

__ADS_1


Doakan, otor juga sukses kayak, Lika ya🤣.


...Bersambung...


__ADS_2