Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 25. Suami Yang Semakin Menjauh, Pertanda Apa?


__ADS_3

Baru selesai hinaan ibu mendarat kepadaku. Mobil, Jelita tau-tau telah memasuki pekarangan kami. Mobil keluaran Mitsubishi New Pajero Sport yang harganya mencapai hampir delapan ratus juta. Warna hitamnya yang elegan sekaligus modis, membuat wajah ibu dan ayah tertawa sumringah. Betapa bangganya mereka, melihat kendaraan tersebut belakangan ini sering wara-wiri masuk pekarangan kami.


Sedangkan, Honda jazz milik mas Azam yang berwarna merah kini tengah santai nongkrong di garasi. Ayah telah berhasil menebusnya menggunakan uang hasil pinjaman dari, Jelita tentunya.


Segera ku letakkan, Lulu ke atas lantai. Dimana di sana telah terdapat beberapa mainannya dan juga, Heru. Aku beranjak hendak menjemput suamiku, mas Azam. Tapi, hampir saja aku sampai ke sisi mobil, ibu telah lebih dulu menarik tangan ku. Baiklah, aku mengalah dan ku biarkan dia yang menanggapi anak lelakinya itu. Aku berlatih ke belakang mobil hendak mengambil kursi roda, akan tetapi ... Nela menertawakan ku, dengan raut wajah yang sangat tidak enak di pandang.


Kenapa? Ada apa? Aku tetap membuka kursi roda yang terlipat dan mendorongnya ke depan pintu mobil.


Di antara kebingungan ku, lantaran, Nela tak berucap apapun. Seketika, kedua mataku membola tatkala, Mas Azam turun dari mobil dalam keadaan berdiri, alias menapak dengan kedua kakinya sendiri.


"Mas," ucapku lirih hampir tak terdengar. Karena setelah itu yang keluar hanyalah ucapan syukur berkali-kali seraya menahan Isak tangis penuh haru. Setelah sekian bulan, suami ku hanya bisa duduk di atas kursi rodanya. Kini, dapat ku lihat lagi ia berdiri dengan gagah di atas kedua kakinya sendiri.


Tapi, mas azam masih menggunakan alat bantu tongkat berkaki empat. Seperti yang suka di pakai oleh lansia. Aku pun meninggalkan kursi roda itu, kemudian menghambur ke arah suamiku. "Mas Azam!" pekikku girang seraya memeluknya. Ah, aku rindu sekali berada dalam posisi ini. Teringat ketika acap kali suamiku ini hendak berangkat kerja. Bahkan, sebelum mas Azam kecelakaan, sikap romantis dan hangatnya itu masih ku rasakan.


"Hei, Lika! Kamu tuh ganggu tau gak!" Seketika, ibu Mirna, mertuaku itu, menarik tanganku begitu kencang. Hingga, dekapanku pada raga mas Azam terlepas secara paksa.

__ADS_1


"Sadar diri kenapa sih, Mbak! Badan kamu kan gede, lah mas Azam baru aja bisa berdiri dan berjalan beberapa langkah. Kalau tadi dia jatoh kedorong kamu gimana? Atau kakinya sakit lagi karena menahan beban kamu gimana?" teriak, Nela, memarahiku di depan Jelita, yang notabene adalah tamu. Rasanya, aku semakin tidak dianggap. Padahal, aku juga mengerti. Tidak akan sampai kubuat suamiku sendiri sampai celaka. Aku hanya meluapkan kebahagiaan serta kerinduanku padanya saja.


Bagaimana tidak, sudah hampir tiga bulan ini, mas Azam tidak lagi tidur di kamar kami. Alasannya, jika di rumah tidurnya tidaklah nyenyak lantaran sering terbangun setiap tengah malam. Alasannya disebabkan, mendengar tangisan, putri kami, Lulu.


Istirahat, mas Azam menjadi tidak berkualitas katanya, dan itu bisa berpengaruh pada proses penyembuhan di kedua kakinya. Aku, tak bisa banyak protes. Itu semua berdasarkan kemauan dari mas Azam juga. Tentu saja hal itu, membuat pertemuan kami, intensitas mengobrol antara kami berdua serta hubungan suami istri antara kami menjadi sangat berkurang. Bahkan, mas Azam mulai jarang bicara padaku kecuali meminta makan, pakaian atau menanyakan barang-barang miliknya.


Sampai-sampai, kedua anakku seperti kehilangan sosok dari papa mereka. Sebab, mas Azam sangat kurang sekali bahkan jarang berinteraksi dengan kedua anaknya. Entah apa yang ia lakukan, padahal terapi hanya di lakukan sepekan empat kali. Tapi, di waktu kosong yang hanya tiga hari itu hanya ada satu hari saja mas Azam full di rumah.


Ku coba untuk menerima semua itu dengan senang dan tenang hati. Ambil hikmahnya, karena dengan begitu maka setiap malam menjadi waktu yang produktif bagiku untuk menjadi penulis. Suasana yang sunyi dan damai, membuatku dapat menelurkan bertapa karya yang ternyata dapat melambungkan namaku dalam waktu yang singkat.


Sebab, ibu selalu memasak makanan orang dewasa. Di rumah jarang sekali ada syok sayur atau makanan yang bisa di makan oleh kedua balita ku yang masih memerlukan gini terpilih. Alasannya, masih ada telur atau aku punya uang kan. Ya, mereka melepas semua menjadi tanggung jawabku. Meskipun, ku tau dengan sangat jika gaji mas Azam masih tersisa untuk sekedar memberiku uang belanja.


"Lik, apa elu kagak capek idup kayak gini?" tanya sahabatku, Dina pada suatu siang. Kala itu kami sama-sama menjemput anak sekolah. Ya, awal aku mengenalnya lantaran anak kami bersekolah di tempat yang sama. Ternyata, kita juga pernah satu kerjaan di masa muda dulu. Bedanya, Dina tetap cantik dengan body-nya yang goals meskipun sudah memiliki tiga anak.


"Heh, elu juga bisa kok berbentuk lagi. Kalo aja lakilu bisa nyewain pembokat buat nyuci, nyetrika sama bebenah rumah. Terus elu di kasih deh duit buat perawatan ke salon kayak gue. Emang di kira kinclong bin glowing gini cukup ama Aer wudhu doang. Omong kosong, Lika! Cahaya wudhu itu keliatannya nanti di akhirat bukan di dunia! Lagian, mulut nyinyir mertua Ama laki lu gak bakal bisa silo biar kata elu wudhu sehari 24x !" ujar, Dina penuh emosi. Aku paham, dia bukan kesal padaku tapi ... ya, kalian taulah.

__ADS_1


Padahal, aku tidak pernah sekalipun menceritakan bagaimana kelakuan keluarga mas Azam terhadapku. Rahasia ini, telah ku tutup rapat-rapat. Tapi, yang namanya aib, jika sudah waktunya terungkap pasti akan terbuka dengan sendirinya. Bahkan, mereka sendiri yang mengungkap kebobrokan akhlak dan perlakuan atas sikap mereka semua padaku.


"Gue, mah, Lika. Najis tralala deh, kagak bakal lagi-lagi nginjek tuh rumah mertua lu. Gue kagak tahan ngeliat elu di gituin. Bisa-bisa, nanti bacot gue yang keluar, kan berabe entar! " ucap Dina, lagi masih terbawa sewot alias emosi. Aku hanya bisa tersenyum. Menurut ku, gaya bicaranya ini dapat sedikit menghibur hatiku yang ... galau, kalau kata anak sekarang.


Sebelum, mengantar Heru pulang kerumah, aku selalu mampir ke ATM. Kebetulan, aku telah membuat kartu bank tersebut atas bantuan dari Dina. Karena, aku mana ada waktu kalau harus mengantri di bank. Aku juga tidak mau sampai orang rumah tau, pekerjaan sampingan ku yang lumayan ini. Setidaknya aku dapat mentransfer uang untuk keperluan bapak setiap bulan.


Apalagi, sekarang, bapak sering sakit-sakitan. Entah apa yang terjadi jika aku tidak mengambil langkah ini. Nekat, untuk menjadi penulis novel online. Setidaknya, aku mampu menghasilkan sedikit demi sedikit pundi-pundi uang.


Suatu pagi, sepulang mengantar, Heru berangkat sekolah. Jelita menghentikan laju sepeda motorku dengan sepeda motor matic mahalnya.


"Lik, mas Azam kan sebentar lagi bisa jalan beneran. Jadi, saya mau minta kamu nanti siap-siap ya," ucapnya dengan tatapan temennya seperti biasa. Melihat dan menelisik dandanan serta penampilan ku dari atas hingga ke bawah.


"Siap-siap, apa ya, Mbak?" tanya ku, pura-pura tak tau. Padahal, semalam ibu sudah mengatakannya padaku. Satu hal, yang sukses membuatku tidak dapat tidur semalaman suntuk.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2