
"Keputusan apa ya, Bu? Lika boleh tau kan, apa yang tidak boleh Lika debat itu. Karena, jika demi kebaikan mas Azam, sudah pasti akan Lika dukung," ucapku mencoba berpikiran positif. Meskipun, hati ini berdentum tak karuan. Entah apa, sejak pagi aku memang telah merasakan firasat yang tidak enak. Apalagi, tatkala melihat raut wajah serta tatapan Jelita kepada ku yang seperti merendahkan, mengecilkan. Atau, itu semua hanya sebatas perasaan ku saja.
Astagfirullah.
Ku ucap istighfar dalam hati. Mencoba melihat setiap masalah dari sisi yang baik. Walaupun hati kecilku merasa resah dan gelisah.
"Ya tugas kamu memang hanya mendukung. Toh, kamu juga gak bisa bantu apa-apa. Jadi, sebaiknya kamu tidak protes apalagi sampai merasa tersakiti. Keputusan ini, demi kebaikan kita semua. Mungkin, sudah takdir dari Allah agar keluarga kita semakin besar dan juga makmur," jelas Ibu lagi. Akan tetapi, kenapa sudut hati ini merasa panas ya?
Memang, apa ku lakukan untuk membantu keuangan keluarga belum bisa dianggap sesuatu hal yang besar atau luar biasa. Belum bisa membuat suami, serta ayah dan ibu mertuaku bangga. Aku hanya penjual barang dagangan secara online. Untungku juga tidak seberapa. Perlembar pakaian aku hanya mengambil untuk lima hingga sepuluh ribu. Untuk produk makanan, tidak lebih dari lima ribu per-pcs.
Aku juga sudah mulai menulis di dua platform aplikasi baca online. Tanggapannya lumayan, meskipun aku terhitung baru merintis. Namun, karena aku memiliki cadangan cerita banyak di catatan ponselku. Aku bisa publish secara rutin setiap semua orang telah tertidur. Hanya tinggal merevisi sedikit bagian-bagian tertentu agar lebih tepat dengan kemauan para pembaca.
__ADS_1
Belum ada yang tau dari usaha yang baru kurintis ini, sekali pun itu suamiku sendiri. Sebab, diri ini sadar jika hanya mengenyam pendidikan tak tinggi seperti mas Azam dan juga Nela. Daripada nanti ku dapat cemoohan atau kritis pedas yang membuat mood hancur, lebih baik ku simpan saja sendiri. Jika sudah berhasil baru akan ku beri tau pada mereka semua.
"Apa yang Ibu maksud, pinjaman yang Mbak Jelita tawarkan? Aku belum sempat bercerita pada Lika," ucap Suamiku yang lantas membuat diri ini tersentak kaget. Pinjaman? Sudah kuduga. Sebab, Jelita memiliki harta warisan peninggalan suaminya yang cukup banyak. Setidaknya mampu membuat, kedua mata ibu dan Nela mendelik hingga hampir copot keluar.
Aneh, bahkan dengan putranya saja ibu belum bermusyawarah. Bagaimana bisa semudah itu ibu mengatakan keputusan tidak boleh di ganggu gugat. Ayah juga diam saja, kulihat beliau malah asik memainkan ponselnya sambil sesekali tersenyum. Tidak ada yang menyadari, sepertinya hanya aku saja yang Allah tunjukkan keanehan ini. Raut wajah ayah mertuaku, seperti bocah yang sedang jatuh cinta.
"Jelita bilang sudah bicara dengan mu tempo hari, bukan begitu, sayang?" tanya Ibu dengan nada lembut dan keibuan. Bahkan, seumur menjadi menantunya, belum pernah ibu memanggil seperti itu kepadaku. Bolehkah aku merasa iri sedikit. Setidaknya, keluarga kami juga baru mengenal Jelita. Sebab, dia adalah warga pendatang. Kebetulan membeli rumah yang berbatasan dengan samping pekarangan Ibu.
Jelita mengangguk sambil mengusap punggung tangan ibu. Huh, manis sekali perlakuannya. Ia juga melempar senyum pada mas Azam. Berani sekali, padahal ada istrinya di sebelah. Dianggap apanya aku ini!
"Iya sudah, Bu. Azam memang menunggu kepulangan, Ibu juga Ayah. Agar kita semua dapat bermusyawarah. Tapi, jika keputusan itu yang Ibu ambil maka ... Azam ikut saja. Ayah, juga setuju kan?" Mas Azam melempar tanya pada ayah mertuaku yang tanpa menoleh, beliau mengangguk. Ayah, masih fokus dengan layar ponselnya.
__ADS_1
Sudah kuduga, mas Azam pasti tidak akan bisa membantah keinginan ibunya. Dapat ku raba akan ada timbal balik yang di minta dari pinjaman besar yang ditawarkan oleh Jelita.
"Ya sudah, kamu ajak Lika ke dalam. Jelaskan padanya dan ingat ... keputusan Ibu tidak bergantung pada kalian. Itu artinya, satupun anggota keluarga ini tidak akan bisa mengubah keputusan Ibu," jelasnya lagi dengan tegas.
Mas Azam menarik tanganku agar berdiri dari duduk. Lalu, aku mendorongnya ke dalam rumah bagian kami. Baru saja melangkah ku dengar lagi ibu memanggil nama suamiku ...
"Zam, nanti juga bicaranya yang jelas. Kau tau kan kalau Lika hanya tamatan sekolah rendah. Jangan sampai dia salah mengerti, nanti dikira ibu ini adalah mertua yang kejam!" ujar Ibu seraya memberikan tekanan pada kata " hanya tamatan sekolah rendah".
Dimana kalimat itu secara jelas, tengah merendahkan mental juga harga diriku di depan Jelita. Ku lihat sekilas wanita itu tersenyum sinis ke arahku.
Apa rencana mu, rubah betina?
__ADS_1
...Bersambung...