Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 41. Akhir Kisah Sedihku. ( Selamat Tinggal Masa Lalu )


__ADS_3

Karena, hal atau kejadian yang kau anggap buruk bagimu, ternyata itu adakah kebaikan yang Allah datangkan untukmu.


Begitupun juga, hal yang kau anggap baik ternyata hal itu adalah sesuatu yang buruk untuk mu.


Allah, maha tau segalanya.


Sedangkan, kau tidak.


Pandanglah setiap kejadian dan terimalah setiap kejadian dengan kacamata iman.


Maka, dengan segenap kesabaran, kau akan temukan hikmah yang Allah maksudkan.


Tanpa ku sangka dan ku duga. Beberapa pekan setelah keadaan keluarga mantan suamiku terbuka. Mas Azam menghubungi ku setelah sekian lama. Apa yang ia inginkan? Seketika hatiku merasa takut.


Bukan apa, hanya saja ... mantan suami mengajak bertemu. Setelah ku ketahui rumah tangganya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Apa yang harus aku lakukan?


"Gue temenin, elu kagak boleh nemuin dia sendirian."


Aku mengangguk dengan senyum hangat. Karena, Dina nampak anggun dalam balutan gamis yang kemarin ku belikan untuknya.


"Masyaallah, cantiknya,"


Dina lantas tersenyum malu dan tersipu.


"Tadi juga, ayang bebeb bilang kayak kamu gini. Katanya, dia pangling. Terus aja nyiumin aku sebelum kesini. Makanya, agak terlambat."


Dina menutup mulutnya ketika tertawa. Tidak seperti biasanya yang selalu terbahak-bahak. Sahabatku ini, benar-benar berusaha untuk berubah menjadi muslimah sejati.


Tiba-tiba kudengar suara ponselku berbunyi. Aku segera mengambilnya dari atas meja di samping televisi.


"Mas Azam menelpon," ucapku pada Dina. Sahabatku itu pun memerintahkan padaku agar angkat saja dan bicara seperti biasa.


Aku menarik napas dalam sebelum menekan tombol hijau, kemudian mengucapkan salam.


"Assalamualaikum." Aku menyapa dengan suara tegas.


[ Waalaikum salam, Dek. Nanti, jadi kan ketemuannya. Mas, sudah rindu sekali dengan kedua anak kita. ]


"Insyaallah, Mas. Sebentar lagi, saya berangkat," jelasku.


Kami pun menyewa taksi online menuju tempat pertemuan.

__ADS_1


Di sana, Mas Azam kaget lantaran aku mengajak Dina.


"Apa kabar, Dek?" Mas Azam bertanya untuk membuka percakapan kami berdua.


"Alhamdulillah, seperti yang mas lihat saat ini. Begitupun, dengan anak-anak."


Aku menjawab, seperti biasa dengan nada bicara yang tegas. Katanya, kangen sama anak-anak. Akan tetapi, tak ada ia menanyakan kabar anak kami. Bahkan, tak ada adegan peluk memeluk kedua anaknya. Heru dan Lulu hanya sekedar cium tangan kemudian, bermain kembali dengan pengasuh mereka.


Entah kenapa, kedua anakku seakan biasa saja bertemu dengan papa mereka. Apa karena mas Azam telah menelantarkan mereka selama ini, hingga tak pernah sekalipun menghubungi ku untuk sekedar bertanya. Sehingga tak ada lagi ikatan batin diantara mereka.


"Kamu sudah berhasil ya, jadi penulis naskah. Jadi novelis terkenal. Mas, bahkan membeli bukumu. Isinya, sangat bagus. Kamu hebat,Dek."


Manis sekali, tapi sayangnya tak ada lagi debaran seperti dahulu, ketika dirinya memuji ku.


"Alhamdulillah, terimakasih. Itu hanya kebetulan, Mas. Allah, menunjukkan kasih sayangnya pada hamba yang teraniaya. Juga, memberikan rejeki kepada anak-anak yang ditelantarkan secara sengaja." Sengaja, ku jawab trik rayuannya dengan kalimat sarkas.


"Dek, maafkan, Mas. Mas sangat menyesal. Sekarang, Mas tau siapa, Jelita sebenarnya. Dia musyrik. Dia bersekutu dengan iblis. Dia--"


Ku angkat telapak tangan ke udara pertanda jika aku tak ingin mendengar kalimat seterusnya.


"Maaf, Mas. Aku menemuimu lantaran kau mengatakan rindu kepada kedua anakmu. Bukan, untuk mendengar kalau kesah terhadap rumah tanggamu. Karena, baik atau buruknya keadaan rumah tangga kita, alangkah baiknya jika itu semua kita simpan sendiri. Seperti, ketika aku menjalaninya bersamamu kala itu. Tak ada satu orang luar pun yang tahu bagaimana baik dan buruknya rumah tangga kita. Bagaimana perlakuan kalian semua kepadaku. Semua itu terungkap setelah kita berpisah. Mereka semua akhirnya tahu berdasarkan penilaian mereka sendiri dari apa yang mereka lihat di permukaan. Sejatinya, kalianlah yang membongkar bagaimana sikap dan perlakuan kalian yang sebenarnya kepadaku dan juga anak-anak."


Karirku semakin lancar dan gemilang. Kedua anakku selalu diberi kesehatan serta kecerdasan. Mereka tumbuh menjadi anak yang mengerti dengan keadaan.


"Jika tak ada urusan lain, saya mohon pamit, Mas. Karena, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. apabila di lain waktu masih ingin bertemu dengan Heru dan Lulu lagi. Kita bisa mengatur waktu. Biar, nanti Heru dan Lulu akan menemuimu ditemani dengan Siska pengasuh mereka."


Sepertinya, ucapanku membuat mantan suamiku ini kecewa. Aku tau niatnya. Sejak tadi bahkan ia terus menatapku. Sebenarnya siapa yang tengah ia rindukan.


"Apa hubungan kita, tak bisa di perbaiki lagi, Dek?"


Ck, pria ini.


Kenapa memanggil ku seperti itu, selembut itu. Dia pikir, aku akan terpengaruh. Sayangnya tidak. Hati ini telah mati semenjak ia menjatuhkan talak padaku.


"Maaf, Mas. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Masa depan, harus kita kejar dan kita persiapkan. Jika, Mas ingin memperbaiki hubungan kita. Maka, berikanlah wujud tanggung jawabmu yang semestinya kepada Heru dan juga Lulu."


Kurasa, kalimat yang kuucapkan belum dapat diterima mantan suamiku ini dengan lapang dada. Terlihat, dari sorot matanya yang tak puas menerima keputusan ku.


"Lika, kau--"


"Sekali lagi, maaf, Mas. Terlambat jika kau ingin memperbaikinya sekarang. Ketika, ruang tangga yang sedang kau jalani saat ini diambang kerusakan. Sebaiknya, kau pikirkan dan selesaikan urusanmu dengan istri cantik bahenolmu itu. Istri gemuk tanpa bentuk sepertiku, yang berpendidikan rendah dan bodoh ini ... tidak dapat memberi harapan padamu. Aku hanya selalu membuat mu malu dan tak memiliki muka. Jadi, jawab ulangi kemalangan mu seperti dulu, Mas. Semoga, kau dapat mempertahankan rumah tanggamu kali ini. Cukup, aku saja wanita yang kau jandakan demi janda lain. Permisi, Assalamualaikum!"

__ADS_1


Mantan Suamiku itu terdiam tanpa sepatah kata pun kepalanya menunduk memandang lantai tempat kami berpijak.


Akhirnya, aku pun berlalu tanpa menoleh ke belakang lagi.


Ku rasa inilah tindakan yang tepat.


Aku hanya perlu meniti masa depan untuk merangkai kehidupannya lebih baik bagi kedua anakku.


Diri ini, hanya dapat mendoakan, semoga kebahagiaan menghampiri keluarga mantan suamiku. Semoga dirinya kali ini mampu mengambil langkah yang lebih bijak dari sebelumnya.


Selamat tinggal, Mas.


Kau hanyalah masa laluku.


Kisah kita yang telah berakhir tidak akan mungkin bersambung kembali.


Semoga, ini yang terbaik bagi semuanya.


Inilah akhir dari kisah sedihku.


Ku harap di kemudian hari aku akan memiliki lebih banyak kebahagiaan lagi.


...Tamat...


Assalamualaikum, pembacaku yang baik hati ramah dan tidak sombong.


Kisah antara Lika dan Azam berakhir sampai di sini ya.


Kalo mau tau, gimana kelanjutannya karir Lika dan juga cowok ganteng dari masa lalu Lika, si Dimas.


Cekidot di sekuelnya ya.


Dengan judul: Terjerat Pesona Janda Beranak Dua.


Follow author untuk mendapatkan notifnya ya.


Sampai jumpa lagi ...


See you!


Wassalam.

__ADS_1


__ADS_2