Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 17. Berhutang Pada Suami Sendiri.


__ADS_3

Ku balikkan wajahku agar menghadapnya meskipun ragaku masih miring karena Lulu masih menyusu. Seketika air mata ku kembali luruh. "Maaf ... Mas, aku tadi gak dengar. Soalnya lagi terima telepon," jawabku sambil menangis. Membuat kerutan itu seketika tercetak pada kening suamiku.


"Kamu, kenapa nangis?" tanya mas Azam heran. Ku lepaskan perlahan dadaku dari mulut bayi perempuan ku yang telah kembali terlelap. Lalu, ku tegakkan tubuh ini menghadap mas Azam.


"Mas, bapak ... masuk rumah sakit. Napasnya tiba-tiba sesak dan tersungkur di teras rumah. Tadi Setyo yang mengabariku. Sekarang, bapak ada di ruang UGD rumah sakit," jelasku seraya menahan sesak. Aku takut. Orang tua yang ku miliki tinggal bapak seorang. Sementara, Bundaku sudah tiada sebelum Lulu lahir.


"Ya sudah kamu tenang saja. Semoga bapak panjang umur. Kuasa Allah tidak akan bisa kita ganggu gugat. Kalau memang sudah waktunya pergi ya akan pergi." Seketika ucapan dari kalimat yang mas Azam lontarkan barusan membuat ku bertanya-tanya apa maksudnya.


"Kok, Mas ngomong gitu sih! Aku ini takut dan sedih lho!" kesal ku. Kenapa sih tidak bisa membesarkan atau sekedar menyenangkan hatiku dengan kata-kata yang lebih halus. Aku juga paham kalau soal takdir.


"Ya supaya kamu lebih berpikir realistis, Dek. Lihat, Mas. Apa aku menangisi keadaan Ibu yang stroke ringan dan sekarang masih di rawat di rumah sakit? Apa aku menangisi keadaanku yang didiagnosa lumpuh sementara? Apa aku menangisi mobil yang dibawa kabur orang entah kemana padahal angsuran tinggal satu tahun lagi? Tidak kan? Mas terima semua itu," tutur mas Azam panjang lebar.


Meskipun ada benarnya tali tidak harus begini juga cara penyampaiannya. Aku hanya butuh dukungannya saat ini. Aku butuh dia sebagai sosok yang akan menenangkan hati. Ah ... sudahlah. Sepertinya percuma saja, aku berharap lebih pada sikapnya yang akan manis jika akan menggarap tubuhku saja.


"Iya, Mas. Lika paham," jawabku. Seketika pandanganku terarah pada kelakuan mas Azam selanjutnya. Di hadapanku ia membuka amplop coklat besar. Kemudian, senyum lebar dengan raut kebahagiaan tampil di wajah segar suamiku.

__ADS_1


"Alhamdulillah! Mereka benar-benar royal dan mengerti. Tak salah jika selama ini aku berbuat baik pada mereka. Setidaknya mereka tau balas budi," gumam mas Azam ketika ia mengeluarkan isi dalam amplop tersebut. Aku pun ikut mengucap syukur dengan mengangkat kedua tanganku ke atas.


"Seneng ya, liat uang banyak. Tapi ini semua, Mas yang akan pegang. Lagipula kamu kan bisa cari uang sendiri sekarang. Nih, Mas bagi segini aja buat pegangan." Seketika raut wajahku yang berseri berubah menjadi sedih kembali. Bukanya tidak bersyukur ataupun kufur. Tapi, mas Azam hanya memberikan ku uang pecahan seratus ribu dua lembar saja. Sementara, yang ada di tangan mas Azam sekitar lima jutaan.


"Iya, Mas. Pegang saja. Adek paham kok." Aku mengerti, sudah lama suamiku itu tidak memegang uang hasil kerjanya sendiri. Aku tidak ingin merusak perasaan bahagianya. Toh, rejeki tidak akan kemana. Kebetulan di rumah tidak ada keluarganya. Sehingga, mas Azam merasa senang, sebab tidak akan ada yang mengambil uang dengan dalih dirinya tidak bisa mengatur dengan baik. Aku paham, sangat mengerti apa yang tengah suamiku rasakan saat ini. Lagipula, uang yang ada di tangannya itu juga pasti akan di gunakan untuk keperluan cek up berkala nanti.


"Mas, ini Setyo nelepon lagi," ucapku sambil menunjukkan layar ponselku pada mas Azam.


"Iya, Tyo. Mbak akan segera cari pinjaman. Kamu yang tenang ya?" ucapku di telepon. Setyo sangat panik sendirian. Apalagi, Mbak Lidia belum datang. Suaminya agak susah memang. Apalagi kalau soal keuangan.


"Berapa? Mas gak bisa ngasih banyak? Lagian, musibahnya pas banget sih!" sungut suamiku itu. Membuat hati ini kembali menyebut istighfar.


"Kurang lima ratus ribu, katanya, Mas. Karena tidak semua biaya di cover oleh asuransi kesehatan," jelasku yang baru saja membaca isi pesan dari Tyo. Alhamdulillah, Mbak Lidia menyumbang satu juta. Setyo adikku punya simpanan lima ratus ribu. Alhamdulillah akan cukup jika mas Azam mau meminjamkan sesuai nominal yang ku pinta.


"Oke, Mas kasih! Tapi kamu harus bayar malam ini!" Tentu saja ucapan mas Azam itu membaut keningku sontak berkerut bingung.

__ADS_1


"Alhamdulillah, makasih, Mas! Tapi, kenapa malam ini juga? Maksud, Mas gimana?" cecarku bingung.


"Nih, Mas di kasih jamu sama Radit. Nanti malam, Adek harus kembali bergoyang. Bukankah, aku ini suami yang sangat baik. Sebagai istri, kamu, Mas bayar. Jadi yang total! Kamu dapet dobel tuh. Duit juga pahala juga!" Setelah mengatakan itu, mas Azam meletakkan uang lima lembar yang merah ke atas pangkuanku beserta satu bungkus jamu. Ah, Mas. Apa kau sadar? Jika kalimat yang barusan kau ucapkan justru menoreh luka di hatiku.


_____


"Mas, Adek udah gak kuat lagi. Kenapa senjatamu terus berdiri? Ini sudah lima jam ...," ucapku lirih sambil menahan perih pada daerah spesial ku.


Mas Azam, seolah dendam. Di kala rumah sepi ia terus memaksaku membantunya melampiaskan hasrat yang tertahan. Apalagi, kawannya sengaja memberikan ia Jamu untuk menambah vitalitas pria. Benar saja, tubuh ini seakan remuk. Aku mau pingsan, tapi mas Azam menatapku dengan sorot mata marah.


"Kamu harus bekerja keras, Dek. Kan, Mas sudah membayar mu tadi! Apa aku masih kurang pengertian? Kamu cuma goyang aja!" sarkas mas Azam justru semakin menjatuhkan harga diriku sebagai seorang istri.


"Mas, ahh ... itu, Lulu udah gak bisa diem. Cepat, Mas!" ucapku agar Mas Azam segera menghentikan permainan kami. Apakah berdosa, jika aku berharap Lulu terbangun dan menangis sekencang-kencangnya?


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2