Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 37. Komentar Netizen


__ADS_3

Telah kudengar kabar mantan suamiku yang telah menikah lagi. Sebab, aku mengontrak rumah di kampung sebelah. Salah satu orang tua murid dari sekolah Heru, berteman di salah satu sosial media dengan janda genit itu. Astagfirullah, aku secara tidak sengaja selalu mengumpat dan mengatai Jelita.


Semoga mereka saling membahagiakan. Terutama ibu. Semoga, kali ini ia benar-benar meraih kebanggaan telah memiliki menantu yang kaya dan cantik.


"Pantes aja lakinya, pindah haluan. Istrinya sih, kagak bisa ngurus diri,"


Kudengar sesekali para orang tua murid membicarakan keadaan rumah tanggaku. Mereka hanya melihat dari luar kemudian menghakimi seenaknya. Satu hal yang membuat ku tak habis pikir adalah. Mereka sama-sama perempuan sepertiku, tapi entah kenapa mereka justru membela keputusan mas Azam tanpa tau keadaan yang sebenarnya.


Sekali lagi, bentuk tubuhku lah yang di jadikan bahan olokan serta limpahan kesalahan. Aku membenarkan gendongan kangguru yang seperti merosot. Lulu mulai tak bisa diam. Ia ingin turun dan berjalan. Sementara, Abangnya sebentar lagi keluar dari kelas.


"Sekarang mah, kita jadi bini kudu lebih glowing dari pada pelakor. Kalo cuek dan gak bisa ngurus diri. Hem, siap-siap aja lakik kita di embat."


Sekali lagi ku dengar mereka membicarakan ku. Meskipun tidak ada menyebut nama. Namun aku yakin, wanita yang sedang mereka komentari adalah aku. Akhirnya karena penasaran, aku pun mengintip postingan, Jelita.


Deg!


Seketika hati ini berdentum lebih cepat. Keduanya terlihat begitu bahagia di atas penderitaanku. Bahkan sudah lebih dari sepekan, mas Azam mantan suamiku, sama sekali tidak menghubungiku demi menanyakan keadaan kedua anaknya.


Tega kalian! Terutama kau, mas!


Dengan tak tau malunya, Jelita menyelipkan sebuah caption.

__ADS_1


Yeayy, menang.


Melepaskan, si tampan dari penderitaannya selama ini!


Dadaku seketika bergemuruh. Ingin sekali aku meluncurkan komentar di sana. Akan tetapi, sekali lagi akal sehatku mendominasi. Untuk apa aku peduli lagi terhadap mereka. Terserah mau melakukan apa dan juga berkata apa. Lebih baik, aku fokus saja pada kedua anakku dan juga beberapa projek di depan mataku.


Aku bersyukur, karena Allah memberikanku pikiran yang bersih dan dapat berpikir dahulu sebelum bertindak. Sehingga, aku tidak akan lagi merendahkan harga diriku kepada siapapun.


___________________


Beberapa hari kemudian, reward novelku yang diadaptasi menjadi web series turun. Bersyukurnya lagi, uang senilai dua puluh lima juta itu turun bersamaan dengan gaji dari berapa novel online ku yang tanpa ku duga menjadi booming.


Aku mengajak, Dina. Sahabat ku satu-satunya yang mau menerima ketika keadaan ku di fase terbawah. Ia yang selalu memberiku solusi ketimbang sekedar menghakimi. Karenanya, aku tidak akan pernah melupakan dia ketika, keberhasilan perlahan menghampiri ku.


Aku, memintanya untuk menemaniku berbelanja sekaligus menyenangkan kedua anakku. Ternyata, Dina mengajarkanku untuk perawatan ke salon dan juga berbelanja pakaian dan juga aksesoris di butik. Harganya pakaian di sini cukup mahal bagiku. Tapi, kata, Dina ini adalah salah satu butik termurah yang tersedia untuk kalangan menengah.


Jadi, jika ada gamis yang di bandrol dengan harga tujuh ratus sampai satu setengah juta itu wajar, kata Dina. Tapi, tidak denganku. Aku merinding di buatnya.


Akhirnya, aku pun menyeretnya untuk mencari barang diskonan saja. Bagaimanapun, kau tidak boleh boros dan mementingkan diri sendiri. Uang yang ku miliki akan ku tabung untuk masa depan kedua anakku. Karena, papa mereka seakan lupa. Mas Azam menjalankan ancamannya yang tidak akan memberikan tunjangan apapun untuk kedua anaknya.


"Lihat kan, Dina. Kalau belanja di sana, habis tiga juta aku hanya dapat sepotong gamis dan juga selembar Khimar. Tapi, kamu lihat deh tentengan kita. Dengan membeli barang diskonan juga ternyata masih bisa gaya dan modis. Dengan jumlah yang sama tapi kita dapat barang berbeda yang lebih banyak." Aku berkata sambil tersenyum hingga gigi rataku nampak semua.

__ADS_1


"Iya iya, elu benar, Lika. Emang ya, biar kata udah banyak doku, elu tetap masih Lika yang bersahaja. Emang gak salah deh, elu, gue jadiin sahabat."


Dina pun ikut tersenyum, setelah puas shopping dan kesalon, kami bermaksud menjemput, Heru dan Lulu yang ku titipkan di salah satu day care. Letaknya masih satu gedung dengan pusat perbelanjaan ini.


Ketika hendak berbelok, ada seseorang yang menabrak bahuku.


Aku pun oleng, karena pria yang menabrak ku itu, terlihat tengah mengejar seseorang.


"Astagfirullah, maaf!"


Aku mendongak seraya mengusap bahuku yang sedikit linu. Belum lagi punggungku yang membentur pada dinding. Aku terkesiap sesaat. Sepertinya pernah melihat, tapi dimana?


"Mbak, gapapa ... kan --" Pria itu pun menatapku dengan intens. Sungguh, aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.


"Ya Allah, Azura!" pekiknya yang sontak membuat ku pun mengenalinya.


"Dimas, ya?" tanyaku ragu.


Pria berlesung pipi itu pun, tersenyum manis. Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2