
Mak Chibi, udah up dua bab malam ini ya guys!
Mohon dukungannya, lewat vote, hadiah dan like.
Biar jempol ini semangat ngetiknya.
Seperti semangat kalian yang nuntut up dan up.
😁
Ok!
Selamat Membaca ...
*
__ADS_1
*
"Sudah, Zam. Kalau dia mau pergi biarkan saja. Buat apa di tahan. Perempuan sombong kayak gitu. Memangnya jadi janda itu enak? Kamu bakal di cibir orang. Dianggap wanita yang gak becus berumah tangga!" hardik ibu. Sambil berkacak pinggang dan menudingkan jari telunjuknya ke arahku. Jangan lupakan sepasang mata besarnya yang melotot, seakan hendak keluar dari rongganya.
"Hih, emang dasar dia gak becus kok! Rawat diri aja gak bisa! Rawat suami sakit juga gak sembuh-sembuh. Coba tuh, Mbak Jelita. Di urus dia tiga bulan, Mas Azam langsung bisa jalan!" ketus, Nela membuat keadaan semakin memanas.
Begitu juga dengan hatiku. Ingin rasanya ku bungkam mulut, Nela menggunakan kanebo penuh oli. Seenaknya saja ia membandingkan. Ingin rasanya mengumpat habis-habisan, tapi percuma saja. Hanya membuang waktu dan tenaga.
"Terserah, kalian mau berkata apa. Aku punya hak untuk menentukan nasibku sendiri. Aku, tidak butuh kalian untuk merencanakan kehidupanku ke depan. Sejak jauh hari, aku telah menghidupi diri sendiri. Tentunya, Jika kalian sadar. Lagipula, sejak awal, Mas Azam telah menentukan padaku dua pilihan. Itu membuktikan, jika dirinya sudah tidak membutuhkan ku lagi. Benar begitu kan, Mas?" Aku menantang suamiku, untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Meskipun, jawabannya nanti akan sangat melukai hatiku.
Tapi, aku butuh kejelasan di sini. Sebelum, akhirnya mengambil langkah maju yang tidak akan mungkin bisa mundur lagi.
Karena, jika aku tetap bertahan maka rumah tanggaku hanya akan menjadi neraka dunia bagiku dan kemungkinan juga menjadi lingkungan yang tidaklah sehat bagi kedua anakku.
Bagaimanapun, aku harus menyelamatkan tumbuh kembang kedua anakku. Aku ingin mereka tumbuh di lingkungan yang berakhlak. Dimana orang-orang saking menghargai satu sama lain. Dimana tidak terdengar caci dan makian. Hinaan dan juga cibiran. Aku ingin, kedua anakku menjadi anak yang memiliki kepercayaan diri dan yakin atas kemampuan mereka.
__ADS_1
Karena, jika masih tinggal di sini mereka hanya akan mendengar hinaan dan tatapan remeh. Bahkan, ketika Heru belum bisa membaca ibu terus membandingkannya dengan cucu orang lain. Ketika, Lulu belum bisa bicara sampai sekarang. Ibu kembali membandingkannya dengan cucu orang lain. Aku lelah dan bosan berada dalam posisi ini. Bolehkan, jika aku menyerah.
Bukan lantaran karena menjaga perasaanku. Tapi, semua lebih itu. Perasaan kedua anakku lah yang kini berada di atas segala-galanya. Rumah ini, tidak dapat menjadi perlindungan yang aman bagi mereka. Ketika, kakek, nenek, bibi dan terutama papanya. Tidak satupun, mengutarakan rasa bangga dan pujian sekalipun semenjak mereka lahir ke dunia ini. Selalu saja, ada selah untuk di cela.
"Maaf, Mas. Sekali lagi, aku minta maaf. Aku tidak dapat lagi menjadi tameng keluarga ini. Aku hanya manusia biasa, yang juga punya perasaan. Hati ku bukan terbuat dari batu ataupun besi, Mas. Tapi, dari segumpal daging yang bisa terluka dan sakit. Tolong, bebaskan aku dari belenggu rasa sakit dan ketidakberdayaan ini. Dengan begitu, Mas bebas untuk bahagia dengan siapapun. Aku, merelakan mu untuknya, Mas," ucapku tegas.
Ternyata, sekuat apapun aku untuk tegar. Kenyataannya, diri ini hanyalah manusia biasa. Lelehan air mata ini tak mampu aku kendalikan lajunya.
"Apa, maksud mu, Lika?" Mas Azam mulai merendahkan nada suaranya. Tapi, tekadku sudah bulat. Ia tidak membutuhkan ku sebagai seorang istri. Ia tidak dapat menjadi seseorang yang dapat melindungi kehormatan dan juga keselamatan kami. Tak ada lagi alasan yang melemahkan niatku.
"Biarkan aku pergi, Mas. Talak aku!" Sekuat tenaga aku mengungkap hal yang sangat tidak di sukai oleh Allah. Namun, sangatlah di sukai oleh setan dan iblis. Dimana, langit dan bumi akan berguncang ketika ada seorang istri yang meminta cerai pada suaminya.
Akan tetapi, tipe suami yang seperti apa? Tentu saja dia adalah makhluk yang di muliakan oleh Allah lantaran kesholihannya. Sehingga, sang istri pun wajib menaati setiap kata-katanya. Namun, tidak kutemukan sedikitpun ciri-ciri suami yang termasuk dalam daftar hamba Allah yang Sholih.
Ibadah sesuka hati, mengaji juga enggan meskipun dirinya sedang sakit dan banyak waktu luang. Mas Azam lebih memilih memainkan game dengan ponselnya. Bahkan, puasa pun dia tak kuat. Alasannya kerja seharian, lelah dan lemas. Padahal, pada saat itu, aku tengah mengajarkan kebiasaan puasa pada Heru.
__ADS_1
"Jadi, ini maumu? Jangan menyesal Lika. Wanita cantik dan kaya seperti Jelita saja tidak sanggup menanggung status janda. Lalu, Bagaimana dengan dirimu. Bahkan, kau tidak punya penghasilan dan telah memiliki dua orang anak!"
...Bersambung...