
Perempuan itu tidak akan mengatakan apa yang tengah ia rasakan pada hatinya. Akan tetapi dia akan menunjukkannya dengan sikap.
Maka dari itu, belajarlah untuk peka.
Kepadanya.
Karena, wanita akan setia di sisimu jika hatinya bahagia.
Kehadirannya di hargai.
Meskipun hinaan dan caci, menerpa hingga torehkan luka di hatinya.
Namun, ia akan kuat selama ada bahu dari pria yang menjadi belahan jiwanya.
Akan tetapi, ia akan pergi dan meninggalkanmu.
Ketika lelahnya tidak lagi di hargai, baktinya tidak lagi dianggap, pengorbanannya tidak lagi berarti.
Pada saat itu, ia akan pergi tanpa menoleh padamu lagi.
Karena, ia pergi membawa luka dan juga kekecewaan.
__ADS_1
*
*
*
"Tenang saja, Mbak. Insyaallah saya siap,"jawabku mencoba tetap tenang dan tersenyum. Apa yang di rasakan oleh hatiku, janda genit itu tidak boleh tau. Biar saja, baginya hal ini menjadi masalah yang biasa saja untukku.
Tidak akan ku biarkan dia tertawa, di atas penderitaanku. Lihat saja, aku tidak akan menangisi nasib.
Ketika kehadiran kita tidak lagi diinginkan, keberadaan kita tidak lagi di harapkan, lalu apa alasan mu untuk bertahan?
Malamnya, aku mencoba menahan mas Azam di kamar kami. Saat ini juga, aku butuh kejelasan.
"Mas, Adek rasa ... ada yang ingin kamu sampaikan. Ucapkan saja, jangan di tahan. Daripada, aku mendengarnya dari mulut orang lain. Lebih baik, semua itu keluar dari mulut kamu," ucapku tetap seperti biasa. Seolah, masalah yang akan kami bicarakan ini bukanlah hal yang besar.
"Mas rasa, kamu sudah paham," jawab suamiku, enteng. Saat ini, kami berada di depan televisi. Duduk berdua di atas sofa bed. Tak lupa aku menyiapkan kopi dan juga cemilan kesukaannya. Roti bakar coklat kacang. Aku membeli bahan-bahannya tadi sore. Menyimpannya di kamar, dan membakarnya menggunakan pemanggang waffle. Barang itu, aku beli online, belanja murah sebelas-sebelas.
Aku sengaja menyembunyikannya di dalam kamar. Kalau orang rumah tau, apalagi Ibu ... bisa ramai mereka menanyakan ini dan itu. Nanti kalau biaya listrik naik pasti aku yang akan di salahkan. Padahal, kami sudah sangat irit. Kipas angin saja yang menempel di langit-langit kamar. Alias kipas baling-baling.
Sementara kamar, Nela dan juga Ibu. Menggunakan AC. Apa aku protes, padahal bayar listrik menggunakan gaji dari mas Azam? Tidak! Aku tidak mungkin protes kalau suami ku saja tidak keberatan. Sebab, suamiku memang tak bisa kena dingin.
__ADS_1
"Faham gimana, Mas. Wong yang bicara sama aku aja, cuma ibu sama mbak Jelita," ucapku masih berusaha memasang wajah ramah dengan senyum manis semanis-manisnya.
Ku lihat, mas Azam terkesiap sesaat. Ketika aku menyebut nama janda genit itu. Tapi, aku pura-pura saja tak tau. Entah apa yang tengah mereka sembunyikan ini.
"Ehm, memangnya, apa yang Jelita katakan?" tanya Mas Azam. Sepertinya, suamiku ini memang tengah menyembunyikan sesuatu. Tapi, aku mencoba untuk bersikap biasa saja. Aku harus bisa menahan rasa ini. Rasa sakit dan kecewa yang tiba-tiba membuat ku ingin menangis dengan kencang di hadapannya.
Hati kecilku memerintahkan diri ini untuk memohon padanya, mengemis cintanya lagi. Akan tetapi, logika ku mengatakan ... untuk apa? Apakah aku akan mati tanpa cintanya? Apakah aku akan kekurangan tanpa kasih sayang darinya? Toh, selama beberapa bulan ini, aku bahkan telah terbiasa hidup seolah tanpa dirinya. Meskipun, status kami masih sama. Meskipun tempat tinggal kami masih satu atap.
Bukankah? Aku bisa menghandle semuanya sendiri. Mulai dari kebutuhan anak-anak juga kebutuhan ku. Aku, bahkan bisa bekerja sambil mengurus dua anak balita yang super aktif.
Tanpa bantuan sama sekali dari keluarga mas Azam maupun dirinya sebagai suamiku. Kecelakaan itu, bukan hanya merenggut kebebasan dari mas Azam. Tapi juga merenggut sikapnya yang penuh cinta dan perhatian. Perlakuannya yang lembut dan penuh kehangatan.
Kini, keterpurukan itu berangsur pergi. Kebahagiaan suamiku perlahan kembali. Kesehatannya sedikit demi sedikit pulih.
Tapi, rasa cinta dan sikapnya awal di pernikahan kami. Telah pergi dan tak kembali lagi.
Apakah ini harus ku tangisi?
Bolehkah aku menyesalinya?
...Bersambung...
__ADS_1