
"Sebentar ya, aku ada urusan sebentar. Kamu jangan kemana-mana. Nanti aku balik lagi!" Pria yang menabrak ku itu segera berbelok. Namanya, Dimas. Dia adalah salah satu temanku ketika sekolah menengah pertama. Anak laki-laki yang suka jahil dan usil padaku.
Teringat, dirinya yang selalu menarik ujung jilbab belakangku ketika ingin meminta jawaban atau mencontek. Tidak kusangka, jika pada saat ini dirinya bisa setampan itu.
"Astagfirullah!"
Segera ku buang jauh-jauh kekaguman sesaatku itu. Bagaimana, jika saat ini dirinya adalah suami perempuan lain. Bisa berdosa aku. Apalagi, masa Iddah ku juga masih lama.
"Ayo, Lik."
"Gak enak, Din. Dia bilang mau balik lagi."
"Emang, dia siapa sih? Mantan Lu?" cecar Dina, dengan sorot mata menelisik.
Aku lantas menggeleng. "Aku kan gak pernah pacaran, Din. Jadi, mana punya mantan. Mas Azam itu, cinta pertama aku dan pria pertama yang membuatku tau artinya cinta dan juga rasa sakit," ucapku lirih. Hah, mendadak hati ini kembali berdenyut. Ternyata, tidak semudah itu melupakan semua kenangan kala bersamanya.
"Masih aja di sebut namanya. Laki-laki Dajjal kayak gitu mah lupain, Lika. Gak usah lu inget-inget lagi. Dia aja gak bakal inget Ama elu! Lagi indehoy kan sama binik barunya yang hot jeletot," ucap Dina begitu sinis dan ketus. Meski ku tau, kemarahannya tidaklah tertuju padaku.
Dina, sahabat yang baik. Meskipun pakaiannya masih sembarang, tapi jika dirinya berjalan denganku, maka ia akan mengimbangi. Dina, akan mengenakan pakaian tertutup. Sebenarnya, suami, Dina, Mas Wira. Nampak senang ketika, istrinya ini jalan dengan ku. Mungkin, mas Wira juga keberatan jika istrinya ini suka memamerkan bentuk tubuhnya yang aduhai. Hanya saja, Dina itu keras kepala.
__ADS_1
Dia selalu berkelit jika yang ia lakukan hanya sebatas menghargai dirinya, menyenangkan hatinya. Tidak ada maksud menggoda laki-laki lain, ataupun tidak menghargai suaminya. Aku paham, Dina hanya kurang ilmu dan pemahaman agama saja. Selebihnya, ia adalah pribadi yang baik dan tulus. Semoga, perlahan aku bisa membawanya menjadi lebih baik.
"Mau nunggu sampe kapan nih, lama banget tu orang!" protes Dina yang sudah tak sabaran. Kasian juga dia kan sambil menggendong Lulu. Entah kenapa, putriku ini semakin lengket saja dengan Dina. Apa jangan-jangan ...
"Sebentar lagi ya, Ate Dindin. Heru sama Lulu sabar ya, sepuluh menit lagi, oke!" ucapku pada ketiga orang yang nampak gelisah ini. Heru, pasti memikirkan mainan robot yang ku janjikan sedangkan Lulu, senang ketika naik dan turun eskalator. Dina, pasti mau balik ke toko yang memberi diskon untuk skincare.
Apa aku harus menunggu, Dimas?
Memangnya, pria itu anak kembali menemuiku?
Apa yang ia lihat dariku? Lika yang dulu kecil imut, kini sebesar badak.
Mungkin, ia hanya basa-basi saja mengatakan akan kembali. Betapa bodohnya aku.
Aku menghela napas panjang. Merutuki kebodohan ku sendiri. "Yuk, mungkin, Om yang tadi nyasar. Jadi, lupa jalan balik kesini," ucapku asal. Ada segurat kecewa yang coba ku hempas. Agar tidak menambah rasa sakit dalam hati.
"Lu mikir apaan, Lik. Kenapa, tiba-tiba gak jadi nunggu?" Dina, terkadang seperti cenayang. Tau saja apa yang ada dalam pikiranku.
"Aku sadar diri, Din. Mungkin, dia sudah memiliki istri yang sangat cantik. Jadi, buat apa menghampiri ku lagi. Udah ah, kita ajak anak-anak makan es krim aja di sana!" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk stand yang menjual es krim cone.
__ADS_1
Ketika melewati pilar yang berlapis cermin. Aku melihat pantulan diriku di sana. Dina, kemudian merangkul lenganku. Padahal, ia sendiri sibuk menggendong, Lulu.
"Jangan di pikirin, nanti kita obik bareng-bareng. Gue yakin, apa yang lu pasti jadi kenyataan."
Manis sekali, angan-angan yang, Dina janjikan padaku. Karena pada kenyataannya, semua itu tak pernah terealisasikan. Alhamdulillah, aku di sibukkan dengan beberapa karya dalam satu bulan.
Naskah yang ku kirim pun di setujui untuk di jadikan buku cetak dan juga FTV. Bahkan, salah satu penulis skenario sinetron mengajakku untuk bekerja sama. Sungguh, kesibukan telah membuatku lupa untuk melakukan diet dan juga nge-gym.
Hanya saja, sesekali di kontrakan ku yang baru. Aku suka melakukan skipping sambil mencari inspirasi, juga terkadang sit-up sebelum tidur, kalau tidak lupa.
Sejak saat itu, aku belum pernah lagi bertemu dengan, Dimas. Bahkan, aku telah melupakan pertemuan itu diakibatkan kesibukan ku.
"Din, nanti mbak Sari kalo mau masuk ke rumah, kuncinya ada di bawah pot ya. Aku, buru-buru nih. Bang Anwar ngajak ketemu dadakan sama penulis skenario yang lain. Kayaknya, projek kita bakal tayang bulan ini," ucapku di balik telepon seluler. Berhubung, kesibukanmu dalam dunia tulis dan skenario. Aku pun mempekerjakan pengasuh untuk menjaga dan mengurus kedua anakku.
"Maaf ya, sayang. Mama begini demi masa depan kalian," ucapku lirih sambil memandangi foto Heru dan Lulu di galeri ponsel. Kini, aku telah berada di dalam taksi online.
"Selamat pagi menjelang siang, Mbak Azura!" Bang Anwar menyambut ku dengan jabatan tangan. Namun, aku hanya membalasnya dengan senyum dan kedua tangan yang ditangkupkan depan dada.
"Ah, its oke, kenalkan ini para penulis yang terpilih dalam tim kita." Bang Anwar selalu penulis skenario terkenal dan kawakan, mengajakku ikut dalam projek sinetron romansa- religi -komedi garapannya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, saya Azura."
...Bersambung ...