
POV AZAM.
Aku gemas sekali melihat istriku sejak tadi terus tersenyum. Sebenarnya apa yang ia pikirkan saat ini. Aku memang tidak berharap penolakan darinya. Tapi, melihatnya seperti itu seakan ia tengah menganggap enteng masalah ini.
Justru hatiku takut jika sebenarnya, Lika tertekan dan stress. Bisa-bisa, orang luar akan menganggap ku telah mendzolimi dia. Padahal, sudah jelas, jika keputusan ini demi keuntungan kita bersama. Meskipun, tak ku pungkiri jika aku memang lah yang akan lebih banyak mengerti keuntungan.
Kapan lagi, melihat kawan-kawan ku nanti berdecak kagum. Selama ini mereka selalu menganggap ku bodoh dan bernasib sial. Karena, memiliki istri yang tidak bisa di pamerkan. Mereka mengatakan jika aku bodoh lantaran, selalu menolak ajakan selingkuh dari teman wanita di kantor.
Sebenarnya, aku menolak lantaran tidak ingin terkena penyakit kelamin. Biasanya, wanita yang menggoda sesama teman kantor biasa tidur dengan banyak pria. Tentu saja hubungan seperti ini, beresiko tinggi. Aku, juga tidak ingin gajiku terbagi atau berkurang lantaran teman selingkuh yang akan menuntut macam-macam padaku.
Berbeda bukan dengan hubunganku dan Jelita? Kami tidak berniat selingkuh. Bahkan kami berniat untuk menikah. Memilih menjalin hubungan dengan cara terhormat.
Dengan begini, pernikahan ku yang sakral tidak akan ternoda kesuciannya. Aku juga akan terbebas dari resiko penyakit kelamin serta pengeluaran yang di luar jangkauan. Justru, kehidupanku akan semakin baik dengan menikahi janda cantik yang kaya raya ini. Apalagi, Jelita begitu menyukaiku. Bahkan, ku rasa dirinya begitu bucin.
Seperti istriku saat ini, Lika. Dengan begitu, maka aku akan memiliki dua istri yang penurut dan mudah di atur. Enaknya lagi, Jelita tidak akan menuntut hak uang belanja setiap bulan dari gajiku yang tidak seberapa baginya. Itulah hal yang membuat ibu dan ayah langsung menerima, Jelita dengan kedua tangan terbuka.
__ADS_1
Secara, pendapatan Jelita dari usaha mandiri serta peninggalan aset suaminya lebih daripada gaji yang ku terima selama tiga bulan. Tentu saja, kehidupanku ke depan akan lebih baik. Setidaknya, aku dapat menabung lagi setelah angsuran kendaraanku di lunasi olehnya.
Teringat, dengan janji yang di utarakan oleh Jelita kala itu.
"Mas jangan khawatir. Nanti, setelah menikah ... Aku gak akan menuntut nafkah darimu. Justru, nanti, Mas Azam yang akan ku beri jatah setiap bulan. Itung-itung aku membagi hasil dari usaha yang tengah ku geluti saat ini. Karena, nanti sebagian dari aset ku itu, akan ku ubah menjadi namamu, Mas. Asal, Mas Azam selalu ada buatku, itu saja," ucapnya seraya memberi remasan lembut pada telapak tanganku yang digenggamnya.
Janda cantik bin seksi itu juga berkata, tidak akan mengurangi jatahku ketika bersama, Lika. Sungguh, betapa baik niat dari Jelita. Entah, kebaikan apa yang membuat, Tuhan mengirimkan bidadari sepertinya untuk memberi kebahagiaan dalam hidupku.
Semoga, dengan adanya Jelita, istriku akan semakin terbuka wawasannya. Jika wanita juga bisa berkarir dan sukses meskipun tetap menjadi ibu rumah tangga. Sehingga, tidak harus mengandalkan semua kebutuhan dari gaji suami saja. Bukankah, jika ingin sukses itu harus kerja keras berdua. Kerja sama yang baik itu akan membuahkan kesuksesan yang menyilaukan mata para tetangga.
Karenanya, aku akan memaksa Lika untuk menyetujui keputusan ini. Karena, di sini tidak ada satu pihak pun yang akan dirugikan. Setidaknya, ibu dan ayah tidak akan lagi terfokus padanya.
Ku harap, Jelita dapat memberi pengaruh positif pada istriku ini. Agar dirinya dapat memperbaiki bentuk tubuhnya yang tidak enak di pandang itu.
Karenanya, aku menekan agar ia segera menjawab saat ini juga.
__ADS_1
"Lika, cepat katakan apa jawabanmu?" kataku tegas dengan tatapan yang menyorotnya tajam. Kata ayah, selama ini aku terlalu lembut padanya sehingga, Lika merasa di atas awan.
"Maaf, jawaban Lika ... tentu saja tidak akan merugikan pihak manapun. Semua yang ada di sini pastinya akan hidup lebih tenang. Karena, tidak mungkin ketenangan akan di dapat. Jika, ada dua cinta dalam satu atap rumah tangga," tuturnya tenang dengan senyum yang masih menghias wajahnya yang manis.
Namun, kenapa kata-kata seakan pahit untukku?
"Apa maksudmu, Lika!" ujar ku sedikit bernada tinggi. Sebab, aku sangat emosi mendengar kalimatnya yang ambigu itu.
"Apa, Mas lupa? Bukankah, pada malam itu, Mas memberi pilihan padaku? Bertahan jika aku setuju dan boleh pergi jika aku menolak. Maka itu, hari ini ... Lika mengambil pilihan, Mas yang kedua."
Deg!
"Jangan main-main, Lika?" Aku pun sontak berdiri dan mencekal pergelangan tangannya. Anehnya, istriku ini masih tetap tersenyum.
...Bersambung ...
__ADS_1