Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 18. Tragedi Tengah Malam.


__ADS_3

Ternyata harapanku Allah kabulkan dan menjadi kenyataan. Lulu menangis di dalam kamar, sementara Heru tidur di kasur depan. Ruang tamu hanya di batas oleh gorden. Aku, diam sebentar berharap mas Azam memerintahkan ku untuk turun dari tubuhnya. Kami bermain di atas sofa Ibu dalam keadaan lampu dimatikan.


"Biarkan saja, nanti juga diam sendiri!" Mas Azam kembali mendorong pinggul ku agar kembali bekerja. Hati ini dilema, tak ada kenikmatan yang kurasakan ketika pikiran bercabang. Aku takut jika ...


Brugh!


"Maaa!"


"Ya Allah, maaf, Mas!" Aku langsung melepaskan diri tak peduli tatapan horor dari suamiku itu. Ku kenakan dengan cepat daster kumalku itu, lalu menghambur ke kamar, hingga aku hampir terjungkal karena kepeleset.


"Allahuakbar, Lulu!" Putriku yang baru berusia setahun lebih itu, telah terjungkal dari atas kasur dengan posisi kepala lebih dulu. Tangisannya sangatlah kencang. Mungkin lantaran sakit dan juga kaget tidak aku di sampingnya.


"Ya Allah , Mas! Lulu jatoh!" teriakku pada suami sambil menahan tangis. Ku gendong putriku itu ke ruang tamu.


"Mas, aku takut, Lulu keseleo," ucapku yang timbul tenggelam lantaran teriakan campur tangis putri kedua kami itu.


"Lagian kamu sih gak becus banget jadi ibu! Udah tau anak tidur gak bisa diem, kenapa tidak di halangi pinggiran kasurnya! Udah tugas sebagai istri aja kamu belum selesai! Sekarang aku harus mendengar jerit tangis Lulu tengah malam begini!" omel suamiku marah. Sungguh tidak lantas di saat seperti ini bukan?


"Sudah, Mas. Sudah, Adek halangi pakai guling kok. Tapi gak tau kenapa, Lulu masih bisa jatuh juga," jawab ku sambil menelungkup kan Lulu dan mengusap bahu serta lehernya menggunakan balsem urut bayi.

__ADS_1


"Kamu tuh, selalu menjawab apapun ucapan suamimu! Jangan mentang-mentang bisa nyari duit, lalu kau pikir harkat martabat mu di atas laki-laki!" Seruan mas Azam seketika menyentak hatiku yang tengah gamang ini. Air mata pun jatuh mengalir dengan deras seiring dadaku yang sesak. Aku sedang bingung setengah mati mendengar tangisan Lulu yang belum juga berhenti. Bahkan, putriku ini meronta bagaikan kesakitan. Sepertinya memang ada yang terkilir sebab, jarak tempat tidurku dengan lantai cukup jauh.


"Sudah jangan menangis! Urus saja sendiri hasil perbuatanmu itu. Awas saja kalau sampai, Lulu kenapa-napa! Sana, cari tukang urut!" hardik mas Azam lagi, kencang. Aku kembali tersentak hingga menjengit kaget. Mas Azam begitu tega membentakku berkali-kali. Apakah segitu marahnya dia! Karena permainan kami berhenti mendadak di saat, mas Azam sedang tinggi-tingginya.


"Maaf, Mas. Tapi, Lika gak tau mau cari dimana malem-malem begini ...," lirihku, sedih sekali. Aku membayangkan putriku ini kesakitan karena terjatuh tadi. Kenapa kamu begitu lincah sayang, sampai guling yang mama tumpuk saja bisa kamu tendang? tanya ku dalam hati.


"Itu bukan urusanku! Sialan!" Kudengar mas Azam mengumpatku saking kesalnya. Aku paham, aku maklum dan mengerti. Mungkin efek jamu tadi belum menghilang, sehingga mas Azam memutar kursi rodanya cepat ke kamar mandi. Tak lupa ia juga membawa ponsel pintarnya. Entah apa yang akan di lakukan suamiku di dalam sana semoga saja itu tidak menjadikan ku terseret ke dalam dosa.


"Mas, maafkan, Lika. Lulu, sabar ya sayang. Mama gak tau mau mencari tukang urut kemana malam-malam begini. Sebentar ya, Nak!" Aku membawa putriku kedalam kamar, lalu aku menyalakan ponselku. Membuka salah satu media sosial yang dapat membantu mencarikan cara mengurut bayi yang keseleo.


Media sosial berwarna persegi panjang merah itu menampilkan Vidio berdurasi sekitar dua puluh menit. Ku lihat daftar dari ciri-ciri balita yang terkilir. Ternyata aku harus menenangkan psikis Lulu terlebih dulu. Kuabaikan mas Azam yang melewati kamar sambil berdecak. Sepertinya ia telah selesai melakukan pertolongan pertama pada dirinya sendiri. Aku hanya akan fokus dahulu pada Lulu.


Ku buka kulkas mencari es batu. Lalu ku ambil handuk kecil. Ku pecahkan es batu tersebut dan memasukkannya ke dalam handuk. Setelah itu, ku gunakan untuk mengompres bagian bahu yang hampir bengkak kebiruan. "Maa!" Lulu menjerit kencang, mungkin putriku ini kaget. Ada rasa dingin yang meresap melalui kulitnya.


Ku kecup beberapa kali kening, pipi dan juga kedua matanya. Mencoba tersenyum untuk memberi ketenangan itu. Ku tatap kedua matanya yang basah. Lalu kukatakan padanya ...


"Sabar ya, Lulu sayang, Mama lagi mencoba mengobati, Dedek. Mengompres dengan es batu. Agar persendian kamu yang keseleo bisa lekas membaik ya, sayang ..."


Ku baca di artikel, jika bekas keseleo jangan di urut sembarangan. Nanti akan menyebabkan bagian otot yang cidera menjadi bertambah parah. Karenanya aku memilih mengompres bagian yang sakit dengan es batu. Lalu meletakkan kompres demam pada bagian yang sakit. Aku menidurkan Lulu dengan meninggikan bantal. Lalu, aku memberi pijatan lembut pada sekitar lengan bukan pada bagian yang bengkak. Hanya bermaksud membuat peredaran darah Lulu kembali lancar. Juga memberi efek relaksasi. Alhamdulillah, Lulu perlahan tenang dan tertidur kembali.

__ADS_1


Seketika, terasa ada yang lepas dan luruh dari pundak ini. Aku pun ikut membantu merebahkan raga di atas kasur. Tanpa peduli lagi apa yang mas Azam pikirkan nanti. Aku sudah lelah, tak terasa jam di dinding telah menunjukkan angka 02.15. Dini hari.


Keesokan harinya, aku pergi ke area supermarket dekat rumah. Aku ingin mengirim uang tambahan untuk biaya operasi, bapak. Ingin rasanya aku berlari ke rumah sakit tempat dimana bapak di rawat. Tentu saja itu tidak mungkin ku lakukan sekarang ini.


Syukur ku panjatkan ke hadirat Allah yang maha kuasa. Keadaan Lulu telah membaik setelah treatment yang ku lakukan semalam dan ku ulangi lagi tadi pagi.


"Ayah, belum juga pulang kerumah sudah hampir tiga hari. Lena pulang kerumah marah-marah. Ia mengeluh capek dan lelah, serta tidak bisa merawat dirinya karena harus menunggu ibu sendirian. Entah kemana perginya keluarga ibu dan bapak. Padahal keponakannya banyak. Tapi, di saat seperti ini tidak satupun yang hadir menengok.


Inikah pertanda jika bahasa kita kurang baik terhadap orang lain? Ya, meskipun kau sering memberi sekalipun. Akan tetapi, jika pemberian darimu selalu di awali dengan hinaan ... maka inilah balasan yang akan kau dapat.


Sejatinya, lisanmu lah yang akan menempatkan dirimu. Mau itu di sukai atau pun tidak. Berusahalah menjaga perasaan orang lain dari bahaya lisanmu.


"Terus siapa yang jaga ibu? Bisa nanti aja kan ke salonnya! Nela!" Ku dengar, mas Azam berkali-kali meneriaki adik perempuannya itu. Tapi, Nela tetap dengan pendiriannya yang ingin perawatan ke salon.


"Assalamualaikum, Mas Azam!" ku lihat dari ruang tamu jika janda genit itu datang menemui mas Azam yang masih ada di teras. Aku hendak menghampiri mereka berdua tapi ...


"Maa ... Dedek empup!" Aku pun hanya bisa mengeluarkan desah. Karena lagi-lagi gagal menemui tetangga kami yang memiliki niat tidak baik, menurut perasaanku. Semoga ini tidak termasuk ke dalam suudzon atau prasangka buruk.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2