Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 16. Kedatangan Kawan Kantor Mas Azam


__ADS_3

Tubuhku terasa remuk redam. Mas Azam sepertinya dendam. Melampiaskan yang ia tahan dalam satu waktu. Raga ini sama sekali belum ku luruskan semenjak kepulanganku kerumah ini. Tapi, aku senang dan bersyukur. Ternyata mas Azam masih bergairah dengan ku. Ku akui meskipun dalam keadaan lumpuh, napsunya masih saja besar. Meskipun aku harus bekerja lebih ekstra. Tak apa ... semoga menjadi ladang pahala.


Segera kubersihkan diri ini, sebelumnya aku membaca niat mandi wajib dahulu dalam hati. Membasuh kedua tangan tiga kali pada air yang mengalir. Membersihkan area pribadi sampai ke dalam menggunakan tangan kiri. Setelahnya kembali ku cuci kedua tanganku, lalu memberi sabun ke sekujur badan keramas menggunakan shampo pada rambut. Bagian akhir adalah, mengguyur air dari pangkal rambut hingga ke ujung kaki.


Alhamdulillah, anak-anak begitu pengertian. Keduanya tetap tenang dalam lelap meskipun aku telah selesai mandi. Ku rebahkan raga lelah yang sudah bersih ini sambil menunggu azan asar. Tentu saja setelah aku selesai menyiapkan air hangat untuk Mas Azam. Sekarang giliran suamiku yang mandi. Mas Azam bisa mandi sendiri. Dia sudah bisa berpindah dari kursi rodanya ke kursi khusus yang telah aku siapkan dalam kamar mandi. Nanti, kalau sudah selesai tinggal aku bantu untuk mengenakan pakaian padanya.


Baru saja kakiku lurus, dan school Instagaram untuk mempromosikan produk daganganku. Terdengar pintu yang di ketuk beberapa kali. Segera, kuambil hijab instan yang ku gantung di paku. Lalu aku keluar untuk membuka pintu.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" jawabku. Ternyata rombongan kawan satu kantor mas Azam hendak menjenguk. Total sudah hampir delapan bulan suamiku dalam keadaan seperti itu. Tak bekerja dan masih bergantung dengan kursi rodanya. Bagus saja, perusahaan masih membayar gaji pokok meskipun mas Azam tidak bekerja.


"Silakan masuk, mas Azam masih di kamar mandi. Di tunggu ya, Mas dan Mbaknya," ucap ku sopan. Serta senyum tak lepas ku sematkan pada wajah ku. Mas Azam pasti sangat senang karena di kunjungi teman satu divisinya. Aku pun berlalu kebelakang untuk mengabari suami ku.


"Mas, mandinya sudah selesai belum?" kataku sambil mengetuk pintu kamar mandi. Tak lama, suami ku membuka pintu.

__ADS_1


"Kenapa sih?" tanya mas Azam ketus. Kenapa sih dia? Semenjak sakit tabiatnya berubah-ubah. Tadi saya menatapku penuh gelora sekarang sinis seperti itu. Tetap saja ku balas dengan senyum yang lebar.


"Ada kawan-kawan mu, Mas. Dari kantor," jelasku. Seketika semburat senyum bahagia itu menguar begitu saja dari wajah segar suamiku. Aku pun ikut senang, sampai hati ini terharu. Pasti, mas Azam kangen sama teman-temannya itu. Rindu dengan suasana pekerjaannya juga. Aku mengerti dan sangat mengerti perubahan demi perubahan psikologisnya. Sebagai istri yang pengertian aku mencoba menerima semuanya dengan lapang dada. Berharap dalam doa di setiap sujudku, agar Allah segera menyembuhkan suamiku.


Ku nyalakan kompor untuk memasak air. Mungkin aku akan membaut kan beberapa gelas teh manis. Kebetulan ada terigu dan juga tape di dalam kulkas. ku nyalakan juga api di tungku yang kedua. Ku abaikan cucianku yang minta di bilas.


Minuman dan camilan selesai ku buat. Aku mengantarkannya ke depan. Tepat di saat ku dengar gelak tawa dari para tamu mas Azam.


"Bini gua mah, bisa langsing lagi pas abis lahiran. Makanya gua bersyukur banget. Gak jadilah nikah lagi." Sontak ucapan salah satu kawan mas Azam itu memancing tawa dari yang lainnya. Ku lihat raga ini dari atas sampai bawah. Tiba-tiba, rasa minder menggelayuti punggungku. Kebetulan, aku mengenakan daster yang sangat besar hingga tak membentuk tubuh. Aku merasa bak ondel-ondel saat ini.


Seketika panggilan dari mas Azam membuyarkan lamunanku. "Lika!"


"Maaf ya agak lama, jamuannya. Silakan, di nikmati ala kadarnya ya," ucapku berusaha tetap ramah, seraya menata beberapa gelas dan piring berisi gorengan tape. Meskipun kusadari, bahwa terdapat tatapan aneh mengulik dari beberapa mata kawan mas Azam. " Terimakasih ya, sudah menjenguk, mas Azam," ucapku lagi, sambil mendudukkan bokongku di sofa yang kosong. Tapi, belum juga satu menit ...


"Itu, cucian kamu kan belum selesai. Lanjutin aja. Sebelum anak-anak bangun," ucap mas Azam, membuatku tak jadi menemaninya menerima tamu. Ah, benar juga sih, tapi kok aku merasa lain. Sepertinya mas Azam malu, jika aku menemaninya. Tanpa berusaha menyakiti hatiku lebih dalam dengan segala praduga yang belum tentu benar, aku pun kembali ke belakang menyelesaikan pekerjaan ku. Sambil sesekali membuka sosial media untuk promo barang dagangan.

__ADS_1


Terkadang, aku juga membaca novel online. Untuk sekedar hiburan, menghilangkan stress yang kadang melanda jiwaku. Terbersit keinginan untuk juga dapat menuangkan kisah. Apalagi, menjadi penulis novel online juga bisa mendatangkan lahan uang. Hemm ... mungkin aku bisa mencobanya. Toh, ketika sekolah dulu aku memang suka membuat cerpen atau cerbung. Meskipun yang ku ikuti hanya lomba tingkat sekolah.


Setidaknya bidang tulis menulis atau sastra ini memang ku sukai sejak kecil. Bahkan, aku sempat di juluki ratu pantun dan sajak oleh kawan-kawan sekolah. Aku memberanikan diri, ku salin tulisan ku yang selama ini ku simpan dalam memo. Karena selama ini aku sama sekali tidak percaya diri. Takut jika cerita yang ku buat kurang menarik, sehingga tidak ada yang membacanya.


Kebetulan selama ini aku terbiasa menuangkan cerita yang ada di otakku di aplikasi catatan bawaan ponselku. Ternyata ada sekitar sepuluh macam judul, dengan jumlah bab yang lumayan banyak. Ku pilih-pilih genre yang mana yang sedang booming saat ini.


Ku abaikan, gelak tawa di ruang tamu yang akhirnya membuat putriku Lulu terbangun lantaran berisik. Entah, apa yang mereka bicarakan. Sayup ku dengar isinya unfaedah semua. Ya Allah, Mas Azam ... kenapa circle pertemanan mu macam begini isinya. Pantas saja tidak ada satupun yang mampu merubah pandanganmu dalam berumah tangga. Di ajak ikut kajian juga tak mau, lalu bagaimana pikiran dan hatimu bisa terbuka? Aku menghela napas berat sambil menggendong Lulu dan membawanya ke kamar untuk ku susui.


Tak lama kemudian, ponselku berbunyi.


"Kenapa, Tyo? Hah! Astagfirullah! Ayah kenapa?" Aku kaget, sampai sumber makanan Lulu ini terlepas paksa dari mulut Lulu yang tengah menghisapnya. Aku pun menjerit sendiri lantaran perih.


"Ya udah, insyaallah ... nanti ... Mbak cariin uangnya ya. Jagain bapak Yo le ..," ucap ku parau menahan isak tangis. Meskipun tanpa kuasa lagi air mata ini turun juga dengan deras.


"Lindungi bapak, ya Allah!" ucapku lirih sambil memeluk Lulu.

__ADS_1


"Dek temen, Mas udah pada pulang. Kamu di panggil dari tadi juga bukannya keluar temui mereka!" omel mas Azam tanpa tau jika hati ini tengah bersedih.


...Bersambung ...


__ADS_2