Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami
Bab. 23. Kelakuan Diam-diam, Bapak Mertuaku.


__ADS_3

POV Pak Dahlan.


Hari ini, istri bawelku akhirnya pulang dari rumah sakit. Entah kenapa dia bisa balik sembuh lagi seperti semula. Sifat dan sikapnya yang sok mengatur pun masih sama. Tak ada perubahan sama sekali padahal, beberapa hari yang lalu ku pikir nyawanya tidak akan selamat.


Terpaksa aku pulang, dan berpura-pura tidak ada sesuatu hal yang bisa memancing kecurigaannya. Meskipun, ternyata ... putera tertuaku, Azam, mulai mencecar ku dengan berbagai pertanyaan penuh selidik. Ya, selama beberapa hari ini, aku memang telah membuat rekayasa kejadian yang menimpa keluargaku. Sehingga, tak kusangka ... Mirna istriku, terkena serangan jantung, lalu stroke ringan.


Padahal, bukan itu harapanku. Jika dia harus pergi pun aku tak masalah. Rasa jenuh dan bosan ini hampir mengurangi jatah umurku. Setiap hari mendengar ocehan serta melihat kelakuannya yang pemarah itu membuatku muak. Di usia senja ini aku ingin hidup tenang, bersama wanita yang semakin teduh dan menuruti apa pun keinginanku.


Walaupun sudah tua begini, hasratku masih tinggi. Keinginanku untuk berhubungan seksual masih harus tercukupi. Sebenarnya, istriku Mirna masih cantik, juga body-nya masih bagus. Seperti apa yang pernah aku katakan kepada menantuku, Lika. Sayangnya, Mirna semakin lama semakin enggan melayaniku. Semakin jarang menemaniku tidur di dalam kamar. Dirinya lebih suka tidur bersama dengan Nela. Alasannya, karena putri kami satu-satunya itu tidak bisa tidur, karena ditinggal suaminya bekerja di luar kota.


Suami, Nela memang keren. Meskipun jarang ada di rumah sebab pekerjaannya memang selalu berpindah kota. Tetapi setiap pulang kesini, selalu saja ada hadiah yang dibawanya untuk di berikan kepada ku dan juga Mirna. Sungguh menantu yang membanggakan. Bahkan, para tetangga pun sampai iri dengan nasib bagus ku, yang mendapat rejeki menantu berduit macam Prabu itu.


Beberapa waktu lalu, aku berkenalan dengan salah satu janda baru di kampung Limau. Jaraknya lumayan dari tempat tinggal ku. Sebenarnya dia adalah anak dari salah satu klien bisnis jual beli tanah beberapa bulan yang lalu. Entah, kenapa kami berdua bisa bertemu lagi di saat aku mengantar motor pesanan orang. Ternyata, yang memesan motor adalah kawan dari janda bahenol itu. Sebut saja namanya Wati.


Wati, janda seksi berusia empat puluh tahun Masih segar dan menggairahkan. Anaknya sudah remaja dan laki-laki. Bersekolah di salah satu SMU negeri. Suaminya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Singkatan cerita kami berdua menjalin hubungan secara orang dewasa. Aku yang membutuhkan kehangatan seorang wanita akhirnya dapat kembali melampiaskan hal yang sudah lama aku tahan.


Semakin, lama aku semakin ketagihan. Inginnya sering-sering merasakan tubuh nikmat Wati si janda bahenol. Sayangnya, aku bukan tipe laki-laki yang suka zina meskipun mulutku ini manis kepada setiap wanita cantik. Tapi aku tau bahwa apa yang pernah kami perbuat adalah dosa dan bisa mengakibatkan kesialan pada setiap usahaku.


Tiba-tiba kudengar kabar jika, Wati akan dilamar oleh juragan empang. Seketika hati ini panas. Tidak akan kubiarkan janda nikmat itu di miliki oleh lelaki bertubuh tambun dan pendek itu. Menang muda dan ganteng, aku kemana-mana. Meksipun telah berusia hampir menginjak angka enam puluh tahun tapi, postur tubuhnya masih gagah. Wajah lumayan. Rambut putih tinggal semir kembali jadilah hitam. Dandananku parlente dan necis abis. Bahkan, aku selalu menemui Wati menggunakan motor gede milik menantuku, Prabu.

__ADS_1


Ya aku menemuinya, acapkali ada agenda bertemu dengan klien di luar. Sehingga, tidak mengundang kecurigaan dari Mirna dan juga kedua anakku. Tapi, sepertinya, Lika pernah melihat sekali ketika aku menemui Wati di sebuah ruang makan kala itu. Ternyata, dia diam saja. Karenanya dia bukanlah sebuah ancaman. Menanti bodoh sepertinya bisa berbuat apa memangnya.


"Kalo gitu, Abang Dahlan harus lebih dulu melamar Wati. Sebelum keduluan sama Bang Kodir." Begitulah permintaan Wati kala itu yang hampir membuat jantungku hampir copot. Apalagi ucapan selanjutnya.


"Mahar bang Dahlan juga harus lebih besar dari yang bang Kodir tawarkan buat Eneng. Bukan bermaksud materialis, tapi memang perempuan harus begitu. Neng gak mau muna, kebutuhan anak-anak Neng sangat banyak. Belom lagi ini rumah kan harus bayar sewa," ucap Wati lagi. Aku sampai tidak bisa menelan kopi dan singkong goreng yang ia sajikan.


"Memang berapa mahar yang di tawarkan si Kodir itu?" tanya aku meremehkan. Palingan ngasih berapa sih cuma juragan empang ikan mas dan mujair saja. Memang pria itu bisa apa? pikirku kala itu.


"Bang Kodir sih nawarin, Eneng, mahar lima belas juta sama perhiasan emas dan juga seserahan lengkap, plis dipan baru, Bang," jelasnya yang membaut napasku hampir berhenti mendadak. Wajar sih, soalnya Wati ini janda berkualitas. Selain cantik itu juga hot di atas ranjang. Karena itu, mendiang suaminya kala masih hidup sangat betah di rumah. Wati juga tipe wanita yang setia, serta pandai mengurus suami.


Kodir dan aku sama-sama telah merasakan kenikmatan tubuh Wati. Sebab, Kodir lebih dulu mendekati janda yang memang bolong itu. Semacam tes Drive lah. Akhirnya aku pun nekat. Aku bekerja sama dengan salah satu kawanku untuk membuat suatu rekayasa, penyewaan mobil yang berujung penipuan. Padahal, mobil Azam sengaja aku gadai dua puluh juta untuk biaya menikah dengan Wati. Uang simpananku sepuluh juta habis tak bersisa.


Aku macam anak baru mangkat gede yang mengenal cinta. Setiap hari kerjaannya melihat layar ponsel untuk berbalas chat dengan Wati. Membuatku, ingin kembali menghambur ke dalam pelukannya dan menjauh dari istriku yang selalu memasang wajah cemberut itu. Padahal, kalau saja ia rajin tersenyum, aku mungkin akan lebih betah di rumah.


"Mau kemana lagi sih, Yah? Ibu kan baru pulang?" cecar istriku, Mirna. Percuma juga dirumah, memangnya dia bisa ku pakai. Ku dekati saja enggan. Selalu saja ada alasan.


"Ayah masih harus mengurus kehilangan mobil, apalagi sekarang ada yang berniat menebusnya. Setidaknya, satu-satunya kendaraan kita masih selamat. Nanti para tetangga bakalan bingung, sebab kita gak jadi bangkrut karena kehilangan mobi.


"Apa ayah, gak kangen sama Ibu?" rajuk istriku lagi, ada apa dengannya? Tumben sekali manja.

__ADS_1


"Kangen kok, tapi emangnya Ibu mau ngasih jatah buat, Ayah?" tanya ku penasaran.


"Hih, Ayah mah pikirannya kesana melulu. Emang kalo kangen harus begituan? Inget umur bapa, Yah!" ucap Mirna yang membuatku mengeluarkan helaan napas kasar.


"Udah ku duga! Mending nongkrong sama temen bisnis aja!" celetukku kemudian langsung berlalu pergi.


Ku abaikan, Mirna yang menghentakkan kedua kakinya ke atas lantai.


Ketika berlalu mengambil motor di depan, sempat ku dengar sayup-sayup anak dan menantuku ribut di dalam kamar mereka.


"Keterlaluan, Mas. Ibu gak bisa mengatur rumah tangga kita seperti ini!"


"Menurut dan bertahan. Atau, kau mau Ibu memerintahkan aku agar memulangkan mu!"


Aku pun berdecak, enak sekali jadi Azam, dilamar dengan mahar puluhan juta oleh wanita seperti Jelita. Aku juga mau ..," kekehku sambil berbicara dalam hati. Tanpa memperdulikan perasaan menantuku, Lika.


Memang apa bagusnya mempertahankan istri bagaikan kuda Nil begitu. Kalau jadi, Azam, aku tidak akan pernah berpikir dua kali.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2