
"Kenapa, Mas. Bukankah kamu yang memberi pilihan? Dan, aku berhak memilih yang mana menurutku baik, bukan?" cecarku, menyadarkan sifat arogansinya.
Dia pikir, aku akan manut saja. Menjadi wanita yang bodoh dan menerima dengan pasrah ketika dengan jelas ada sekelompok orang yang ingin menggilas harga dirimu. Oh tentu saja tidak, hidup di dunia ini hanya satu kali, bukan. Tentu, aku tidak akan menyia-nyiakan hidupku bersama manusia yang selalu berusaha menjatuhkan mentalku setiap saat.
Aku yakin dan percaya, jika ini adalah keputusan terbaikku. Soal ayah, aku akan mencoba memberi pengertian dan penjelasan padanya. Semoga, beliau mengerti akan keputusan yang aku ambil ini.
"Apa, maksudmu, Lika! Apa pilihan yang kedua itu? Katakan pada ibu, apa yang kalian bicarakan ini!" cecar Bu Mirna. Mertuaku yang sangat baik sekali. Ha, kalian paham kan maksud baik di sini.
Aku tidak akan membiarkan diriku di rendahkan lagi. Hatiku di sakiti lagi meskipun secuil, oleh mereka. Benar kata, Dina. Akulah yang paling berperan penting dalam penempatan diriku sendiri. Aku yang harus lebih dulu menempatkan diriku pada level aman. Menjaga diri sendiri dari kesempatan orang lain untuk menyakiti dan menempamu dengan kekecewaan.
"Begini, Bu ... Lika--"
__ADS_1
"Aku mundur, Bu. Lika memilih mundur, karena aku tidak ikhlas jika mas Azam menduakan ku dengan alasan apapun itu," ucapku tegas yang mana hal itu serta-merta membuat Mas Azam menoleh ke arahku dengan kedua matanya yang membola.
"Diam kau, Lika! Jangan memotong ucapan suamimu!" tukas Mas Azam membentakku. namun aku hanya dapat tersenyum getir. Dalam hatiku bertanya, beginikah cara laki-laki yang hendak mempertahankanku?
"Kenapa, membentakku, Mas? Aku hanya menjelaskan apa maksudku pada ibu mertuaku tersayang ini. Memang, apa salahnya?" jawab ku yang sepertinya semakin membuat Mas Azam murka. Bahkan, cekalan tangannya pada lingkaran lenganku semakin kencang. Aku diam, tanpa berniat melepaskan diri.
Ingin melihat, sejauh mana sikap mas Azam yang tidak rela melepaskan kepergianku.
Saat ini, adalah hari dimana aku berdiri dengan hati yang hancur berkeping-keping. Total, harga diri ku benar-benar hancur di buatnya. Anehnya, meskipun hatiku bagaikan di tusuk benda tajam. Kedua mata ini, enggan meneteskan air matanya. Mungkin, keluarga ini sudah tak lagi berharga untuk sekedar ku tangisi.
"Justru, aku memikirkan nasib kedua anakku, Mas. Bagaimana nasib mereka nanti jika perhatianmu terbagi? Apa, kamu sadar, Mas? Jika, selama tiga bulan ini ... kau lepas perhatian pada mereka. Bahan, sampai putri kita tidur mengigau dengan memanggil namamu. Apa kau sadar, Mas? Belum menikah lagi saja kau sudah mengurangi perhatianmu!" ujar ku, menyeru apa kata hati yang ku pendam selama ini.
__ADS_1
Kedua tatapan mata ini begitu berkilat penuh amarah, hingga tak ada air mata yang tumpah. Hanya ada tekad, untuk melangkah keluar dari tempat yang memuakkan ini.
"Jangan membalik keadaan, Lika! Waktu yang lalu, adalah masa fokus dalam pengobatan. Kau tidak bisa menyamakan hal kemaren dengan masa yang akan datang. Kalau aku tidak memperhatikan mereka, untuk apa aku membiayai sekolah, Heru!" sentaknya, hingga aku mulai merasakan ngilu pada lenganku.
"Lepas, Mas! Kau telah menyakitiku!" ujarku, dengan tatapan tajam ke arah pria yang masih menjadi suamiku ini. Pria yang selama enam tahun lebih ini kucintai dengan tulus dan penuh pengabdian. Namun, pada hari ini, aku bermain membentaknya serta memberi tatapan tajam padanya.
Mas Azam, mengendurkan cekalannya. Namun, tidak melepaskan pegangannya padaku.
"Lepas, Mas! Kau tidak bisa memaksaku. Mas harus, konsisten dengan omongan tempo hari. Bahwa, aku bebas pergi jika aku tidak menerima ini semua terjadi pada rumah tangga kita. Aku, Syalika Azura, tidak rela di madu sampai kapanpun!" pekikku lantang menggema di ruang tamu rumah ibu.
...Bersambung ...
__ADS_1