
Miru mendorong tubuh Juwon, hingga meninggalkan jarak diantara mereka. Miru menunduk canggung dengan beberapa kali melirik ke kanan dan kiri, begitu pula Juwon.
Juwon kembali mendekat kearah Miru. Membelai rambut gadis itu lembut, namun disambut reaksi bersalah Miru. Gadis itu berkata kalau perbuatan mereka barusan adalah sebuah kesalahpahaman dan tidak seharusnya berbuat seperti itu. Mengingat hubungan Juwon dan Jieun.
"Maaf..."ucap miru menjauh.
Kalau tidak kali ini, ia akan sangat menyesal. Itu yang di yakini Juwon sebelum berangkat menemui Miru.
Juwon berjalan mendekati Miru dan memeluk gadis itu dari belakang. Menempatkan dagunya dibahu kecil gadis itu, hingga membuatnya sedikit tidak nyaman. "Aku mencintaimu "bisik Juwon.
"Tapi.."
"Aku dan Jieun...hanya kesalahpahaman, dia dan aku. Kami..."
Miru menggenggam lengan Juwon dan melepaskannya"Aku tau kalian akan bertunangan."menatap kearah Juwon "Jieun gadis yang baik. Kau beruntung bersamanya" memegang pundak Juwon dan berjalan kedalam kamar.
Setelah menutup pintu, tubuhnya terasa lemah. Miru terduduk di balik pintu dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya menangis.
Ia mengetahui apa yang Juwon lakukan untuknya. Ia tahu kalau Juwon meminta orang tuanya untuk membayarkan hutang Kazuto. Dan tentu membuat orang tuanya membenci Miru, karena menganggap gadis itu hanya memanfaatkan anaknya. Karena itu orang tua Juwon bersedia membantu tapi dengan syarat, kalau Juwon tidak boleh dekat dengan Miru dan harus menikahi gadis lain. Jieun merupakan gadis yang dijodohkan orang tua Juwon.
Miru pertama kali mengetahui informasi itu dari rentenir yang ia temui sehabis dari pasar, namun informasi lengkapnya ia dapatkan dari Crisella yang ternyata sudah tahu sejak lama.
Kenapa sikapmu begini? Selama ini kau bahkan bisa menahannya. Pikir Miru-berjalan mengambil selimut dan bantal tambahan di dalam lemari, untuk diberikan kepada Juwon.
.
.
.
Menaruh bantal dan selimut diatas sofa."Belum tidur"Tanya Miru pada Juwon yang masih menonton tv. Miru berjalan mendekat dan menemukan pria itu tertidur dengan posisi duduk. Gadis itu tersenyum melihat wajah Juwon yang lucu dengan kepala miring, ketika mendekatkan wajahnya.
"Gimana bisa tidur kayak gini"ucap Miru, mematikan tv. Kemudian membenarkan posisi tidur Juwon. "Apa yang kita lakukan benar?"memakaikan selimut ketubuh Juwon dan kembali ke kamar.
๐๐๐
Siang hari mereka sampai di Osakako Station, untuk menuju Tempozan Ferris Wheel (Bianglala), namun sebelum itu mereka memutuskan pergi ke Akuarium Osaka Kaiyukan yang letaknya tidak jauh dari Tempozan.
Juwon menggenggam tangan Miru ketika keluar dari kereta. Miru memandangi tangan Juwon, sementara pria itu terus berjalan.
__ADS_1
"Kita cari taxi"
Mencoba melepaskan tangannya, namun Juwon semakin mengencangkan genggamannya."Disana!"
"Oo.."
Akuarium Osaka Kaiyukan
Juwon menarik Miru mendekati akuarium besar berisi makhluk laut seukuran tubuhnya-hiu-. Miru yang takut, terus menghadap punggung Juwon tanpa penasaran dengan isi akuarium itu.
"Lihatlah!" ujar Juwon, menarik tangan Miru supaya gadis itu bisa berdiri di depannya, namun gadis itu langsung berbalik dan menggenggam jaket yang dikenakan Juwon.
"Ayo kita pergi!" pinta Miru, ketakutan.
"Peluk aku baru aku setuju" tawar Juwon, tersenyum Jahil.
Miru mendongak, memandang Juwon kesal. Singkat Miru memeluk Juwon dan langsung melepaskannya"puas.."
.
.
.
Tempozan Ferris Wheel
Miru dan Juwon duduk berhadapan. Mereka berdua, sedari tadi tidak berhenti mengalihkan pandangan. Canggung.
"Habis dari sini aku langsung ke bandara" Ujar Juwon dan di balas senyuman serta anggukan-Miru.
"Bulan besok aku akan bertunangan dengan Jieun" Jelasnya lagi "Kau bisa datang jika ada waktu"
Miru kembali mengangguk dan tersenyum dipaksakan. Kedua matanya memerah, serta hatinya sakit karena menahan semua emosi di dalam dirinya. "aku akan datang"
"Terima kasih."
"Aku juga. Terima kasih sudah membantu ku selama ini"
Ketika bianglala berhenti diatas Juwon mendekatkan wajahnya sejajar dengan wajah Miru, dan mulai menciumnya. Namun terlepas ketika Miru menunduk ketakutan, pada saat bianglala mulai turun. Juwon memeluk gadis itu sampai tiba di bawah.
__ADS_1
"Sudah sampai" ujar Juwon.
..
..
..
Mereka terus bergandeng tangan dengan langkah berat.
..
..
..
Tokyo Station
Juwon kembali memeluk Miru. Sulit melepaskan gadis itu, begitupun dengan Miru. Karena rasa yang mereka pendam bukanlah rasa suka biasa, melainkan rasa cinta yang semakin hari semakin berkembang.
"Kau sudah harus pergi" ujar Miru. Tersenyum.
"Jaga dirimu. Aku mencintaimu" ucap Juwon "Biarkan aku berkata itu kali ini"
"Aku juga." Ucap Miru dalam hati "Jaga dirimu juga" jawab Miru. Melepaskan pelukkan.
..
..
"Bye ๐"
"Bye ๐"
Miru berbalik badan dan berjalan ke pintu keluar. Air mata terus mengalir dari matanya, dibarengi isakan tangis.
.
.
Juwon๐
Tiap waktu yang aku lalui. Aku hanya bisa menyakiti hatimu. Permainan bodoh yang aku anggap sebagai cara melupakanmu, hanya membuat cinta ini semakin besar. Tapi aku sadar, kau akan jauh lebih bahagia jika tidak bersamaku.
Bahagialah dan terus tersenyum...karena dengan itu aku bisa tenang. Meskipun hanya bisa melihatmu dari jauh.
๏ฟผ
.
.
Miru๐
Diawal aku berpikir, Disini aku akan menunggumu melihat kearahku. Tapi aku salah, karena kau selalu berdiri disini bersamaku. Hanya saja aku tidak menyadari keberadaanmu.
Andai saja aku menyadarinya lebih cepat. Aku akan mengambil resiko untuk terus disampingmu. Tapi sekarang sudah terlambat. Kau sudah milik seseorang yang juga ku kenal.
Terima kasih untuk waktu mu. Aku mencintaimu. Pria yang selamanya akan menjadi teman. Im Juwon. Nama yang akan aku rindukan.
๏ฟผ
__ADS_1