DISINI

DISINI
Delapan


__ADS_3

"Jelek. Apa kau mau menggoda pria dengan pakaian itu?" tanya Juwon datar. Kali itu ia benar-benar tidak berperasaan. Terlebih emosi Miru yang tidak baik.





Miru-menghela napas panjang "Oo... benar. Apa pedulimu?" jelas Miru kesal. Ia bergegas menuju toilet dan mengganti dengan pakaian yang sebelumnya ia kenakan.





Dalam sekejap keadaan menjadi canggung, Crisella dan Jieun langsung menatap Juwon tidak percaya. Bagaimana bisa ia bicara seperti itu. Tidak ada nada bercanda ketika kata-kata itu ia ucap.





Juwon mengangkat bahu, bingung dan berjalan menuju kamar.





🌀🌀🌀



Siangnya Miru menghubungi Gerald untuk membahas project yang ia buat bersama penulis lainnya. Berbeda dengan pameran. Kegiatan itu dibuat sebagai sarana bertukar ide cerita untuk novel berikutnya.





"Mau ke mana Mi?" tanya Lucas yang baru akan kembali ke apartemen nya.




Menyelipkan rambut ketelinga "Ada perlu..." menatap "Maaf membuatmu tidak nyaman. Lain kali kau bisa menolak... maksudku, kau tidak harus ikut kumpul atau meminjamkan tempatmu. Aku harus pergi"





Lucas memandang punggung gadis itu tanpa berkomentar apapun.







🌀🌀🌀




Miru menaiki taxi menuju tempat yang di maksud Gerald. Ia memeriksa isi tasnya untuk memastikan kalau ia tidak melupakan sesuatu, sebelum meminta supir taksi menjalankan mobilnya. Sebenarnya ia tidak perlu membawa apapun, karena hari ini adalah pertemuan pertama yang biasanya hanya berisi perkenalan dan obrolan singkat. Tapi Miru membawa notebook dan catatan, takut-takut dibutuhkan nanti.





"Tolong antar saya ke jalan xxx...terima kasih"



.


.


.




Selama perjalanan gadis itu terus memandangi jalan dan sekali-kali memikirkan mengenai part di bukunya yang terasa janggal.





'Bagaimana Luciana-karakter dalam bukunya- bisa seperti itu, padahal dia hanya anak berusia 9 tahun.'





'Aku di usia 9 tahun....'





'Bermain'





'Mengusik Kazuto-kakaknya' tersenyum 'tidak ada yang semenyenangkan itu'





.


.


.




Miru membuka pintu mobil, ketika supir taxi mengatakan kalau sudah sampai di tempat yang di maksud. Sebuah cafe berlantai tiga.





"terima kasih"



.


.


.


🌀🌀🌀





"Lo masih di sini?" tanya Crisella pada Jieun yang tengah duduk bersama Juwon.





"Sore ini gue mau pergi sama dia. Jadi gue biarin dia tetap di sini"





"Oh...Ok" menarik koper keluar.





"Mau kemana Sel?"





"Balik ke apart..."





"Udah bilang Miru?"




__ADS_1


"Emm"




🌀🌀🌀




Berbeda dari lantai satu yang terlihat ramai, lantai dua jauh lebih sepi dan cukup tenang. Lantai dua banyak terdapat tanaman dibeberapa sisi, serta skat pembatas yang memisahkan antara balkon dan ruang.





Miru menghampiri Gerald yang menyadari kedatangannya. Ia langsung memeluk pria itu dan bersalaman dengan tiga perempuan dihadapannya. Mereka terlihat sangat muda.





"Hii"





"duduk" pinta Gerald.





"Ok"





Gerald memperkenalkan mereka bertiga. Dan benar, mereka masih 20-25 tahun.





Miru memegang lengan Gerald sambil tersenyum. "tenang bukan cuma kau yang sudah tua disini" ucapan pria itu seakan membaca apa yang dipikirkan Miru.





"Anda terlihat muda" ujar salah satu dari mereka.





"benar. Anda terlihat cantik" lanjut lainnya.





"Berhenti menggodaku. Aku menyadari itu" tertawa.



.


.


.


.




"Kalian bisa mulai membicarakan buku itu segera mungkin" ujar Gerald, bangkit dari kursi- memeluk Miru yang masih duduk dibangku "Aku harus pergi. Bye"





"Emm. Sampai nanti"








"Mi. Besok kabari aku kalau sudah sampai di tempat acara! Aku mungkin akan sibuk disana"





"Baik"


.



.


.





"Apa bisa kita mulai sekarang?" tanya Miru, ketika Gerald pergi.





Miru baru akan mengeluarkan notebook dan catatan di dalam tas, namun ia urungkan niat itu ketika melihat sikap mereka bertiga yang tidak semangat.





"Kita akan mulai beberapa hari kedepan. Kalian bisa mengirimkan jadwal kalian di grub chat dan nanti aku kabari waktu yang pas untuk bertemu. Tapi jangan harap kalian bisa meninggalkan pertemuan tanpa ijinku." Jelas Miru, membereskan bawaannya





"......"





"Aku hanya bercanda" tersenyum, namun tidak dengan yang lain "Tapi aku serius ketika meminta kalian mengirimkan jadwal."





"Akan kami kirimkan"





"Sudah jam 3, aku harus pergi. Sampai nanti"


.


.


.



Miru menyusuri jalan, pelan namun pasti. Ia melewati beberapa toko sebelum akhirnya berhenti di sebuah toko baju. Meskipun sebelumnya Crisella dengan senang hati meminjamkan dress miliknya, namun ucapan Juwon ada benarnya. Dress itu terlalu minim untuk dipakai ke acara.




.


.


.




"Cobalah sepatu itu!" pinta seorang pria pada wanita dihadapannya yang tengah duduk dengan beberapa sepatu kets.

__ADS_1





Miru memperhatikan mereka sesaat sebelum berjalan kearah lain. Ia tertarik membeli beberapa blouse dan mungkin ia juga akan membeli anting-anting.




Dan terlebih dahulu ia mencoba pakaian sebelum membayar.






🌀🌀🌀





Seorang wanita korea, berusia awal 60 menyantap steak di piringnya perlahan. Ia tidak sendiri, melainkan dengan pria yang baru akan duduk disebelahnya. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah, sementara pria disebelahnya mengenakan jas yang sangat cocok dikenakan.





"Annyeonghaseyo. Maaf membuat kalian menunggu" sapa Juwon pada mereka berdua.





"Duduklah!" pinta pria dihadapan Juwon, menepuk-nepuk meja dengan sedikit menunduk.





"Eomma-Ibu-, kangen" Jieun menghampiri wanita bergaun merah. Raut bahagia terlihat jelas di wajah Jieun. Sudah setahun ia tidak bertemu keluarganya. Jadi tidak heran kalau ia begitu bahagia. "Ibu kau membuat Juwon ku takut. Senyumlah sedikit"





"Baiklah" turut Ibu Jieun, mengiyakan "Apa aku membuatmu takut?" tanya nya pada Juwon dan ia menggeleng tidak setuju.





"Tidak"





"Eomma..."



.


.


.




"Bagaimana hubungan kalian?"





"Hubungan kami baik" Jawab Juwon singkat.





"Kami berencana menyiapkan tanggal pertunangan kalian"





Juwon terlihat terkejut mendengar ucapan Ibu Jieun. Ia bahkan berencana mengakhiri hubungannya dan Jieun dalam waktu dekat. Tapi ucapannya membuat keadaan memburuk.





"Sepertinya Ny. Kwon tidak membicarakan hal ini padamu"





"Apa tidak terlalu cepat. Aku masih 3 tahun lagi menyelesaikan studi" Jelas Jieun, yang pada kenyataannya ia tidak keberatan dengan apa yang direncanakan para orang tua. Tapi mengingat kejadian semalam, membuatnya berpikir dua kali dengan keputusan yang akan diambil kekasihnya.





"Aku tidak memintamu menikah cepat-cepat. Kami baru akan membahas pertunanganmu".





"Saya akan membicarakannya terlebih dahulu dengan -Ny. Kwon. Terlalu dini membicarakan pertunangan kami" Tegas Juwon.



.


.


.



🌀🌀🌀




"Oppa, kau benar akan bicara dengan ibumu untuk tidak membahas pertunangan kita?" tanya Jieun, merangkul lengan Juwon sambil memandang wajah pria itu.





"Eung. Aku akan bicara dengannya"





"Kau tidak suka bertunangan denganku"





"Aku tidak ingin membicarakan masalah ini." potong Juwon "Aku akan mengantarmu pulang"





"Tidak. Aku akan pulang dengan orang tuaku" melepas rangkulan tangannya dan berjalan mundur. Jieun melambaikan tangan sambil memandangi pria itu. "Sampai jumpa!"





"Hubungi aku kalau sudah sampai!" pinta Juwon.



🌀🌀🌀






__ADS_1



__ADS_2