
"Jaga dirimu" ujar Taka pada Miru yang akan pergi.
"Emm. Sampai ketemu lagi. Temui aku kalau kau datang ke Brooklyn"
"Akan aku ingat itu. Berikan aku nomor telepon mu!"
"Apa kau akan percaya kalau aku tidak punya?"
"ckk..."
"Hehe, berikan ponselmu." mengambil ponsel Taka dan menekan beberapa tombol "Tapi jangan sering-sering menghubungiku. Aku tidak mau kekasihku pergi"
"Hentikan ucapanmu. Aku tidak akan pernah menghubungimu"
tertawa
Memeluk Taka " terima kasih" melepaskan pelukan dan berjalan pergi.
🍂🍂🍂
Sesampainya di Brooklyn, Miru langsung pergi ke apartemen. Ia mengecek jam berapa sekarang. Pukul 7 malam. Juwon pasti sudah pulang sekarang, sementara Crisella pasti sedang sibuk dengan persiapan pernikahannya.
Miru menekan bel. Tidak kunjung ada jawaban dari apartnya. Hal yang sama ia temui ketika menekan bel Lucas.
'Kemana perginya mereka' pikir Miru.
Seorang pria masuk kedalam apart, namun Miru tidak berani masuk. Ia lebih memilih berada di luar, menunggu mereka pulang.
"Honey kau datang" sapa memilik gedung, seorang wanita tua berusia 73 tahun.
"Ia...Bagaimana kabar anda?" memeluknya.
Wanita itu menuntun Miru masuk dan berjalan menuju ruangannya.
"Kau kemana saja?" tanyanya.
"Berlibur.."
"Apa anda melihat Juwon? Aku beberapa kali menekan bel, tapi tidak ada jawaban"
"Room 602?"
"Benar. Anda melihatnya?"
"Sudah sebulan ruangannya kosong. Kau mau coffee atau teh?"
"Apapun. Terimakasih."
"Seingatku dia meninggalkan surat untukmu." memberikan cangkir berisi teh kepada Miru " Tolong pegang ini!. Sepertinya aku menaruhnya di..." mencari-cari surat dari Juwon di tempat penyimpanan.
__ADS_1
Miru yang tidak tahu apapun hanya bisa memandangi wanita itu, bingung. Juwon dan Crisella tidak pernah bilang tentang kepergiannya. Dan kalaupun benar, seharusnya ia bilang sebelum pindah. Semakin mengira, semakin membuat Miru marah.
"Ini.." menyerahkan surat kepada Miru.
"Terimakasih"
"Mau kemana kau setelah ini?" tanya wanita itu.
"Aku perlu menemuinya. Membuat perhitungan karena pindah tanpa berkata apapun"
"Sampaikan salamku padanya"
"Baik. Senang bertemu denganmu. Sampai nanti"
🍂🍂🍂
Diperjalanan menuju jalan utama, Miru melihat isi surat dan selembar kertas berisi alamat.
Dear Miru,
Hai👋
Note : Jangan pernah mengharapkan lebih dari surat ini. Datanglah ke alamat yang aku berikan. Aku menunggumu.
_Juwon
Miru menghentikan taxi dan meminta supir mengantarkannya ke alamat di kertas.
"Tolong antarkan aku ke alamat ini" menunjukkan selembar kertas ditangannya.
"Baik"
🍂🍂🍂
Juwon membuka kulkas dan menemukan tidak ada makanan atau minuman kaleng didalamnya.
Ia mengambil sweater dan pergi ke mini market diujung jalan.
Sambil menyusuri jalan. Juwon mengecek email di ponselnya dan membalasnya satu per satu, meskipun sekarang bukanlah jam kerja. Tentu hanya email yang menanyakan informasi tanpa perlu mengirimkan dokumen pendukungnya.
Memasukkan ponsel dan kedua tangannya kedalam kantong celana.
"Hai" Sapa Juwon pada penjaga mart, begitu juga sebaliknya.
Ia mengambil banyak makanan ringan dan minuman tanpa berpikir apakah ia akan memakannya atau tidak.
Biasanya Miru yang akan memarahinya. Karena ia terlalu boros.
Tersenyum dan berhenti mengambil barang.
__ADS_1
.
.
.
"Terimakasih" mengambil belanjaan dan meninggalkan tempat.
🍂🍂🍂
Miru sampai dilokasi lumayan lama dari perkiraan. Dikarenakan ada pembangunan dibeberapa jalan. Sebelumnya ia menghubungi Gerald dan berkata kalau ia ada di Brooklyn. Miru bisa menyediakan waktu untuk pria itu kapanpun ia membutuhkannya.
Mematikan ponsel dan memasukannya kedalam tas.
.
.
Sampailah ia di alamat yang diberikan Juwon padanya.
Miru menekan bel dan berjalan pergi. Ketika dipikir lagi, apa yang ia lakukan tidaklah benar.
'Kayaknya gue temuin Crisella dulu' pikir Miru. Ia berjalan pergi dan kembali diwaktu yang singkat.
Dan ketika ia berusaha pergi untuk kesekian kalinya. Sosok pria yang ia kenal berdiri dihadapannya dengan kedua tangan memegang belanjaan.
Pria itu sama kagetnya dengan Miru yang masih berdiri dengan posisi yang sama.
Tubuh Miru membeku dan Air mata mengalir begitu saja tanpa persetujuan.
'Hai' ucap Miru dalam hati.
Miru mengusap air matanya yang terus mengalir. Dadanya juga sakit hingga menimbulkan rasa yang tidak nyaman.
Sontak membuat Juwon berlari kearah Miru dan memeluk gadis itu.
Juwon merasa tenang karena sudah melihat gadis yang selama ini ia cari.
"Bagaimana kabarmu?" bisik Juwon. Memeluk semakin erat.
Menangis.
Ia menatap wajah Juwon.
"Aku merindukanmu"
🍂🍂🍂
.
__ADS_1