DISINI

DISINI
Season 2 : #37


__ADS_3

Miru merangkul Juwon ketika berjalan menyusuri pertokoan. Karena hari ini Minggu, banyak orang disepanjang Hongdae.


Juwon menunjuk beberapa manekin dengan pakaian yang ia anggap cocok untuk Miru. Tapi selalu Miru tolak, karena sama sekali tidak cocok untuknya.


Miru memegang kedua tangan Juwon, agar kekasihnya tidak melakukan hal yang sama berkali-kali.


Pandangan Juwon terus tertuju pada Miru. "Aku mau kesana!" pinta Miru, ketika melihat street dance dibeberapa titik. Tanpa mendapat persetujuan Juwon, Miru langsung menarik tangannya agar bisa melihat lebih dekat.


"Aku pernah melihatnya" ucap Miru ketika melihat salah penari.


Juwon memandangnya tidak percaya.


"Aa... benar-benar tampan."


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Kamu melihatnya tadi?" memperagakan dance yang ditarikan tadi "Keren. Besok aku mau ketemu dia lagi."


"..."


"Ternyata penontonnya jauh lebih banyak dari yang aku lihat di sns. "


"..."


"Kenapa?"


"..."


"Ya!...Gak suka ajak aku pergi kesini?"


"..."


"Kalau gitu besok kita pergi ke tempat lain"


"Gak jadi ketemu pria tadi lagi?"


"Nanti. Pas gak ada kamu" tertawa." Oya... bukanya kak Jaemin mau ngajak ketemu?"


"Aku mau ajak kamu ketempat lain"


"Kemana?" tanya Miru penasaran.


"Nanti kamu akan tau"


Juwon membawa Miru menggunakan mobil, ketempat yang sama sekali tidak Miru tau. Mereka tidak pernah merencanakan ini sebelumnya.


Miru memandang kearah jalan, ia bisa mendengar suara GPS mobil yang terus mengarahkan dan menyebutkan nama tempat yang tidak Miru ketahui. Alunan musik yang lembut membuat Miru membayangkan semua yang telah terjadi.


Bagaimana ia bisa bertemu Juwon. Mulai menyukainya, bahkan sebelum mengetahui nama dan siapa dia.


Keadaan mendekatkan mereka berdua. Meskipun awalnya kecewa dan lucu- ketika Juwon mendeklarasikan kalau dirinya penyuka sesama-, karena ia tidak mungkin lagi menyukai pria itu.


Tapi seiring waktu, apa yang selama ini ia pikir salah. Itu hanya alasannya saja untuk bisa lebih dekat dengan Miru.


Harapan untuk memiliki mulai tumbuh.


Bahkan semakin besar ketika Miru berada dititik terendah. Ketika ia memberikan perhatian yang lebih padanya. Bersikap protektif, untuk membuatnya tetap aman.


Tapi, Harapan itu sirna.


Ketika ia duduk dengan pria itu dimeja makan. Ia tidak lagi memperhatikan Miru seperti sebelumnya. Bisa dibilang karena keadaannya sudah membaik. Tapi ada yang lain...


Dia mulai menceritakan mengenai wanita lain. Wanita yang ia temui.


"Pagi ini aku bertemu Gina. Apa kau bisa membuatkan janji dengannya? Aku akan mentraktir mu nanti.


Wanita yang membuatnya iri. Karena ia tidak perlu berada dititik terlemah, untuk memperoleh cinta.


.


"Lihatlah!" pinta Juwon" Kami resmi berpacaran. Itu semua berkatmu. Terimakasih " mengelus rambut Miru.

__ADS_1


Miru memperhatikan Juwon yang saat itu ada dihadapannya dengan seksama. Ia yang sedang menceritakan wanita lain, membuatnya sadar. Ia benar-benar mencintai wanita itu.


Bahkan setelah putus dari wanita itu, ia langsung menemukan wanita lain. Tanpa pernah memandangku.


Mungkin perasaannya saat itu hanya sebatas rasa kasih seorang sahabat.


Itu yang aku rasakan saat itu.


Memandang bayangan Juwon yang terpantul dari kaca mobil disebelahnya.


"Kita sudah sampai" ujar Juwon, menghentikan mobilnya di parkiran umum.


Ia membukakan pintu mobil untuk Miru dan menggandeng tangannya menyusuri jalan di pinggir sungai. Pohon cherry blossom yang belum berbunga, berjejer rapi disepanjang jalan.


Miru melepaskan genggaman Juwon dan merangkul tangannya. Ia mendekatkan kepalanya kebahu Juwon, bertumpu padanya.


"Aku pernah berjanji membawamu ketempat ini. Apa kau ingat?" tanya Juwon.


"Emm... aku tidak pernah melupakannya." Jawab Miru "Tempatnya cantik, seperti katamu"


"Aku mencintaimu" ucap Juwon "Kata yang ingin aku ucapkan waktu itu" lanjutnya "Tapi aku terlalu takut, takut kau menolakku atau bahkan menjauh"


"Tidak apa...Cinta yang mudah didapatkan benar-benar membosankan" lanjut Miru.


"Mungkin karena itu Gina memutuskan ku. Seharusnya aku lebih berusaha lagi" ujar Juwon. Tidak sungguh-sungguh.


"Ya!" melepaskan rangkulannya, berjalan cepat meninggalkan Juwon dibelakang.


"Aku hanya bercanda. Apa kau marah?" teriak Juwon


Juwon berjalan mengejar Miru yang semakin menjauh.


"Jangan ikuti aku!"


"Aku minta maaf"


Miru tersenyum.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Malam ini Juwon membawa Miru menemui ayahnya. Jaemin dan Ibunya juga hadir untuk makan malam.


Miru mengenakan dress yang dibelikan Juwon ketika di Brooklyn. Dress yang belum sempat ia kenakan itu akan menjadi saksi apakan ayah Juwon akan menerimanya atau tidak.


Tangannya berkeringat. Jantung nya berdegup kencang dan semakin sulit bernapas.


"Tenanglah!" ujar Juwon. "Aku akan menjagamu kalau-kalau ayahku berusaha memukul atau menyirammu dengan air" tertawa.


"Berhenti...Kamu malah membuatku semakin takut"


.


.


Tn. Im, Ny. Kwon, dan Jaemin sudah duduk di meja makan. Beberapa pelayan masih menaruh makanan di meja.


Tn. Im meletakkan sapu tangan di paha. Ia menyuruh Ny. Kwon mengambilkan makanan untuknya. Tapi tidak jadi, ketika melihat Miru datang.


"Selamat malam" sapa Miru


"Kau datang, duduklah!" pinta Ny. Kwon


.


.


Makan malam berlangsung tenang, tidak ada pembicaraan selama makan. Tapi setelah itu Tn. Im langsung meminta Miru menemuinya di ruang kerjanya.


"Setelah makan, temui aku!" pinta Tn. Im pada Miru.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ

__ADS_1


Ruang kerja


Ketika Miru masuk, ia langsung mencium wangi parfum memenuhi ruangan. Mungkin dikarenakan ada beberapa lilin yang menyala diatas meja kerja.


Pikiran Miru teralihkan saat itu.


"Wanita itu yang menaruhnya. Duduklah!"


"Terimakasih"


"Kau suka wanginya? Kalau tidak, maaf aku tidak bisa menjauhkannya dari hadapanmu. Aku tidak mau berurusan dengan wanita itu"


tersenyum "Tidak apa. Sepertinya anda masih menyukai Ibu Juwon. Kalian terlihat cocok ketika bersama"


"Kita tidak sedang membicarakan kisah percintaan ku"


Menyadari ia sudah salah bicara, membuat Miru tidak nyaman "maaf"


Tertawa "Apa kau menyukai anakku?"


"Ia. Aku mencintainya."


"Bagaimana kalau aku tidak suka?"


"Aku pernah berpikir untuk melarikan diri dengannya.Tapi sekarang aku akan menghormati keputusan anda"


"Aku tegas dengan anak-anak ku dan karena itu mereka tidak terlalu menyukaiku. Dan maaf untuk sebelumnya"


"Juwon begitu percaya padamu. Jadi, jangan pernah meragukannya"


"Aku senang, kalau benar seperti itu"


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Juwon tiduran dipangkuan Miru. Mereka sedang menonton tv saat itu.


Mengelus rambut Juwon "Apa yang ayahmu bilang?" tanyanya. Saat itu Juwon menemui Tn. Im sesaat setelah Miru keluar dari ruangannya.


"Dia setuju"


"Aku sudah tahu kalau itu. Ceritakan yang lain?" pintanya.


"Cium aku! setelah itu aku beritahu apa yang ayahku katakan"


"Kalau begitu aku tidak mau tau"


"Dia mau aku menjalankan Hotel miliknya. Jadi itu artinya aku harus tetap disini"


"Bagus. Setidaknya kita bisa menikah dan aku tidak perlu khawatir masalah keuangan"


"Ckck..."


"Ayahmu ternyata orang yang baik. Mungkin beberapa orang tua seperti itu, sulit memperlihatkan kasih sayangnya"


"Dia menelantarkan ku di Brooklyn dan merencanakan pertunangan, yang bahkan aku tidak tau siapa orangnya"


"Itu karena kelakuanmu disekolah. Kalau saja kau seperti kak Jaemin, pasti ayahmu tidak akan mengirimmu pergi. Dan pertunangan itu, kau juga yg meneken kontrak dengannya. Kalau perjanjian itu tidak ada, dia tidak akan memaksamu. Dan tidak sampai mempermalukan nya"


"Dia bilang semua itu padamu?"


"Emm.. Aku juga tau masa kecilmu dari ibu. Jadi, hati-hati denganku"


.


.


"Kalau begitu ceritakan kentangmu?" pinta Juwon.


"Rahasia" ucapnya, berbisik.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


__ADS_2