
Miru yang sedang mengerjakan ceritanya yang tertunda karena Juwon terus mengganggu. Kembali mendapat masalah. Kali ini giliran putrinya yang sudah berada di kelas dua Sma, yang mulai mengusik kerjaannya.
Beberapa hari ini Jisoo sering datang ke ruang kerja ibunya untuk sekedar bercerita.
Miru melepaskan kaca mata yang dikenakannya dan menaruhnya di sisi laptop.
"Ada perlu apa?" tanyanya, tidak semangat.
"Pagi ini seorang siswi pindahan datang kesekolah".
ππππ
*06.30 menit. Sudah banyak guru yang berada di ruangan mereka dan mempersiapkan materi sebelum masuk ke kelas. Hada yang masih asing dengan sekolah ini engan untuk masuk. Tapi ia tetap memberanikan diri dan perlahan mengetuk pintu.
Ketukan pertama tidak menarik perhatian orang di dalam. Di ketukan kedua seorang guru wanita setinggi 164 cm berjalan kearah Hada sambil membenarkan kacamatanya. Hada tetap berdiri dan memberi senyum, tapi guru itu malah memeluknya erat. Ia juga menepuk-nepuk punggung Hada hingga membuat gadis itu terkejut, sekaligus bingung.
"Senang melihatmu lagi di sini" ucap guru wanita itu dan membuat Hada makin bingung. Jelas-jelas ia baru masuk.
"Kenapa kau tidak bilang kalau mau datang ke sini?"
Hada hanya diam dan menunggu guru wanita itu melepaskan pelukannya.
"Joa, apa kau tidak merindukan ibu. Kenapa kau hanya diam?" lanjut guru wanita itu.
'Joa'gumam Hada'Moon Joa sekolah disini? apa aku benar bisa bertemu dengannya?'hanya memikirkannya saja sudah membuat mata gadis itu berkaca-kaca.
"Kenapa diam saja?" tanya guru itu sekali lagi.
Hada tersadar dan langsung membungkuk"Saya Hada, murid pindahan dari SMA A"mengeluarkan berkas di dalam tasnya ke pada guru wanita itu.
Guru wanita itu sama bingungnya dengan Hada ketika pertama bertemu. Ia memiringkan kepala, untuk meyakinkan dirinya dengan apa yang terjadi"Aku Guru Hisun, masuklah temui guru Heo dia yang mengurus administrasi siswa"ujar Guru Hisun, berpikir 'tapi gadis ini mirip sekali dengan Moon Joa'berjalan masuk dan mengambil buku pelajaran di atas meja 'apa operasi. Dokternya benar-benar hebat. Aku harus bertanya padanya nanti' tersenyum sambil memegang hidung dan rahangnya beberapa kali.
.
.
.
"Pagi pak Heo" sapa Hada.
"Kau...?"
"Saya Hada. Murid pindahan dari SMA A. Ini berkas yang harus saya berikan kepada anda"
"Aa...aku kira" menyerahkan buku peraturan sekolah "Lembar itu berisi jadwal dan kelas tempatmu belajar. Karena kau baru di tempat ini, kami akan menempatkanmu di kelas 2F. Untuk selanjutnya pembagian kelas didasarkan pada peringkat akademikmu. Konseling sebelum ujian perguruan tinggi akan dilakukan dua minggu kedepan" jelas pak Heo.
"Terima kasih"
"Pergilah ke kelas!"
"Permisi"
.
.
.
Kelas 2F
Pembagian kelas B-E tidak terlalu spesifik. Hanya campuran murid-murid berprestasi dan kurang, layaknya sekolah pada umumnya. Kelas A merupakan kelas khusus. Meskipun tidak hanya terdiri dari anak pintar, tetapi jadwal belajar mereka jauh lebih padat, serta guru yang mengajar merupakan guru honorer yang telah terbukti baik tentunya dengan bayaran yang sesuai. Sementara kelas F di isi oleh murid-murid dengan peringkat rendah.
Hada mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Ia menunduk dan memberi salam pada guru Hisun yang tengah mengajar.
"Masuklah!" perintah guru Hisun.
Semua murid yang tadinya sibuk dengan kegiatan mereka berbalik memandangi Hada yang berjalan masuk. Beberapa dari mereka berbisik mengenai wajah Hada yang mirip dengan Joa, murid SMA Budang yang sekarang mengambil kelas Design di Italia-berkat kompetisi design yang ia menangkan setahun yang lalu. Di ajar oleh salah seorang dosen terkenal dalam bidang design di Accademia Riachi, salah satu universitas tertua di Italia.
"Joa...Joa" ujar seorang siswi dengan rambut dikuncir dua, wajahnya kecil hanya sebesar telapak tangan orang dewasa.
"Yang benar? mana mungkin" sangkal siswi disebelah-gadis berambut brown pendek- menyenggol bahunya. Melirik kearah Hada"Tidak mungkin"terkejut.
.
.
"Hallo. Saya Shin Hada. Senang bertemu dengan kalian" sapa Hada.
πππ
"Anehnya wajahnya begitu mirip dengan salah satu teman sekelasku, Joa. Tapi sekarang Joa sedang menempuh pendidikan seni di Itali. Yang aku dengar dia mendapat beasiswa dari salah satu profesor disana. Meskipun hanya kelas singkat, ia memutuskan untuk menunda kelas dan melanjutkan ditahun berikutnya" tambah Jisoo, sementara Miru masih mendengarkannya bercerita.
"Oya. Sekarang aku tidak sedang membahasnya, melainkan gadis pindahan itu"
"Dia terlihat tertutup pada awalnya. Bahkan tidak pernah bicara dengan murid lain, kecuali guru dan beberapa staf di sekolah.
Tapi aku merasa Gunho kenal dengan dengannya.
"laki-laki yang kau sukai?" tanya Miru buka suara.
"Emm.. Membuatku kesal, hingga ingin menjambak rambutnya"
"Lalu?"
Meskipun tidak menunjukkan secara langsung, Gunho beberapa kali memberi perhatian gadis itu.
.πππππ
.
.
**Di lain waktu
Pria di sebelah Gunho terus memandangi Hada. Mungkin ia juga mengira kalau gadis itu adalah Joa.
Gadis di sebelah Sechan berbalik badan"Dia murid baru. Operasi nya benar-benar menakjubkan. Dia benar-benar mirp dengan Joa" jelas gadis itu.
"Aa...gadis itu. Sama sekali tidak mirip dengan Joa."
"Kau bertemu dengannya?"tanya pria itu-Yun
"Namanya Hada...Shin Hada" lanjut Gunho.
"Kau juga?"
"Aku pengurus siswa di sini, tentu harus tahu." jelas Gunho. Memandangi Hada yang tengah tertawa. Gadis itu biasanya hanya diam dan tersenyum dipaksakan, tapi sekarang ia tertawa. Gunho mengalihkan pandangannya ketika Hada melihat ke arahnya.
"Kau tidak suka dengan dia kan?" tanya gadis itu pada Yun.
"Apa kau gila?"
πππ
Aku diam-diam menyelidikinya dan ternyata dia pernah mendapat tunjangan dari keluarga Gunho sampai sebelum pindah ke sekolah ku. Ayah Gunho dan Ibu gadis itu- Hada- adalah teman semasa sekolah.
"Kenapa begitu? bukankah seharusnya ibu Hada yang membiayai sekolah anaknya?" tanya Miru, makin bingung "Apa dia dari keluarga tidak mampu?"
"Ia hidup sederhana. Tapi bukan karena ibunya tidak mampu membiayai sekolah. Ibunya meninggal ketika ia sekolah dasar. Di penjara. Informasi ini tidak pasti."
"Kau seperti detektif, tapi bedanya kau menyelidiki orang yang tidak bersalah"
"Rasa penasaranku menurun dari ibu, jadi jangan menyalahkan ku"
"trus....?"
Aku rasa Gunho menyukai nya, tapi tidak hanya dia Yun juga terus mendekat. Yun orang paling berbahaya, disekolah. Tidak banyak orang yang mau terlibat dengannya.
Dia teman masa kecil Joa. Jadi aku rasa karena dia tidak bisa mendapatkan Joa, ia sekarang mendekati hada untuk memuaskan keinginannya
Aku lihat mereka berdua datang bergantian dan menaruh makanan di mejanya.
ππππ
**Kelas 2F
Hada kembali duluan karena harus ke toilet terlebih dahulu. Ia membersihkan debu di rok dengan menepuk-nepuk. Kelas masih sepi ketika ia sampai. Namun sebuah roti dan susu coklat sudah ada di mejanya. Di meja Jieun juga ada Kimbab dan cola. Hada duduk dan menaruh roti dan susu coklat itu ke dalam tas. Ia tidak tau siapa yang menaruhnya, terlebih ia memang sudah kenyang. Akhir-akhir ini porsi makannya berkurang.
Ia mengeluarkan ponsel dan buku pelajaran berikutnya. Mengecek pesan masuk dan mengerjakan beberapa soal.
Yun masuk ke kelas Hada dan duduk tepat di hadapannya. Hada adalah orang hang fokus pada satu hal. Ketika ia fokus, ia tidak akan menyadari apa yg terjadi di sekitarnya, termasuk kedatangan Yun pada saat itu. Ia menumpu wajahnya dengan kedua tangan dan terus memandangi Hada.
Bayangan pria itu menutupi sebagian tulisan di buku. Hada mengangkat wajahnya dan mendapati Yun sudah berada di hadapannya.
"Suka sama rotinya?" tanya Yun to the poin.
Mengeluarkan roti dan susu di dalam tasnya"Jadi kau yang menaruhnya?"
"Kenapa, gak suka? mau aku belikan makanan lain?"
"Bukan, terima kasih. Tapi aku bisa beli sendiri kalau aku mau"
"Jadi kau akan terima atau tidak?"
"Untuk kali ini aku terima, tapi tidak lain kali. Aku bahkan tidak tau kau"
"Aku Choi Yun Seok, kita akan sering ketemu. Maaf soal tadi, aku tidak akan mengganggu makan siangmu lagi"
"Aku..."
Bel Berbunyi
"Hada...Moon Hada. Aku sudah tau namamu" meninggalkan kelas Hada.
***
Hari ini jam pulang seperti biasa pukul 5 sore. Kali ini tidak ada kelas tambahan. Hanya kelas 2A yang pulang pukul 10 malam dan itu rutin dilaksanakan.
Jieun memakan kimbab sambil berjalan. Hada meremas tali ransel karena teringat Yun yang datang ke kelas ketika istirahat tadi.
Seung Kwan terus menggoda Jieun soal kimbab dan cola di atas mejanya. Ia berkata mungkin itu dari penggemar rahasia Jieun. Dan yang lain menyahut hal yang sama. Hada tidak berkata kalau ia juga dapat, terlebih ia tahu siapa yang memberikan. Bagaimana kalau teman-temannya juga mengolok-olok. Jadi Hada hanya bisa tersenyum dan ikut menggoda Jieun. Untungnya Jieun bukan orang yang gampang tersentuh.
__ADS_1
.ππππ
Aku melihatnya dari jendela dan bersembunyi dibalik dinding ketika menyadari seorang melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan.
Yang mengejutkan lagi Sechan personil Atez. Ibu pasti sudah bertemu dengannya.
"Aa... Cowok imut berambut blonde. Aku sering melihatnya dijalan."
"Zone 4" ucap mereka secara bersamaan. Dan tertawa setelahnya.
"Sechan juga dekat dengannya. Jadi bisa dibilang dia adalah musuh semua murid disekolah."
"Bagaimana denganmu?" tanya Miru. Sebenarnya ia tidak ingin anaknya membenci siapapun, terlebih dengan alasan yang tidak masuk akal seperti sekarang.
"Aku? Tidak lagi" jawab Jisoo
"Bukankah kau ingin menjambak rambutnya?"
"Benar, tapi aku masih ingin berteman dengannya. Dia selalu diam ketika kelas seni. Meskipun guru menegurnya beberapa kali. Ia tidak pernah mau melukis atau bahkan menggerakkan kuas yang ada."
"Bukannya Hada dan Joa juga memiliki hubungan selain wajah nya yang mirip. Hada tidak bisa melukis, sementara Joa pergi ke itali untuk belajar seni."
"Aku tidak pernah memikirkannya. Joa bisa melukis dengan baik, karena itu dia ke Italia"
Akhir-akhir ini seorang menyebarkan berita mengenai Hada pergi ke club malam. Beritanya bahkan sampai ke tangan kepala sekolah.
"Dan Hada kembali tidak memiliki teman" ujar Jisoo. "Aku bahkan berpikir kalau itu bukanlah pertemanan. Kalau melihat pertemanan ibu dengan bibi Crisella dan Farah. Pertemanan mereka sangatlah dangkal" tambah Jisoo.
ππππ
**Beberapa murid berkumpul didepan mading dan terus membicarakan perihal berita yang ditempel. Mereka tidak henti-hentinya berkata kasar dan terus berbisik, bahkan ketika meninggalkan mading.
Hada berpapasan dengan Gunho ketika sampai di sekolah. Bereka berjalan bersama.
.
.
.
"Aku punya dua tiket nonton. Mau pergi denganku!. Malam ini" tanya Gunho, mengeluarkan dua lembar tiket.
"Tapi aku harus..."
"Aku bisa pergi sendiri, kalau kau ada urusan" Gunho kembali memasukkan tiket ditangannya kedalam kantong celana.
"Aku ikut. Aku akan pergi denganmu" ujar Hada.
Gunho tidak bisa menutupi rasa senangnya, begitu juga dengan Hada. "Malam ini..." ucap nya sekali lagi.
"Baik. Aku duluan ke kelas" ujar Hada. Raut wajahnya sudah memerah menahan rasa senang dan bayangan yang terus menghantui pikirannya. 'Hanya nonton. Tidak bisa diartikan sebagai kencan....Hada sadarlah!'.
Hada baru akan pergi. Beberapa siswi-lebih dari lima orang- berjalan mendekat dan mengepung mereka berdua. Dua orang dari mereka tidak segan-segan menghampiri Hada dan langsung menjambak rambut gadis itu. Seseorang diantaranya juga mendorong Hada dan membuatnya hampir terjatuh. Namun Gunho berhasil menahan dan menjauhkan Hada dari siswi-siswi itu. Gunho menarik Hada bersembunyi dibalik tubuhnya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" bentak Gunho.
Seorang diantaranya kesal setelah mendengar ucapan Gunho, sementara yang lainnya terdiam dan tidak berani berbuat lebih.
"Dasar gadis kotor. Cepat keluar dari sekolah ini." ejek salah satu siswi.
"Benar. Wajahmu cantik seperti Joa, tapi kelakuanmu jauh terbelakang. Kau bahkan tidak bisa menirunya."
"Keluarlah!"
"Ayo kita pergi dari sini!" ujar Gunho pada Hada yang terlihat ketakutan. Sekilas bayangan Tn. Moon tergambar jelas dipikirannya. Gambaran yang memperlihatkan ketika Tn. Moon mengusir Hada dari rumah.
"..."
Gunho menggenggam tangan Hada dan menuntunnya ke kelas.
.
.
"Kau tidak perlu memikirkan masalah tadi, setidaknya mereka mengatakan kalau kau cantik" tertawa.
Hada tersenyum, dipaksakan "Tadi, terima kasih"
"Jangan khawatir" mengelus rambut gadis itu "Apapun yang terjadi, aku akan terus bersamamu. Hubungi aku kalau mereka berulah lagi!"
Hada mengangguk dan berjalan ke kelas. Dikelas Seung dan Tae hanya diam dan terkesan tidak ingin bicara dengan Hada. Melihat kecanggungan itu, membuat Hada bahkan tidak berani untuk bertanya.
Tidak lama Rin dan Jieun datang. Rin berusaha mendekati Hada dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, Jieun menghalangi dan menyuruh Rin untuk duduk.
.
.
.
Selama perjalanan Rin beberapa kali berbalik memandangi Hada, namun sebanyak itu juga ia tidak jadi untuk bertannya.
Grub Chat
"Gadis Penggoda"
Foto
#kemarinmalam dengan pria lain
D_Kyp
"Bukannya itu Gunho"
Gain
"YA! tidak bisa dipercaya"
445
Aku akan melabraknya sore ini. kalian ikut!
x
Ya
Gain
Aku ikut
D_Kyp
Tentu
.
.
.
.
Beberapa anak yang tengah sibuk melihat hanphone, berbalik memandangi Hada sinis. Aura kemarahan dan jijik terpancar dari tiap anak.
Seseorang mengetik balasan grub. Ia tersenyum dan meremas handphone di tangannya, kesal. Tak lama pelajaran kedua dimulai dan siswa kembali duduk ditempatnya masing-masing.
555_d
Aku dengar ia ditinggalkan orang tuanya.
Diamon
Siapa? Gadis penggoda? Heol..
Hada mengikuti pelajaran dalam diam. Ia beberapa kali menghembuskan napas panjang, dan mencoba menerima keadaan yang belum kunjung baik meskipun sudah menyelaskan permasalahan yang terjadi selama sesi konseling.
Siswi yang duduk beberapa bangku di depan Hada, terlihat mengeluarkan handphone dari dalam laci dan terus menunduk. Ia juga mengetik dan segera melihat kedepan
Q827
Apa dia menggoda pria kaya untuk bisa sekolah disini?
xhd
Tidak bisa dipercaya.
leo
Kau tidak perlu menghabiskan hidupmu untuk membayar pinjaman pendidikan.
wen
Dia lebih kotor dari kotoran semut yang aku temukan.
rt3
Perumpamaanmu benar-benar hebat bung.
***
Pelajaran kedua berakhir.
Beberapa anak terlihat memasukkan boku kedalam laci dan ketua kelas berkeliling mengumpulkan buku tugas.
Hada membereska buku-bukunya dan meletakkan buku tugasnya ke atas tumpukan buku di tangan ketua kelas. Namun tumpukan buku itu terjatuh dihadapan Hada, membuat gadis itu terkejut.
"Maaf" Ucap ketua kelas.
"Tidak apa."
"Lihatlah dia membungkuk padaku!"Ucapnya ketika Hada tengah mengambil buku yang terjatuh di lantai.
__ADS_1
Mendengar perkataan ketua kelas, membuat perasaannya bercampur aduk. Ia tidak boleh mencari masalah disekolah, atau beasiswa yang ia dapat akan menghilang.
ππππ
"Karena permasalahan itu menyebabkan ia terancam dikeluarkan dari sekolah. Tentu jika beritanya tersebar sampai keluar, akan menyebabkan nama sekolah tercemar. Namun, mereka tetap harus menyelidiki terlebih dahulu atas berita yang ada" Jisoo menjadi sangat emosi.
Dan yang lebih mengejutkan. Pada hari yang sama Hada dipanggil ke kantor bk, Walikota Moon-ayah Joa- datang ke sekolah.
Bukankah itu artinya mereka memiliki hubungan?
"Berhenti berasumsi"
πππ
**Ruang guru
"Duduklah!" pinta guru Do, berdiri menaruh lembaran konsultasi murid kedalam lemari.
Hada duduk dan menunggu guru Do menyampaikan maksud memanggilnya keruangan.
"Aku memanggilmu kesini karena..." meletakkan beberapa lembar foto yang sebelumnya diletakkan di mading. "Apa seseorang memaksamu atau kau memiliki masalah dirumah? dengan orang tuamu, misalnya?"
Hada tidak terlalu terkejut dengan foto itu. Ia lebih tidak senang karena murid lain salah mengerti mengenai keadaan yang sebenarnya terjadi.
"Aku hanya mengantar makanan ketempat itu"
.
.
.
"Bisa kau hubungi orang tuamu untuk datang. Ibu lihat kau tidak menuliskan nomor mereka di berkas pendaftaran"
"Tidak ada. Aku tidak memiliki orang tua. Anda bisa langsung membicarakannya denganku"
"Kau bisa saja dikeluarkan...jika terus begini"
"Tapi, aku benar tidak melakukan apapun diluar batas. Aku hanya mengirimkan pesanan makanan ketempat itu"
"Siapa yang akan percaya padamu?"
'Apa aku harus menghubungi Ibu-Leni-. Tapi....'pikir Hada. Ia benar-benar tidak mau membawa-bawa Leni dalam masalahnya.
Hada mengeluarkan ponsel dari kantong celana dan menekan nomor Leni.
Ibuπ
Hada
"Hallo. Ibu..."
Leni
"Gak biasanya kamu telepon ibu. Kenapa?"
Hada
"Tidak. Ibu bisa ibu datang ke sekolah, sekarang.
Leni
"..." masih mendengarkan ucapan Hada.
Hada
"Tapi kalau tidak bisa tidak masalah"
Mendengar ucapan Hada, guru Do langsung mengambil ponsel gadis itu sebelum sambungan terputus.
"Selamat siang bu. Saya guru Hada. Apa anda bisa datang ke sekolah?." ujar guru Do, membawa ponsel, keluar ruangan. Ia menutup pintu dan kembali berbicara. "Tidak. Bukan masalah serius....Aa, baik. Saya tunggu anda diruangan saya. Terima kasih" menutup telepon.
Selesai berbicara ditelpon, salah seorang guru datang menghampiri dan berbisik ditelinga guru Do. Ia berkata kalau semakin banyak orang tua murid yang komplain dan meminta sekolah bersikap tegas atas apa yang terjadi. Mereka takut Hada membawa hal negatif bagi murid lain. Guru itu juga berkata kalau walikota Moon dalam perjalanan ke sekolah.
"Kenapa? Kenapa walikota bisa sampai datang?" tanya guru Moon bingung. Dan guru itu kembali berbisik kalau ada rumor yang mengatakan kalau walikota Moon adalah ayah dari Hada.
Guru Do kembali masuk ke ruangan dan mengembalikan ponsel milik Hada. "Orang tuamu akan datang. Tapi bukankah kau bilang tidak memiliki orang tua?"
"Ibuku sudah meninggal dua tahun lalu dan Ibu Leni, dia pemilik rumah tempat aku tinggal"
"Ayahmu?"
"Aku tidak memiliki ayah sejak kecil. Bisa ibu tidak bertanya mengenai keluargaku?"
"Aa...ok. Kau bisa tinggal sampai ibumu datang"
.
.
.
Hada terus menunduk menunggu kedatangan Leni. Sementara guru Do menyelesaikan berkas dihadapannya.
Suara langkah orang berlari terdengar dari luar ruangan. Dan kemudian pintu terbuka secara paksa, membuat Hada dan guru Do langsung memandang kearah asal suara.
Tn. Moon terengah-engah dan menunduk, memberi salam. Penampilannya seperti orang biasa pada umumnya. Karena ia langsung datang dari rumah.
"Hallo pak" sapa guru Do, menunduk.
"Saya orang tua Hada.."
"Bukan" Ucap hada, cepat.
Tn. Moon memandang marah kearah Hada dan gadis itu sama kesalnya.
"Apa yang terjadi pada anakku?"
"Aku tidak butuh bantuan anda. Dan aku bukan anakmu"
Tn. Moon reflek menampar purtinya. Hada memegangi pipinya yang mulai terasa sakit. Ia masih memandangi Tn. Moon penuh amarah.
Pintu terbuka. Leni masuk dan melihat Hada yang tengah memegangi sebelah pipinya. Ia berjalan cepat kearah gadis itu dan langsung merangkul gadis itu. "Kenapa? Apa yang kalian lakukan pada anakku?" memeriksa keadaan Hada, menariknya berdiri.
"Ibu. Aku gak apa-apa" tersenyum kearah Leni, agar wanita itu tidak khawatir. "Maaf membuat ibu datang ke sekolah"
"Tidak apa-apa. Ibu senang karena kau menghubungi ku"
"terima kasih"
"tidak"
Guru Do meminta Tn. Moon dan Leni untuk duduk, sementara Hada masih berdiri disamping Leni. Guru Do memperlihatkan foto di meja dan menceritakan apa yang terjadi.
Tn. Moon mendengus kesal mendengar apa yang dilakukan putrinya, sementara Leni menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Leni menggenggam tangan Hada. Ia merasa bersalah, seharusnya ia tidak menyuruh Hada malam itu. "Kau tidak apa-apa?" bisik Leni.
"Aku tidak apa-apa" jawab Hada, membalas genggaman Leni.
.
.
.
"Kami akan menyelesaikan permasalahan ini. Maaf atas kesalahpahaman ini" ujar Guru Do sebelum Hada dan orang tuanya meninggalkan ruangan.
Tn. Moon menutup pintu ruangan.
"Kau bisa pulang. Besok baru kembali ke sekolah" ujar Leni.
"Tidak. Aku masih ada kelas" tersenyum "Ibu pulanglah!"
"Oo...Ibu akan minta Dongha menjemputmu, pulanglah bersamanya"
"Emm. Hati-hati dijalan"
Leni memandang Tn. Moon yang masih berdiri didepan pintu. Ia menghampiri Hada.
"Ayah minta maaf"
Hada menunduk "Sampai jumpa" meninggalkan Tn. Moon seorang diri*.
πππ
Dan hari ini Joa kembali dari Italia.
"Mungkin saja asumsiku benar. Ibu tadi bahkan sempat mengira antara Joa dan Hada. Yang bahkan tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Tapi aku perlu mencari tahunya lebih dalam"
" Yang harus kau lakukan sekarang adalah berteman dengannya" saran Miru. Menggenggam tangan anaknya dan mengusapnya perlahan.
" Kau harus jadi gadis yang baik dan ceria. Bertemanlah dengan siapapun, karena yang terpenting bukan siapa, melainkan tujuan dan dirimu sendiri" memandang kearah putrinya "Kalaupun Hada benar melakukan hal itu, bantu dia untuk bangkit. Kalaupun tidak benar temani dia dan jangan biarkan dia sendiri. Karena mungkin yang saat ini yang ia butuhkan adalah tempat bersandar"
Jisoo memandang aneh kearah ibunya " Ya! Ibu. Aku sedang bercerita untuk novel ku selanjutnya. Kenapa kau menanggapinya dengan serius."
"Dasar anak ini. Seharusnya kau bilang dari awal" memukul bahu Jisoo hingga putrinya itu berteriak kesakitan.
"Sakit" teriak Jisoo "Ayah tolong aku!" pinta Hada.
Juwon yang tengah membaca koran hanya menengok dan kembali melanjutkan membaca.
"Ibu, kau lihat charger ku?" tanya Jiwoo yang melintas.
"Tanya ayahmu. Barusan dia pakai"
"Ayah. Bukannya aku bilang untuk tidak menggunakan barang-barang ku"
"Maaf. Nanti ayah ganti dengan yang baru"
"Awas kalau membohongiku"
πππππExTRA ENDπππππ
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca cerita ini. Semoga harimu menyenangkan. βΊ