DISINI

DISINI
Season 2 : #22


__ADS_3

FLASHBACK





"Oni-san (kaka), kau lihat sepatuku?" teriak Miru yang tengah sibuk mencari dimana sepatu hitam miliknya.





Miru yang memakai seragam sekolah SMA, dengan garis biru hitam dipinggir dan pita merah, begitu cantik hari itu. Rambutnya terurai panjang, saat itu ia belum memotong rambutnya.





Merunduk-mencari sepatu di kolong lemari "Aku tidak menemukannya" teriaknya lagi.





Miru juga membuka pintu kamar sebelah dan terlihat bingung. Mencari.





Kazuto yang sedang duduk di samping, menengok kedalam, memandang Miru "Kemari!"





Miru berjalan-kesal, ia terus menggerutu dan mengayun-ayunkan sebelah tangannya saat berjalan. "Kakak tidak melihatnya?" tanyanya lagi.





"Ini" Kazuto mengangkat sepasang sepatu Miru yang sudah bersih. Sedari tadi Kazuto tengah mengelapi sepatu Miru yang kotor. Penuh dengan tanah.





"Terima Kasih" ucap Miru, meringis- memeluk sepatu yang ia ambil dari tangan Kazuto.





"Lain kali kau bersihkan sendiri" bangkit dari duduk.





"Ok. Aku berangkat"



.



.



.




Miru berjalan-riang menuju sekolah. Beberapa anak yang tinggalnya berdekatan terlihat terburu-buru. Mereka berlari mendahului Miru yang santai berjalan.





"Cepat!. Hari ini Guru Akira kembali" ucap Eiri-chan, teman sekelasnya.





Mendengar ucapan Eiri, Miru langsung berlari menuju sekolah. Berbeda dengan guru lainnya, guru Akira memiliki aturan masuk kelas tersendiri. Dimana siswa harus ada dikelas 10 menit sebelum bel masuk. Dengan begitu, Miru hanya memiliki waktu 5 menit. Jarak antara tempatnya berdiri dan sekolah sekitar +800m.


.



.



Berlari


.


.



.



Miru membungkuk di depan pintu kelas, terengah-engah. Wajah dan badannya juga dibasahi keringat. Untungnya ia tidak sampai lupa mengganti sepatu. Kalau tidak ia harus kembali ke lantai bawah.

__ADS_1




Tapi





Seseorang berdiri di depan pintu kelas. Pria berkulit coklat dengan rambut bergelombang. Ia jauh lebih tinggi dari Miru, sehingga gadis itu harus mendongak untuk bisa melihat wajah pria itu. Akira Sensei.





"Please" ucap Miru pelan, seraya menggerakkan tangannya-meminta pengampunan.





Bagaikan tidak melihat apa yang dilakukan Miru, Akira Sensei tidak segan-segan memukul kepala gadis itu dengan penggaris.





"Aww" rintih Miru "Ayah" ucap Miru spontan dan membuat Akira Sensei kembali memukulnya.





"Berdiri disana!" perintah Akira Sensei-menunjuk.





"Tidak bisakah Ayah mengijinkan aku masuk, sekali ini" bisik Miru, kembali memohon.





Akira Sensei berusaha memukul kepala Miru lagi, namun gadis itu membuat pertahanan dengan kedua tangannya. Terlebih, Akira Sensei tidak mungkin memukulnya untuk kedua kali. Terlepas dari ia yang merupakan ayah kandung Miru. Akira Yamaguchi.





Sebenarnya Ayah Miru orang yang penyayang, terutama kepada anak-anaknya. Tapi lain halnya di sekolah. Ia tetap harus bersikap layaknya seorang guru yang tidak bias pada satu atau dua murid saja.







🌀🌀🌀





FD Cafe



Kazuto memindahkan papan bertuliskan menu ke depan gerbang. Terlalu berat, hingga ia harus mengangkatnya dengan kedua tangan.





Miru mengaduk jus jeruk dihadapannya. Wajahnya cemberut, dengan sebelah tangan menumpu dagu.



.



.



.



"Kenapa?" tanya Kazuto ketika kembali.





"Ayah menyebalkan" jawab Miru.





"Kau berbuat ulah lagi?" Kazuto duduk dihadapan Miru. Ketika tidak ada pelanggan datang.



__ADS_1



Kazuto bekerja di cafe tidak jauh dari rumah. Ia mengerjakan semua sendiri, dan pemilik hanya akan datang pada hari minggu.





Mengacak rambut Miru "Sudah. Hanya akan menyusahkan Ayah jika terus merengek di kelas"





"Berikan aku jus jeruk lagi!" pinta Miru





"Ini yang terakhir. Aku tidak ingin upahku habis karena jus jerukmu"bangkit dari kursi.





"Pelit"





Sesaat, Miru memandang keluar sambil berpikir kalau ia harus membuat perhitungan dengan ayahnya. Seharusnya ia mengatakan kalau akan kembali bekerja. Setidaknya ia harus tahu kalau kondisi ayahnya memang memungkinkan.





"Kak, tidak jadi...aku mau pulang saja" jelas Miru, berjalan pergi.





"Oo...hati-hati"





🌀🌀🌀





Miru berjalan di pinggir jalan, dengan tangan mengayun. Jalan yang menurun, membuat Miru hati-hati ketika melangkah.





Masih kesal



.


.


.



Akira Sensei berjalan kearah ruang tengah dengan sebelah tangan memegang gelas berisi air putih. Langkahnya tiba-tiba memelan dan ia terjatuh.



.


.


.


Gelas berisi air terjatuh dan pecah berserakan dengan air yang membasahi lantai.


.


.


.



Akira Sensei tidak sadarkan diri.






🍂🍂🍂







__ADS_1



__ADS_2