DISINI

DISINI
Sembilan


__ADS_3



Malam semakin larut, serta angin mulai terasa dingin di tubuh Gadis itu. Miru melirik jam di ponselnya dan sadar kalau hampir jam 11 malam. Ia terlalu asyik menyusuri jalan untuk menjernihkan pikirannya.





Memang beberapa kali ia merasa udara dingin disekitar dan semakin sedikit orang yang lalu lalang. Tapi, entah karena ia nyaman dengan keadaan yang ada atau tidak ingin memperdulikan apapun. Termasuk banyak hal yang terus melintas di pikirannya





Karena tidak ingin terlalu malam sampai rumah, Miru langsung berlari menuju pinggir jalan besar untuk mendapatkan taxi. Ia terus melirik jam dan jalan raya. Untungnya taxi tidak lama datang dan bisa segera membawanya pulang.




.



.


.



Ting




Farah


📷


Foto


"Tespack ||"




Crisella


"Ada yang mau jadi ibu kayaknya..."




Miru_chan33


"Selamat ya Far. Udah jalan berapa hari?"




Farah


"Ia nih. Thanks ya calon tante anak gue."




Farah


"Udah mau 2 bulan Mi."




Lxcas


"Selamat untuk kehamilannya".




Farah


"Trims."




Farah


"Yaudah. Gue cuma mau ngabarin itu. Bye"




Farah Chat



Farah


"Mi. Gue denger dari Sella, tuh cewek dateng ke rumah. Beneran?"




Miru_Chan33


"Yap"




Farah


"Trus reaksi lo gimana? gak mungkin lo biasa aja kan?"




Miru_Chan33


"Lo tau sendiri apa yang gue lakuin. Dan gak mungkin juga gue usir dia kan"




Farah


"Ia sih. Cuma kalo gue jadi lo, bakal gue suruh mereka berdua pergi. Seenggaknya gak berduaan di apart"




Miru_Chan


"Far, gue gak mau bahas itu lagi. Oya gue udah mau sampe. Udah dulu ya..."



read



🌜🌜🌜


__ADS_1



"Terima kasih" ucap Miru pada supir taxi seraya memberikan uang. Ia kemudian membuka pintu dan masih berdiri di depan apart.




'Dari mana Mi? Udah telp si kuya buat jemput lo dibawah?'




Miru membaca isi pesan yang dikirimkan Farah padanya. Menghubungi Juwon. Berpikir itu saja membuatnya tidak nyaman.




'Gue udah di lift, sebentar lagi sampe' balas Miru, bohong.




Perlahan ia berjalan memasuki apart. Ketika melewati pintu masuk-tidak jauh dari lift-ia bertemu dengan seorang pria bertubuh tinggi. Sepertinya ia salah satu penghuni apart, tapi Miru tidak pernah bertemu dengannya.




Gadis itu membeku dan mundur beberapa langkah, ketika pria itu juga berjalan ke arah lift. Pria itu terlihat bingung dan beberapa kali melirik sekitar, tapi yang ia lakukan malah membuat Miru semakin ketakutan.




"Hey. Apa...?" tanya pria itu. Ucapannya semakin lama semakin memudar didengar. Kedua tangan Miru dengan erat menggenggam belanjaannya, sampai punggung tangannya terlihat pucat dan memerah.




"Bisa beritahu aku dimana lift yang beroperasi?" tanya pria itu sekali lagi.




"Disana" tunjuk Miru kearah lift barang di sebelah kanan.




"Ah Ok. Thanks"



.


.


.



Miru baru dapat tenang ketika pria itu tidak terlihat. Ia menghembuskan napas panjang dan memberanikan diri menuju lift.




🌚🌚🌚




KLEK



"Dari mana Mi?" tanya Juwon dengan handuk basah di kepala.






"Berdua aja. Ngapain Mi?"




"Gue cape. Gue tidur duluan"




Juwon berjalan ke arah kamarnya dan meletakkan handuk di atas kasur. Sesudah itu pandangannya langsung tertuju ke aras tas belanjaan yang diletakkan di samping lemari.




TOK TOK



KLEK




"Ada apa lagi?" tanya Miru, membuka pintu kamar.




Sebuah tas belanjaan berada tepat di depan pintunya. Juwon sengaja menaruhnya di depan pintu. Tapi kenapa dia tidak memberikannya secara langsung.




Miru mengambil tas belanjaan itu dan kembali menutup pintu.




Gaun-brokat-berwarna baby pink dengan lengan 3/4 dan panjang sedikit dibawah lutut.




'Sebenarnya apa yang dia inginkan?' gumam Miru.




🌀🌀🌀




_Flashback_



Selama film ditayangkan, Juwon beberapa kali melirik kearah Lucas yang terus memperhatikan Miru. 'Pria itu benar-benar tidak bisa menyimpan perasaannya' pikir Juwon.



__ADS_1


'Dan pria yang dimaksud Miru itu Lucas' menggelengkan kepala 'Tapi....'




Sesaat setelahnya,



Jieun menyentuh kedua pipi Juwon dan mengecup bibir pria itu. Namun disaat yang sama Miru melihat. Ia bergegas menuju toilet.




Juwon yang menyadari Miru pergi meninggalkan tempatnya, langsung melepas ciuman Jieun.




Entah kenapa Juwon saat itu menjadi emosi. Alih-alih malu karena dilihat mereka bertiga, Juwon malah marah dengan sikap kekanakan Jieun.




Lucas yang mengira kalau mereka butuh privasi, menawarkan apart nya. Tentu Juwon tidak mengiyakannya, tapi tetap membawa Jieun keluar apart yang disalah artikan Lucas kalau ia setuju.


.



.


.


.


Luar Apart.



"Aku beberapa kali bilang padamu untuk tidak melewati batas" bentak Juwon.




"Gadis itu juga menyukaimu, apa kau senang?"




"Kau tidak perlu ikut campur"




"Aku calon tunanganmu. Tentu aku harus ikut campur ketika ada seseorang yang juga menginginkanmu"




"Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan, kalau aku tahu kau mengusiknya"



.


.


.


.



Juwon berhenti di sebuah butik sepulangnya dari restoran tempat ia bertemu keluarga Jieun.




Ia mencari gaun yang cocok untuk Miru. Meskipun ia terlihat cantik mengenakan gaun yang dipinjamkan Crisella padanya. Tapi, bagaimana bisa Crisella meminjamkan pakaian seminim itu.




"Ketemu" ucap Juwon ketika menemukan gaun yang terlihat cocok. "Saya pilih ini"




"Mau ukuran berapa?" tanya pegawai yang menjaga.




"Ukuran?" bingung.




"S, M atau XL?" tanya pegawai itu lagi.




Juwon menaikan gaun itu hingga sejajar dengan tubuh pegawai toko. Kalau dilihat sekilas, ukuran tubuh mereka hampir sama. Tapi Hada lebih pendek dari pegawai itu.




"Gadis itu seukuran denganmu."




"Aa... Baik, akan saya bungkuskan"


.



.


.



TOK



TOK



KLEK




Juwon kembali masuk ke kamar, mengingat Miru terus bersikap sinis padanya. 'Semoga gadis itu menyukainya'.




"Ada apa lagi?" tanya Miru, membuka pintu kamar.



__ADS_1


🌀🌀🌀



__ADS_2