
"Temani aku menemui Sella!" pinta Miru pada Juwon yang tengah menyesap americano paginya.
"Aku siap-siap. Kamu tunggu sebentar"
Miru mengambil cangkir kopi Juwon yang sudah kosong dan menaruhnya di tempat cuci piring. Mencucinya sebentar dan duduk menunggu Juwon datang.
.
.
Menggandeng tangan Miru, berjalan menuju lift. Beberapa orang sudah mengantri didepan, dan sepertinya mereka berdua harus menunggu sedikit lebih lama.
Genggaman Juwon semakin erat kerika mereka mendekat kearah Miru. Juwon yang khawatir, langsung mengecek keadaan Miru yang terlihat biasa saja, bahkan jauh lebih baik.
"Aku gak apa-apa" ucapnya tanpa suara.
Juwon tersenyum, tapi masih tetap khawatir. Miru menepuk-nepuk tangan Juwon, agar pria itu bisa melepaskan tangannya.
.
.
"Keadaan ku membaik. Jadi kamu gak perlu khawatir lagi"
Menatap Miru, tidak percaya.
"Sungguh. Sejak kembali ke Jepang, keadaanku membaik."
Tersenyum dan menjalankan mobilnya menuju kediaman David.
.
.
"Bagaimana kau bisa membatalkan pertunanganmu dengan Jieun?"tanya Miru selama perjalanan.
Mengambil foto yang ia simpan di mobil dan memberikannya pada Miru. "Bukan membatalkan. Aku sempat bertunangan dengannya.... Lebih tepatnya, membatalkan rencana pernikahan"
"Secepat itu?" ucap Miru terkejut "Ckk... Dan kamu bilang sudah bertunangan" lanjutnya 'Aku bahkan tidak menerima Taka ketika dia menyatakan cinta' gumam Miru menggunakan bahasa Jepang 'Seharusnya aku menerimanya saja. Dan foto ini. Bagaimana aku bisa tahu kalau ini hanya foto?'
"Berhenti bicara dengan bahasamu!" pinta Juwon tidak paham, tapi dari nada bicaranya gadis itu pasti sedang marah. Itu yang di pikir Juwon selama perjalanan.
.
.
Miru masih marah, bahkan sesampainya dirumah David. Ia masih memegang foto yang diberikan Juwon dan berjalan masuk, kesal.
Crisella datang dan memeluk Miru yang masih setengah marah.
__ADS_1
"Oh Dear. Kenapa?" tanya Crisella. Memperhatikan Miru dan Juwon yang berjalan santai dibelakang.
Memberikan foto kepada Crisella. "Tanya aja sama dia".
"Apa maksudnya?"
"Nanti gue jelasin" berlari mengejar Miru yang pergi.
.
.
"Ya" meraih tangan Miru "Aku tidak melakukan apapun padanya"
"Untuk apa aku perduli. Aku mau ke toilet, jadi lepaskan tanganmu!"
"So hee. Dia..."
"Ah... jadi namanya Sohi. Cantik sama kayak orangnya. Sepertinya kau populer dikalangan wanita"
Tersenyum "Cemburu...?"
"Mana mungkin. Sebelum sampai disini aku juga dekat dengan banyak pria, jadi jangan terlalu percaya diri"
Juwon menghalangi Miru yang berusaha meninggalkannya "Siapa pria itu?"
"Untuk apa kamu mau tau?"
Mendengar itu, membuat Mitu tersipu.
"Sohee pacar kakaku jadi kau tidak perlu khawatir. Kami bertiga merencanakan semua itu" bisik Juwon.
"Aku mau bertemu Sela, singkirkan tanganmu"
"Jawab dulu siapa pria itu?"
"Tidak ada. Lepaskan tanganmu!"
🍂🍂🍂
"Mi, gimana gaunnya?" tanya Crisella ketika sudah mengenakan gaun pernikahan. Sangat cantik.
"Bagus" ucap Miru. Bahkan dengan menatapnya saja kau benar-benar sulit mengekspresikan penampilan Crisella yang begitu anggun. Ia juga menggengam bunga ditangannya. Hanya setangkai mawar merah, karena David lupa membelikan untuknya.
"Bener?" Crisella kembali kebelakang dan mengenakan dress malam yang juga akan ia kenakan. Dress peach yang menyatu dengan warna kulit gadis itu.
🍂🍂🍂
"Malam ini, gue temenin lo disini" ujar Miru pada Crisella yang tengah bicara dengan David.
__ADS_1
"Gak boleh" ucap Juwon.
"Jangan" tolak Crisella, sama tidak setujunya.
"Dia perlu istirahat untuk acara besok. Dan aku tidak mau kehadiranmu bisa membuatnya berpikir ulang mengenai pernikahan kami."
"Huuh....Padahal aku masih mau mengobrol dengannya"
"Ayo kita pulang!" ajak Juwon,
"Bye.."
🍂🍂🍂
"Mi, kamu lihat dasiku?" Teriak Juwon dari dalam kamar. Miru yang tengah didapur, bergegas menghampiri Juwon. Ia mematikan kompor dan mengelap kedua tangannya yang masih basah menggunakan celemek.
"Kenapa?" tanya Miru.
"Kamu liat dasiku?" tanya Juwon untuk kedua kalinya.
"Ada di laci mu"
"Aku tidak menemukannya"
"Yang mana?" membuka laci paling atas, dekat lemari baju.
"Warna hitam. Ada bordiran disisinya"
Miru mengeluarkan beberapa dasi yang sudah ia rapihkan. Namun tidak kunjung ketemu. Ia juga membuka kotak kecil yang ada didalamnya.
"Untukmu. Menikahlah denganku!"
"Aku tidak menemukan dasimu" mengambil dasi lain dan mencocokannya dengan Jas yang dikenakan Juwon. "Kamu bisa pake ini"
"Menikahlah denganku!" ucap Juwon lagi, ketika Miru tengah memakaikan dasi pada Juwon.
"Temui aku dulu dengan orang tuamu" mencium bibir Juwon, memegang pundaknya dan memastikan dasi yang ia pasangkan sudah terpasang dengan baik, barulah Miru kembali ke dapur.
"Bagaimana kalau mereka tidak setuju?" tanya Juwon, memastikan pendapat Miru jika mereka harus berhadapan dengan kenyataan terburuk.
"Kita akan menikah diam-diam. Aku dengar pernikahan disana bisa dilakukan tanpa persetujuan orang tua. Kehidupan ku aku yang tentukan" ucapnya dengan percaya diri. Namun benar-benar tidak akan ia lakukan.
"Apa kau benar berani melakukannya?" tanya Juwon menantang. Ia menyendok nasi kedalam mangkuk dan menaruhnya dimeja.
"Kau meragukanku?"
"Setelah pernikahan Crisella, aku akan membawamu menemui mereka"
Miru mengangguk, mengiyakan. Ia menaruh lauk di meja dan makan bersama Juwon.
__ADS_1
🍂🍂🍂