DISINI

DISINI
Season 2 : #28


__ADS_3

Miru memandangi rumah yang ia sewa sebelum berangkat ke pulau Tsukishima. Rumah itu memiliki kenangannya bersama Juwon dan sebentar lagi pria itu akan bertunangan. Tetap berada dirumah ini hanya akan membuatnya lebih berharap dan terbelenggu dalam memori yang membuat hatinya semakin sakit.


Semakin hari rasa cinta itu semakin besar. Mungkin terdengar aneh, tapi benar itu adanya. Tidak peduli pria itu pada akhirnya akan melupakannya.


Melupakan apa yang pernah terjadi ketika bersama, dan menggantinya dengan kenangan baru bersama wanita lain.


.


.


.


Miru tersenyum. Menarik koper meninggalkan rumah.


.


.


.


Tsushima, Nagasaki. Jepang


Berbeda dari Tokyo. Tsushima jauh lebih sepi dan tenang. Untuk sementara Miru tinggal di penginapan, karena tidak tahu betapa lama ia akan tinggal di tempat itu. Terlebih ia harus mencari pekerjaan lain, karena tidak mungkin hanya bertumpu pada royalti yang ia dapat dari bukunya.


.


.


.


Miru keluar dari penginapan. Ia menghirup udara sekitar dan kembali berjalan.


Beberapa toko ia lalui, serta rumah makan bergaya lama di sepanjang jalan. Sungai yang bersih dan beberapa anak kecil yang terus mengobrol sambil jalan.


.


.


.


Langkah Miru terhenti di tempat makan yang letaknya tidak jauh dari pantai. Ketika masuk, kau akan menyadari tidak ada satupun anak muda disana. Dan sepertinya Miru datang ke tempat yang salah.


Sampai akhirnya, ketika ia akan keluar, seorang pria dengan tas hitam ditangan masuk dan menghalangi jalannya.


Miru menunduk-hormat- dan berjalan keluar. Namun langkahnya terhenti ketika pria itu bertanya pada pemilik toko perihal pegawai baru toko yang tidak kunjung datang. Pria itu juga salah mengira kalau Miru adalah pegawai pengganti.


"Bukan aku" ucap Miru, menyangkal.


"Aa... Maaf" ucap pria itu, salah sangka. "Bagaimana kalau aku membantumu sehabis pulang?" tawarnya pada pemilik toko.


"Sudah. Aku masih sanggup mengerjakannya sendiri"


"Apa aku boleh bekerja disini?" Miru-menawarkan diri.


"Besok kau mulai bekerja!" perintah pria itu-Taka.


Memukul kepala pria dihadapannya "Aku bos disini. Datanglah besok pagi!"


"Baik" mengangguk senang "Tapi.... apa anda punya ruangan kosong?" membaca ekspresi wanita yang akan menjadi bosnya-Eiri "Aku akan membayar uang sewa"


"Ada rumah kosong tidak jauh dari sini. Kau bisa tinggal di sana"


"Rumah siapa yang kau maksud?" tanya Eiri


"Rumahku" jawab Taka, tertawa.


Kembali memukul kepala Taka "Sejak kapan rumahmu kosong?"


"Tenang, aku sementara tinggal di dekat sekolah-Taka adalah guru di salah satu sekolah menengah disana-, jadi kau bisa tinggal dirumah ku"


"Terimakasih, tapi tidak perlu"


"Terimalah tawarannya! tidak ada kamar disini, lebih baik kau tinggal di sana"


"Baik, kalau tidak merepotkan"


.


.


.


Jarak antara toko dan rumah Taka hanya berjarak 100 sampai 200 meter. Jauh lebih dekat dibanding penginapan tempat Miru menginap. Tempatnya juga dekat dengan laut. Jadi kau akan sering mendengar suara ombak dan burung yang mencari makan dipinggir pantai.


.


.


.


"Kau sudah lama tinggal disini?" tanya Miru penasaran.


"Satu atau dua tahun yang lalu. Kau sendiri?"


"Beberapa hari yang lalu"


.


.


.


"Selamat datang!" ucap Miru pada pelanggan yang baru saja datang.


🍂🍂🍂


Juwon tiba di Korea lebih lama dari waktu yang ditentukan. Seharusnya ia sudah harus tiba kemarin, namun karena masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan, membuat Juwon menunda kepulangannya.


Bandara hari ini begitu ramai, biasanya hal tersebut terjadi ketika ada idol atau selebriti. Dan sepertinya dugaan Juwon benar, karena beberapa remaja membawa banner dan kamera di lehernya dan terus berteriak menyebutkan sebuah nama.


Juwon mengenakan kacamata hitam dan berjalan menuju pintu keluar.


Sebuah mobil hitam sudah menunggu Juwon.


"Bagaimana kabarmu?" sapa pria yang duduk di kursi supir- Jaemin, kakak Juwon.


"Berhenti bicara, atau aku akan turun"


"Okok"


.


.

__ADS_1


Jaemin melirik kearah Juwon dan kembali memandang jalan "Pertemuannya diadakan malam ini. Jadi aku akan langsung membawamu kerumah."


Tidak ada sanggahan dari Juwon. Ia masih mengenakan kacamata didalam mobil dan sepertinya ia tertidur.


.


.


.


Mobil Jaemin memasuki garasi.


Jaemin membangunkan Juwon yang masih tertidur. Ia menolak untuk bangun.


"Dimana lokasi acaranya?" tanya Juwon, sebelum turun dari mobil.


"Dirumah, mereka takut kau tidak akan datang jika memesan tempat"


"Bukankah ini keinginan mereka. Bagaimana aku bisa menolaknya?"


"Masuklah! biar aku yang membawa koper mu"


.


.


.


"Ibu" seru Juwon. Memeluk ibunya yang tengah duduk seorang diri di taman belakang, dengan secangkir teh ditangannya.


Ny. Kwon menaruh cangkir dan membalas pelukan Juwon.


"Duduklah! temani ibu disini" pintanya


Juwon mengiyakan dan duduk dihadapannya, menggenggam kedua tangan ibunya-lembut.


Tersenyum.


"Gimana kabarmu?"tanya Ny. Kwon


"Kau bisa melihatnya..."


"Benar-benar kacau" celetuk Ny. Kwon, tertawa.


"Aku setuju"


"Tapi jangan harap kau bisa membujukku menggagalkan rencana ayahmu. Aku memang tidak setuju. Tapi sifat ayahmu benar-benar membuatku kesal"


"Emm..." mengangguk setuju.


"Bagaimana dengan gadis itu? kau memberitahunya?"


"Eung... dia sudah tau"


"Sampaikan permintaan maaf ibu padanya, jika kau kembali ke Brooklyn. Ibu merasa bersalah karena sudah salah faham- mengira kalau gadis itu hanya memanfaatkan Juwon untuk membayarkan utangnya- dan sudah membentaknya didepan umum"


"Aku yakin dia tidak membenci ibu"


"Syukur kalau begitu.."


🍂🍂🍂


Beberapa pelayan, dibantu EO mulai menata rumah dan halaman belakang. Ny. Kwon juga berkeliling untuk memeriksa apakah persiapan berjalan dengan baik.


Jaemin yang baru datang, langsung menuju kamar Juwon yang letaknya dilantai atas. Disana Pak Kim-asisten keluarga Im- menunjukkan beberapa setelan yang sekiranya disukai Juwon. Tapi, pria itu terlihat tidak tertarik. Ia hanya duduk di sofa dan terus memainkan ponselnya.


"Baik. Saya pergi"


.


.


.


"Tunanganmu sangat cantik. Lihatlah!" menunjukkan foto Jieun yang dikirimkannya ke Jaemin. "Sayangnya dia menyukaimu".


"Kau bisa menggantikan ku kalau mau"


"Benarkah!"


"Eung"


"Berhenti bercanda."


.


.


.


Pertunangan Juwon dan Jieun hanya dihadiri keluarga, bahkan bukan keluarga besar dan terlihat seperti makan malam pada umumnya. Namun, dengan tata ruang yang begitu cantik.


.


.


Jieun datang bersama kedua orang tuanya. Ia mengenakan gaun panjang berwarna putih dengan belahan di sisi kiri roknya.


Mereka langsung disambut Tn. Im dan yang lain. Juwon masih terlihat acuh, bahkan ketika Jieun tersenyum pada setiap orang.


.


.


.


"Bagaimana sekolah mu?" Tanya Tn. Im pada Jieun yang duduk disamping Juwon.


"Karena ada Juwon, aku tidak terlalu kesulitan disana. Dia sangat membantu."


"Benarkah! bagus kalau begitu."


"Sepertinya mereka sangat cocok, bagaimana kalau kita segera menetapkan tanggal pernikahan" sambung Ibu Jieun, yang membuat Ny. Kwon langsung memandanginya.


tertawa "Haruskah secepat ini?" Ny. Kwon buka suara "Aku tidak ingin mereka menyesalinya" Ny. Kwon dan Tn. Im juga menikah diusia muda, namun berakhir dengan perceraian. Meskipun begitu mereka masih sering bersama, jika hal tersebut ada hubungannya dengan kedua anak mereka.


"Sebaiknya segera mulai acaranya. Besok aku harus kembali. Banyak pekerjaan yang menungguku."


"Urus pengunduran diri mu, dan mulai bekerja diperusahaan ku" Pinta Tn. Im.


"Maaf aku tidak bisa menerima tawaran anda."


"Benar. Nantinya kau juga akan menetap di Korea, setelah menikah dengan Jieun." sambung Ibu Jieun.

__ADS_1


"Aku tidak pernah berpikir kalau akan ada pernikahan. Jadi mohon di pahami."


"Sudah, sekarang kita mulai saja acaranya" pinta Ayah Jieun.


.


.


.


Juwon mengenakan cincin kejari Jieun, begitu sebaliknya.


.


.


.


Setelah itu acara berlangsung damai dan tidak ada gangguan. Mereka terus mengobrol. Sementara Juwon dan Jaemin pergi minum dikamarnya.


.


.


"Siapa nama gadis itu?" tanya Jaemin membuka percakapan.


"Miru"


"Kau mengatakan kalau akan bertunangan?"


"Emm. Dia mengetahuinya"


"Lalu responnya?"


"Dia mengucapkan selamat"


"Itu tandanya, dia tidak memiliki perasaan terhadapmu. Berhenti mengejarnya!"


"Aku yakin dia juga menyukaiku"


.


.


"Besok aku akan mengantarmu ke bandara" tawar Jaemin.


"Tidak perlu, aku berencana tinggal disini untuk sementara waktu. Pinjami aku mobilmu! aku akan kembali ke apartemen"


"Apa yang sebenarnya kau pikiran?"


"Mengakhiri pertunangan ini"


"Aku bisa membantu mengacau tadi, jika ini yang kau inginkan"


"Dan membuat keadaan lebih buruk. "


"Kau benar"


"Buatkan aku janji dengan wanita yang sebelumnya kau kenalkan!"


"Sohee?"


"Emm... Minta dia temui aku di cafe X di Gangnam"


"Ok"


.


.


.


Cafe x, Gangnam


Juwon datang setelah Sohee. Berbeda dari Jieun, Sohee terlihat seperti gadis yang berani dan penuh percaya diri. Ia tampak dewasa dengan make up yang ia kenakan.


Memeluk Sohee dan duduk dihadapannya.


"Tidak bertanya padaku, alasan bertemu denganmu?"


"Jaemin menceritakan semuanya. Aku akan membantumu"


"Akan aku buatkan janji dengan Jaemin sebagai gantinya"


"Tidak perlu. Lakukan saja rencanamu"


"ok. terimakasih " tersenyum kearah Sohee.


Tiba-tiba tangan Sohee mulai menggenggam tangan Juwon dengan kedua tangan, dan mencondongkan tubuhnya kearah Juwon.


Itu karena Jieun datang. Langkahnya terhenti ketika melihat apa yang ada di hadapannya.


"Tersenyumlah!" bisik Sohee.


"Kau sudah datang" ucap Juwon pada Jieun. Dengan tangan masih digenggam Sohee.


Ia pura-pura salah tingkah dan mempersilahkan Jieun duduk disampingnya. Sohee juga tersenyum dan membuat isyarat agar Jieun segera duduk.


"Terima kasih" ucap Jieun.


"Mau pesan apa?" tanya Sohee. "Kau juga belum pesan. Mau sekalian aku pesankan?" tawarnya, kembali menyentuh tangan Juwon.


"Emm" tersenyum mengiyakan.


.


.


.


"Aku sudah bertunangan dengan Juwon" jelas Jieun, ketika ia dan Sohee ingin memesan.


"Aku tahu" menunjukkan e-money di ponselnya kepada kasir.


"Jadi jauhi Juwon!"


"Coba halangi, kalau kau bisa" mengambil pesanan "terimakasih" ucapnya pada pelayan.


"..."


"Dan. Kau hanya tunangan, tidak lebih dari itu. Sadar posisimu"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2