DISINI

DISINI
Season 2 : #23


__ADS_3



"Aku pulang" seru Miru seraya membuka sepatu. Ia menggantinya dengan sandal yang diletakan di rak.





Semakin kedalam, langkahnya semakin cepat. Ia menemukan ayahnya sudah terbaring lemah di lantai.





Air matanya mengalir deras. Ia panik.





Miru segera menelepon ambulan dan Kazuto setelahnya. Masih menangis, gadis itu membawa ayahnya kerumah sakit.



.



.





Sesampainya dirumah sakit, Miru terduduk lemas di ruang tunggu. Kepalanya tertunduk, dengan kedua tangan memegang sisi bangku. Menahan agar dirinya tidak terjatuh.





Wajahnya yang tadinya dibasahi air mata, kini mengering dan yang tersisa hanya kehampaan.



.


.



.



Kazuto yang masih mengenakan celemek cafe, berlari mendekat kearah Miru.





"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Kazuto yang baru datang, sementara Miru hanya diam- tidak memberikan jawaban.





"Bagaimana keadaannya? bicaralah!" tanyanya lagi, kali ini ia berteriak.





Miru bangkit dari duduk dan berjalan menuntun Kazuto kesebuah ruangan. Tubuhnya yang begitu lemah, membuatnya hampir terjatuh ketika akan berdiri.



.


.


.



Ayahnya telah meninggal


.


.


.



Serangan jantung.


.


.



Sebelumnya sempat dirawat dirumah sakit, namun ia bersikeras untuk kembali kerumah.


.


.


.



Terlebih. Ia juga kembali mengajar pagi itu.



.


.


Lebih tepatnya, hari terakhir ia mengajar.


.


.


.



Akira Sensei berdiri di belakang meja, dengan kedua tangan berpegang pada pinggir meja.



__ADS_1



Wajahnya ceria seperti biasanya, tidak ada sedikitpun tanda kalau ia sakit, atau habis sakit.





"Ada yang merindukanku?" tanya Akira Sensei pada beberapa murid yang sudah berada di kelas.





"Tidak" kompak murid di kelas, dan diikuti tertawa setelahnya. Mereka senang bercanda. Dan tentu perkataan itu tidak serius.





"Kalian benar-benar. Pengurangan 50 poin" ujar Akira Sensei-merajuk.





"Eeeii...Jangan kurangi nilai kami, Itu hanya candaan. Gak asik" ujar salah satu murid.





tertawa-puas "Aku ingin berpamitan dengan kalian. Ini hari terakhirku mengajar. Jadi kalian bisa tidur sedikit lebih lama besok"





Ruangan menjadi hening, sebelum akhirnya Miru datang dan membuka pintu belakang kelas-kencang.





Akira Sensei yang menyadari kedatangan Miru, langsung menghampiri dan menarik gadis itu keluar.





Sama seperti biasanya, Miru berusaha meminta pengampunan. Alih-alih membantu anaknya untuk bisa mengikuti pelajaran, ia malah memukul kepala Miru dan membiarkannya menerima konsekuensi seperti murid lain.



.


.


.



Mungkin itu adalah pertanda, atau kebetulan yang sejalan dengan keadaan yang terjadi.







6 bulan kemudian



Kazuto membuka cafe lebih siang dari biasanya. Wajahnya juga terlihat mengantuk dengan luka disekitar bibirnya.





Menaruh papan menu di depan pintu masuk. Juga membalik tulisan 'Close' menjadi 'Open'.





"Selamat datang" sapanya pada dua orang gadis yang berjalan masuk, menghampirinya.





"Ice Americano dan... Lemon tea" pinta salah seorang diantara mereka berdua.





"Tolong bungkus cake ini!" pinta yang lain, menunjuk cake coklat dengan taburan coklat bubuk diatasnya.





"Ice Americano dan Lemon tea nya mau dibungkus sekalian?"





"Tidak perlu"





"Baik"


__ADS_1


.


.


.


"Terima kasih. Silahkan datang kembali!"





"Ya. Terimakasih"





Tring.




Miru membuka pintu cafe sesaat setelah dua gadis itu keluar. Ia membawa selembaran kertas dengan wajah ceria.





Berjalan cepat kearah Kazuto dan langsung memeluknya.





"Ada apa?" tanya Kazuto bingung.





Melepaskan pelukan "Lihatlah!" menunjukan isi selembaran ditangannya. Mengangkatnya sejajar dengan wajah Kazuto, agar kakaknya itu bisa membaca isinya.





"Apa ini? Kau tahu kalau bahasa Inggris ku buruk" jelas Kazuto.





"Aku mendapat beasiswa di Brooklyn" ucapnya senang.





"Kau bahkan tidak punya uang untuk ke sana. Bagaimana dengan uang sekolah?" Kazuto masih tidak percaya. Ia kembali bekerja dan mengabaikan Miru.





"Mereka memberikan beasiswa penuh. Sebagai gantinya aku harus bekerja." menghampiri Kazuto "Kalau tidak begitu bagaimana aku bisa memutuskan pergi ke sana. Tentu aku tidak ingin menyusahkan mu. Dan juga, mereka menanggung tiket keberangkatan. Kakak tidak perlu khawatir"





"Tetap saja aku tidak yakin bisa mengijinkanmu pergi"





Miru memeluk Kazuto dari belakang, namun langsung dilepas ketika pelanggan membuka pintu masuk.





Salah tingkah.





"Tunggu disana!" perintah Kazuto, menunjuk kearah meja yang sangat jarang di duduki pengunjung, karena berada di dalam dan pojok. Orang-orang lebih senang berada didekat jendela, atau setidaknya tidak jauh dari pintu masuk dan tempat memesan.





Miru mengangguk, menyetujui.





"Mau pesan apa?" tanya Kazuto pada pelanggan yang datang.


.



.


.



"Aa...baik. Dimohon menunggu"





__ADS_1


__ADS_2