DISINI

DISINI
Season 2 : #34


__ADS_3

Juwon menuntun Miru masuk ke apartemen nya dan duduk di ruang makan. Ia membuka kulkas, dan baru ingat kalau tidak ada apapun didalamnya. Lalu mengambil minuman dari dalam kantong plastik.


"Minumlah!" ujar Juwon.


"Terimakasih"


Juwon duduk dihadapan Miru. Menunggu gadis itu bicara.


"Kami semua menghawatirkan mu"


"Maaf"


"Tidak apa"


"..."


"Aku sudah tidak ada hubungan dengan Jieun"


"Aku pergi tidak lama setelah kamu meninggalkan Tokyo. Aka rasa aku perlu sendiri."


"Kau tidak perlu menceritakannya jika tidak ingin" jelas Juwon "Melihatmu saja sudah membuatku senang. Jadi, jangan pernah meninggalkan ku lagi"


"..." tertunduk.


🍂🍂🍂


Keesokan harinya sikap Miru jauh lebih baik. Ia tidak murung seperti kemarin. Meskipun aku yakin ia menyimpan banyak hal untuk dibicarakan.


"Aku berangkat!"


"Hati-hati"


"Menurutmu apa aku menghubungi sella sekarang, atau menemuinya langsung?"


"Jangan lakukan apapun. Kehadiranmu di pesta pernikahan akan menjadi hadiah terbaik untuknya"


"Jadi ini caramu agar tidak perlu membelikan hadiah untuk Crisella?"


"Bukan begitu. Aku tidak akan memberikanmu pada orang lain. Kamu harus ingat itu"


"Cepat pergi!"


"Oo... aku berangkat" keluar.


🍂🍂🍂


Juwon tersenyum.


Crisella 📞


Crisella


"Miru sekarang di Brooklyn" ujar Crisella, di telefon.


Juwon


"Dimana dia sekarang?" tanya Juwon, menahan tawa. Padahal jelas-jelas Crisella berbicara padanya dengan nada khawatir sekaligus senang, karena sudah mendapat kabar keberadaan Miru.


Crisella


"Untuk lokasi, David gak bilang dimana pastinya. Tapi dia terlihat mengunjungi apartemen kita dulu

__ADS_1


Juwon


"Aku akan kesana setelah pulang"


Crisella


"Kabarin gue kalo udah sampe disana"


🍂🍂🍂


Sepulangnya dari kantor Juwon langsung ke apartemen. Tentu ia tidak menghubungi Crisella.


Juwon memeluk Miru dari belakang ketika gadis itu tengah duduk diruang tengah. Memperhatikan film yang sedang diputar. Ia menenggelamkan wajahnya dibahu gadis itu dan kedua tangannya dilingkarkan ke tubuh mungilnya.


"Aku merindukanmu. Mencintaimu. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi"


"Bagaimana kalau aku melakukannya?"


"Tidak mungkin, karena kau juga tidak bisa pergi dariku"


"Mana mungkin" melepaskan pelukan Juwon. Tapi pria itu melakukan lagi dan lagi.


"Ponselmu bunyi. Cepet angkat!" pinta Miru.


Juwon merogoh ponselnya yang ada dikantong celana. "Crisella" menunjukan nama yang tertera pada Miru.


"Cepet angkat!"


Crisella 📞


Crisella


"Gimana? Miru bener kesana?"


Juwon


Miru merebut ponsel Juwon.


"Sel....Kangen" ucap Miru.


Crisella yang sadar siapa yang bicara dengannya langsung bersiap-siap menemui Miru. Ia memukul-mukul David yang tengah tidur, untuk segera mengantarkan nya ke tempat Juwon.


"Mi, tunggu gue! Jangan pergi ke mana-mana"


"Em.."


Miru berbalik menghadap Juwon dan menciumnya singkat, sebelum berlari pergi ke kamar. "Kalo sella dateng, bilang aku ada di kamar" mengunci pintu agar Juwon tidak masuk.


Miru tersenyum lega.


🍂🍂🍂


"Mi..." teriak Crisella memenuhi apartemen Juwon. "Dimana dia?" tanya Crisella pada Juwon yang tenga duduk di ruang tengah.


"Kamar"


"Tolong bergeser. Aku butuh tidur. Bangunkan aku ketika Crisella meminta pulang"


Ketika pintu terbuka, Crisella segera memeluk gadis itu. Memukul punggungnya, hingga Miru berteriak kesakitan.


"Aww..sakit"

__ADS_1


"Apa lo tau, kita semua cari lo kemana"


"Maaf"


"Tega lo Mi"


"Maaf banget" memeluk sahabatnya "Tapi sekarang gue udah disini. Lo gak perlu khawatir lagi dan selamat buat pernikahannya"


"Kali ini gue maafin" ujar Crisella memaafkan "Tapi gue gak maafin lo. Bisa-bisanya lo gak kasih kabar kalo udah ketemu Miru"


"Udah. Duduk dulu sel!"


.


.


.


Seperti biasa, Miru bangun lebih pagi dari Juwon. Pria itu sekarang masih tidur di sofa tengah, dengan tv menyala.


Miru menuju ruang tengah untuk mematikan tv dan beranjak ke dapur. Memasak sarapan dan membuat coffee.


Aroma kopi instan tercium hingga membangunkan Juwon. Pria itu bangkit dengan rambut berantakan dan wajah bengkak.


"Cuci muka, setelah itu sarapan. Aku membuatkanmu nasi goreng." Duduk disalah satu bangku.


.


.


.


Sekembalinya dari kamar mandi, Juwon duduk dihadapan Miru.


Mereka saling tersenyum satu sama lain dan kembali menyantap makanan.


Miru tersadar akan sesuatu dan raut wajahnya berubah marah. Ia memandangi Juwon intens dan menunggu pernyataan pria itu.


Juwon bingung melihat Miru. Ia menggenggam tangan gadis itu, berharap mendapatkan jawaban.


Tapi gadis itu tidak kunjung bicara dan membuat keadaan semakin rumit.


"Kenapa?" tanya Juwon.


"Gak kenapa-kenapa. Lepasin tangan ku. Gimana kalo Sella liat"


"Dia gak mungkin kesini"


"Tapi kita..."


"Dan kamu itu kekasihku. Jadi, gak masalah siapapun melihat"


"Aku..." ucapan Miru terhenti ketika Juwon tiba-tiba menciumnya.


"Berhenti. Kau tetap akan menjadi milikku"


"Aishh..."


.


.

__ADS_1


"Setelah ini temani aku menemui Sella"


"Emm"


__ADS_2