DISINI

DISINI
Season 2 : #24


__ADS_3




Setelah cafe lumayan sepi, Kazuto menghampiri meja Miru sambil membawa minuman gadis itu, juga coffee miliknya.





"Minumlah!"





"Terimakasih"





"Bagaimana kau bisa terpikir untuk mengambil beasiswa itu?"





"Aku taruhan dengan Kiri-chan. Kalau aku kalah, aku harus menemaninya mengikuti tes beasiswa ini"





Kazuto memandang Miru, memahami apa yang sedang gadis itu jelaskan.





"Jangan pandangi aku seperti itu!" pinta Miru.





"Kau bisa menolaknya"





"Aku sudah melakukannya. Kalau aku ikut juga tidak akan masuk. Aku sangat yakin dengan itu." jelas Miru "Kau bisa melihatnya sendiri. Aku diterima. Tapi tidak dengan Kiri-chan."





"Kalau begitu tolak saja. Hanya akan menyakiti perasaan Kiri kalau kau menerimanya"





"Kakak benar. Ini hanya akan menyakiti hatinya" ujar Miru tidak semangat. Ia kecewa dengan kenyataan yang ada "Meskipun awalnya aku tidak tertarik. Tapi ada saat dimana aku meyakinkan, kalau hal itu bisa membuatmu bangga."





"Apapun yang kau lakukan. Aku akan mendukungmu. Tapi kau tidak sedang akan pergi ke pulau Tsunosima-salah satu pulau di Jepang. Kau akan pergi ke tempat yang bahkan aku tidak tahu. Tentu aku perlu memikirkannya lagi."





"Kalau kakak benar tidak mengijinkan ku, aku tidak akan menerima beasiswa ini"





Menegang tangan Miru "Akan aku pikiran lagi"





"Emm..."




🌀🌀🌀





Kazuto membuka pintu kamar Miru dan menemukan gadis itu sudah tertidur.





Perlahan ia menutup pintu, kembali kekamar. Setibanya dikamar, ia duduk di lantai kemudian membuka laci kecil yang berada di bagian paling bawah.





Dua lembar buku tabungan yang terlihat kotor, ia ambil dari dalam laci.



__ADS_1



Tidak banyak uang yang ia miliki. Bahkan jika uang di kedua tabungan itu disatukan.


.



.


.



Menaruh buku tabungan di lantai.


.


.



.


Ia kembali mengambil selembar kertas didalamnya.





Lembar perjanjian hutang milik orang tuanya yang belum dibayar. Ia harus segera mencari uang tambahan untuk membayar semua itu. Hanya bekerja di cafe, belum cukup.



.



.


.


Meletakkan kembali buku tabungan dan lembar perjanjian ke dalam laci.




🌀🌀🌀




Sepulangnya dari cafe, Kazuto bertemu dengan peminjam uang-untuk membayar sebagian hutang orang tuanga.





Baru akan masuk ke alamat yang tertera, seorang pria dengan kaus hitam berjalan mendekat kearah Kazuto.





Pria itu merupakan teman lama Kazuto, ketika di sekolah menengah. Pada saat itu, mereka cukup dekat. Hanya saja, sudah tidak berhubungan untuk waktu yang lama.








"Ada urusan. Kau sendiri?"





"Aku kerja disini. Masuklah!"





"Baik"



.


.



.




Setibanya di halaman, mereka berdua hanya berdiri, menunggu sang pemilik rumah datang.





Tidak seperti yang dibayangkan. Pemilik rumah bukan seorang pria bertubuh besar dengan luka diwajahnya. Ia hanya pria biasa, yang mengenakan kaus putih dan celana hitam longgar. Umurnya sekitar awal 40, cukup tampan jika dibandingkan dengan Kazuto. Tapi semakin memandanginya, kau akan sadar, tatapannya begitu tajam, seakan akan menerkammu dalam waktu singkat. Senyumnya juga penuh arti.





"Kemarilah!" pinta pemilik rumah.





"Duduklah!. Aku mau kebelakang" suruh teman Kazoto.





"Baiklah..."


__ADS_1


.


.


.




Kazuto menunjukkan surat perjanjian yang ia bawa. Pemilik rumah yang sudah mengetahui siapa Kazuto dan maksud tujuannya datang, langsung mendorong kertas perjanjian itu menggunakan jari.





"Aku kesini ingin membayar sebagian hutang orang tua ku" ujar Kazuto, memberikan uang yang sebelumnya ia ambil dari tabungan.





Mengambil uang dimeja-menghitungnya "Hanya bisa membayar bunganya saja"





"Akan aku bayar nanti"





"Bagaimana kalau kau membayarnya dengan bekerja disini? Aku yakin kau bisa memukul orang" tertawa melihat Kazuto yang terkejut "Hanya bercanda, bekerjalah disini!"





Kazuto teringat Miru yang menginginkan beasiswa itu. Terlebih, ia bisa melunasi utang keluarganya.





"Aku bersedia"





"Datang pukul 7 malam! Selebihnya pria itu akan mengarahkanmu"





"baik"





🌀🌀🌀





Hari ini sangat cerah. Pikir Kazuto.



.


.


.




"Kau akan pergi ke Brooklyn" ucap Kazuto, yang dianggap Miru adalah sebuah pertanyaan.





Memakan nasi di mangkuk "Tidak. Aku sudah menyerah"





"Aku mengijinkanmu. Bagaimana kau bisa menyerah dalam sehari?"





"Ti...ah. Benarkah?"





Kazuto mengangguk, mengiyakan. Miru yang sedang makan, menghentikan kegiatannya dan langsung memeluk Kazuto.





"Aku harus mengirim dokumen pendukung" ujar Miru, semangat. "Kak terimakasih" mencium pipi Kazuto dan berlari kekamar.





__ADS_1


🍂🍂🍂



__ADS_2