Double W

Double W
Awal Mula


__ADS_3

Kamu harus kuat, kamu tidak boleh lemah, kamu pasti bisa, jika memang kebahagiaan tidak bersamamu, kamu bisa membuat kebahagiaan sendiri, berfikirlah!


Kata mereka dunia ini mempunyai roda Kehidupan, dan semua orang memilikinya, kata mereka roda itu tidak pernah berhenti kadang diatas kadang dibawah.


Tapi yang jadi pertanyaannya, apa aku punya roda kehidupan itu? Memangnya aku punya?.


Dialog itu mengelilingi fikiran Marisha dengan padat. Memegang kepala, menundukkan kepaal sedalam dalamnya, dengan fikiran itu Marishapun serasa dihantui oleh masalah itu, dari dulu ia selalu berfikir untuk menjadi manusia yang lebih baik ke depannya.


"Risha, Risha, Maaaarishaaaa" Menatap Marisha dengan sabar namun penuh ketajaman, memegang tangan Marisha seakan hendak memotongnya, dengan ekspresi Rose, Marishapun terkaget oleh panggilannya.


"Ooo, a.. aa ada apa?" Marisyapun mengangkat kepalanya sehingga hendak terjatuh dari kursinya.


"Huuuuh" Rose mengembuskan nafas dengan legah namun kesal.


"Kebiasaan, ini kebiasaan kamu, apa kamu tidak dengar?, Marisha aku perhatikan akhir akhir ini kamu kurang sehat, kemarin saat di halte bus kamu juga melamun, ada apa? Kalau sakit istirahat saja! Jangan dipaksakan, yaa walau ini hari pertama kita kerja, tapi kesehatankan nomor one " kekhawatiran Rose mengeluguti wajahnya, dengan wajah polosnya Rose bertanya kepada Marisha dan berharap pertanyaannya di jawab dengan baik oleh Risha, tapu nihil.


"Aaaa, tidak ada apa apa Rose, aku cuma kepikiran soal keterlambatanku tadi, padahal ini hari pertama masuk kerja" Dengan nada yang sempurna untuk meyakinkan Rose, ternyata gagal, Rose mengetahui jika Marisha tidak memikirkan itu.


"Kamu memulainya lagi, dengar Sha aku itu bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi, ceritalah! Kamu punya masalah? "Memegang tangan Marisha berherap Marisha memberi tahu. Ternyata nihil bukan jawaban itu yang Rose mau.


"Hahaha kamu apaan sih, tidak Rose. sudah sudah aku mau pergi beli kopi dulu, kamu mau?" Mengangkat alis, tersenyum tipis untuk melengkapi tawarannya itu, seakan akan tidak ada yang terjadi.


Marisha tahu bahwa sekarang Rose sedang memikirkannya, namun Marisha bukan tipe orang yang terbuka, dann Marisha tidak ingin menyusahkan orang lain, itj sifat asli dari Marisha, berkorban demi orang lain.


"Tidak, aku tidak mau kopi, dasar kamu mau menghindari pertanyaanku ya? "Dengan tatap dan ekspresi wajah tajam yang penuh penasaran itu Mariaha pun pergi dan melambaikan tangan walau membelakangi Rose.


"Yaudah aku pergi dulu, beybey"


Marisha menghembuskan nafas karena sudah lepas dari kecurigaan Rose


Memang Marisha membuat kesalahan saat hari pertama kerja dimulai, Marisha sempat ditegur oleh karyawan senior, dan Marisha menerima teguran itu dengan baik.


*Tadi Pagi


"Kenapa kau terlambat dihari pertamamu?" Melipat kedua tangannya didada, melihat Marisha dan menunggu jawaban.


"Maaf kak saya bangun kesiangan" Marisha menundukkan kepala sedalam dalamnya, dengan ekspresi wajah yang tercampur malu beserta kecewa. Marisha bukan tipe wanita yang tidak disiplin, tapi entah kenapa ia terlambat hari ini.


"Lain kali jangan ulangi ya!" maju satu langkah dan mendekatkan bibirnya ke telinga Marisha "Tuan Gllen tidak suka hal seperti ini, kamu harus memperbaikinya, sekali kesalahan terlihat seribu kesalahan, jangam buat masalah jika kamu masih ingin kerja disini, walau itu hal kecil" Meyakinkan bahwa omongannya tidak salah.


"Iya kak maaf saya tidak akan terlambat lagi"


Marisha menunduk meminta maaf dengan penuh kekecewaan.


"Ia ia ini bukan ancaman ya, ini memang demi kebaikanmu jika masih tetap disini" Karyawan iti tersenyum untuk memperlihatkan kepada Marisha bahwa dia tidak marah, cuma mengingatkan saja.


"Terima kasih, kalau begitu saya pergi dulu kak" Marisha pergi meninggalkan karyawan itu dan bergegas ketempatnya.


Marisha apa kamu sudah bodoh? Aaaaiis hari pertama sudah sial saja. Mengacak acak rambut yang sebahu itu sambil berjalan dipenuhi oleh ocehan ocehannya sendiri, mengutuk diri sendiri, memarahi diri sendir karena kesalahannya.


*Ruangan tuan Raga


Tuan Raga menindih kaki kanannya dengan kaki kirinya diatas meja sambil duduk dikursi memegang dokumen yang diberikan oleh sekertaris Yo.


"Apa aset bulan ini sudah beres?"


"Ia Tuan muda"


"Apa sudah ada pemberitahuan dari proyek ini?


"Belum tuan, saya sudah mengeceknya tapi belum ada pemberitahuan tentang proyek itu"


"Kalau begitu kita batalkan proyek ini"


"Kenapa tua? lagi pula ini sangat baik bagi peningkatan perusahaan, dan laporan tentang proyek pertama sudah ditanda tangani oleh pihak kedua" Ujarnya meyakinkan tuan mudanya agar proyek itu tidak batal.


"Baiklah, percepat ini sudah masuk bulan ke tiga, jika akhir bulan ini tidak ada respon darinya, aku batalkan kerja sama ini"


"Baik tuan"


Raga bangun dari duduknya, dan melangkahkan kaki meninggalkan ruangan. Sekermahalnya, diaupun meninggalkan ruangan mengikuti Raga.


Mereka berdua jalan menuju lift pribadi Raga.

__ADS_1


"Yo siapkan mobil aku ingin bertemu seseorang" berbicara dengan suara datar


"Baik tuan"


Raga melangkahkan kakinya keluar dari bibir lift dan berjalan kearah berlawanan dengan pintu utama, membuat sekerteris itu bertanya


"Maaf tuan anda mau kemana?" ya setiap kalu skertaris yo bicara dengan Raga ia dahulukan kata maaf.


Sekertaris Yo adalah pria yang tidak punya rasa belas kasihan jika seseorang melanggar peraturan yang ditetapkan ataupun membuat Raga tidak nyaman, sekertaris Yo sangat setia kepada Raga, sekaligus tangan kanan Raga, sekertaris Yo adalah orang kedua yang sangat berpengaruh di Gllen Group, terkenal dengan kekejamannya sekertaris dijuluki makhluk es, karena kedinginannya dan ketajamannya.


"Duluan saja tunggu di mobil"perintahnya dan meninggalkan Yo


"Baik tuan saya akan menunggu di mobil" membungkukkan badan menandakan hormatnya kepada Raga"Tuan muda mau kemana? "


Ada apa dengan tuan muda, seharuanya dia menyuruhku saja kenaap perlu repot repot kesana sendiri, baik aku tunggu di mobil.


Yo pun menunggu Raga didalam mobil, 15 menit kemudian Raga datang dan sekertaris Yo bergega keluar untuk membukaan pintu mobil untuk Raga.


Yo memghidupkan mobil


"Yo kita ke cafe XX! "


"Baik tuan"


Diperjalanan mood Raga terlihat tidak baik, seakan ia ingin mencengkram baju musuh dan menikamnya


"Tuan kita sudah sampai"Yo turun membukakan pintu untuk Raga.


"Apa dia sudah tiba? " pertanyaan dilontarkan kepada Yo


"Ia tuan, Tuan Aska sudah menunggu di dalam"menjawab pertanyaan Raga dengan nada hormat, Raga pun menganggunkkan kepala dan tersenyum tipis, namun senyuman itu membunuh.


Seperti biasa Raga jalan didepan dan Yo selalu berada di belakang.


"Silahkan tuan" Yo menarik kursi untuk diduduki Raga, Ragapun duduk dengan wajah angkuhnya itu.


Ada sosok yang lemah didepan mata Raga, siapa dia? Ia memulai pembicaraan


"Maaf tuan Raga saya tidak akan mengulanginya lagi, saya janji" disambung dengan rengekan dan permohonan seperti anak kecil yang meminta untuk diberi kesempatan bermain lagi oleh ibunya.


Raga masih terdiam diduduknya, namun terlihat ingin menyerang orang yang berada dideoan matanya.


Raga memegang kera pria itu, menghantam dan menjaruhkannya kelantai sehingga ia terduduk jatuh.


"Kau sudah membuat janji kepadaku, kenapa kau harus berjanji lagi?" mencengkram rambutnya hingga kepalanya terangkat "aku sudah memberimu ke sempatan dengan kepercayaan, tapi ternyata kau sangat bodoh" tawaan kecil Raga keluar darj mulutnya "apa kau lihat aku bodoh?"melepaskan rambutnya dengan perlahan, menyentuh pipinya beberapa kali menandakan ia tidak akan selamat dari kemurkaan Raga, Raga yang tak kenal belas kasih untuk orang penghianat dan tidak jujur.


"Maaf tuan " entah dimana ia menyimpan wajahnya hingga masih bisa mengeluarkan kata maaf.


"Barapa totalnya?" Raga kembali mencengkram rambutnya "apa kau tidak bisa jawab, apa kau tuli, jangan sampai aku mengulang pertanyaanku"


"Hampir 800 jt tuan" nada suara takut, ia tidak berani bergerak dari cengkraman Raga


"Wow hebat, kau sangat hebat, akh bangga padamu, DASAR" Membanting kepalanya ke lantai


"Sudah aku tidak mau melihatmu lagi, jika kau ingin hidup, kau tidak boleh muncul didepan mataku" Raga duduk kembali di kursinya, sedangkan pria itu masih terduduk tunduk tidak berani untuk berdiri


"Baik tuan, terima kasih atas kebaikan tuan, saya akan pergi hari ini juga"


"Yo urus semua aset yang dimilikinya, rumah mobil dan yang lainnya, asingkan ia dengan tangan kosong, agar ia merasakannya" perintahnya kepada sekwrtaris itu


"Maaf tuan Raga, saya mohon jangan ambil semuanya, saya harus bagaimana?"


Plak suara keras pendarat dipipi kiri pria itu, dengan sigap pria itu terlihat kesakitan atas tamparan sekertaris Yo.


"Berani beraninya kau bertanya kepada tuan muda, kau sudah diberi izin hidup, kau tahu itu? " Yo marah karena ia tidak suka jika tuannya merasa tidak nyaman apa lagi sampai marah, apapun dan siaapun yang membuat Raga marah akan ia musnahkan. "Maaf tuan muda, saya tidak bisa menahan diri saya, dia terlalu berani untuk bicara, rasanya saya ingin menjahit mulutnya, dasar tidak tahu malu"


"Urus saja dia, aku masih ingin disini, sudah lama aku tidak ke cafe ini" Raga berbicara namun pandangnya tertuju ke cangkir yang ada ditangannya, memainkan isi cangkir.


"Baik tuan"menunduk memberi hormat"ayo ikut aku"menarik pria itu tanpa lembut, dan ingin menyelesaikan tugasnya dengan cepat, Yo sangat marah kepada pria serakah ini, rasanya Yo ingin menguburnya hidup hidup.


Sekertaris Yo pun hilang dari pandangan Raga. Raga terlihat memikirkan sesuatu dan tersenyum tipis, senyuman yang tajam tercipta dari sudut bibirnya, mendakan nyawa terancam.


"Aduuh maaf tuan saya tidak sengaja"

__ADS_1


Raga pun spontan terbangun dari duduknya, karena meliahat sesuatu tumpah dipakaiannya, Ragapun benar benar kaget ini pertama kalinya ada orang yang mengotori pakaiannya.


"Kau.. Berani beraninya kau" Raga melihat orang itu dan melihat bajunya lagi, memegang baju yang terkena noda cairan kopi


"Maaf tuan saya tidak sengaja, saya akan tanggung jawab tuan" tunduknya malu


"Tanggung jawab?" Huuh menghela nafas "dengan apa? Kau karyawan sini? "


"Ia tuan, saya karyawan sini"


"Panggil atasanmu! "Perintahnya sangat mematikan dengan ekspresi yang ia pasang sekarang


"Tuan saya mohon jangan laporkan saya" Pelayan itu sangat memohon agar tidak dilaporkan, pelayan itu memegang tangan Raga seraya membujuk


Raga yang spontan kaget akan sikapnya "kau beraninya kau"


"Maaf ada apa ini? " karyawan lain datang dan bertanya "ada keributan apa?, maaf tuan ada apa?" bertanya kepada Raga


"Kau tidak lihat?, panggil atasanmu, jika aku samapai mengulangi kalimatku, tamat kau" ancamannya.


"Baik tuan" karyawan itu bergegas memanggil atasannya


"Tuan saya mohon maafkan saya" siapa sih ni? Sombong amat, dasar orang kaya, akukan sudah minta maaf tadi.


Atasannya datang dan disusul karyawan dibelakangnya


"Maaf tuan ada apa? Waah Tuan Raga beruntungnya caffe kami di singgahi oleh tuan Raga"mengulurkan tangan dan berjabatat tanagn dengan Raga. Mati aku, kurasa dia orang yang sangat dihormati sekaligus ditakuti. "Marisha ada apa, Marisha apa kau yang menumpahkan itu ke pakaian tuan Raga?" kaget melihat kejadian ini, atasannya langung memarahi Marisha, Marisha hanya meminta maaf.


"Maaf Tuan Raga, saya teledor kurang memperhatikan kerja karyawan saya"


Oo jadi namanya Marisha, sangat kampungan.


Raga melihat Marisha dengan pandang penasaran, "kayaknya dia benar benar minta maaf, tidak apa apa Pak Anto saya hanya ingin bilang tolong suruh karyawan anda lebih berhati hati! "


Syukurlah aku tidak dipecat, tapi pasti kena omel nih dibelakang pasti, tapi tidak apa yang penting akj masih bekerja disini. Marisha tersenyum tipis karena mengetahui ia aman.


Masalah usai atasannya dan maryawannya pergi termasuk Marisha. Raga kembali duduk dan menelfon Skertaris Yo.


"Ya ada apa tuan, apa anda baik baik saja?"


"Ya aku baik baik saja, cepat ke sini aku sudah mau pergi dari tempat ini! "


"Baik tuan saya akan segera kesana sekaranng"


Telfon mati, Raga hanya duduk dan meminum kopinya kembali, tidak perlu lama dan sekertaris Yo sudah datang.


"Maaf tuan saya terlambat"menundukkan kepala meminta maaf atas keterlambatannya, padahal sekertari Yo datang dengan lumayan cepat, tapi Yo memang tidak suka jika Raga tidak nyaman, "kenapa dengan baju Tuan muda, apa saya harus mengambil baju ganti untuk tuan? "


"Tidak perlu, ayo berangkat" Raga jalan didepan dan seperti biasanya Yo berjalan dibelakang memgikuti Raga, Yo berlari kecil membukakan pintu mobil untuk Raga.


"Silahkan Tuan muda" mengulurkan tangan mempersilahkan Raga masuk ke dalam mobil.


Saat diperjalanan Yo melihat Raga dari kacaspion mobil, memperhatiakan ada apa dengan tuan mudanya. Ada masalah apa hingga bajunya kotor?


"Yo" suara rendah ia lontarkan kepada Yo


"Ia tuan muda"


"Cari tau tentang karyawan yang kerja di Caffe XXXX, yang bernama Marisha! "


"Baik tuan muda saya akan mencari tahu"


Siapa Marisha, kurasa dia yang memgakibatkan baju Tuan muda kotor, dasar karyawan tidak becus.


Yo sendiri mengutuki Marisha dalam diamnya itu karena telah membuat Raga kotor. Siapa kau? Bisa bisanya kau membuat pakaianku menjadi kotor seperti ini,


Tidak akan kulepaskan kau.


Senyum tipisnya terukir dari sudut bibirnya, sekertaris Yo melihat dari kacaspion, Tuan senyum tapi dengan mood yang lumayan baik? Seram , sangat menakutkan, apa wanita yang di sebutkan tuan muda tadi akan mendapatlan hadiah dari tuan muda?


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2